SURABAYAPAGI.COM, Pamekasan – Ketupat menjadi salah satu simbol penting yang tak terpisahkan dari perayaan tujuh hari setelah Hari Raya Idul Fitri, khususnya bagi masyarakat Pamekasan. Biasanya, tradisi ini kerap disebut Lebaran Ketupat.
Tradisi ini seolah menjadi kewajiban budaya, karena rasanya kurang afdol jika tidak menikmati hidangan ketupat pada momen tersebut.
Bagi Juhana, warga Desa Kertagena Laok, Kecamatan Kadur, Kabupaten Pamekasan, membuat ketupat bukan sekadar tradisi, melainkan juga keahlian yang menjadi sumber penghasilan. Setiap menjelang Hari Raya Ketupat, ia bersama keluarganya disibukkan dengan aktivitas menganyam daun lontar menjadi selongsong ketupat.
Dengan keterampilannya sebagai pengrajin, Juhana mampu memproduksi hingga ribuan selongsong ketupat, terutama saat permintaan meningkat.
Pesanan datang dari tetangga hingga relasi yang telah menjadi pelanggan tetap, bahkan sudah dipesan sejak tiga hari sebelum perayaan.
Menurut Juhana, proses pembuatan ketupat membutuhkan keterampilan dan ketelitian agar hasil anyaman rapi serta sesuai kebutuhan. Selain itu, pemilihan bahan juga sangat menentukan kualitas.
"Daun lontar yang digunakan harus yang masih muda, agar hasil ketupat lebih bagus dan tidak mudah rusak," ujarnya, Kamis (26/3/2026).
Ia menambahkan, untuk satu ikat berisi sepuluh selongsong ketupat dijual dengan harga Rp 15.000. Saat ini, pesanan terus berdatangan, baik dari warga sekitar maupun relasinya yang kembali menjual ketupat tersebut.
Sehari-hari, Juhana juga dikenal sebagai pengrajin tikar dari anyaman daun lontar atau daun siwalan. Ia memilih menggunakan daun lontar untuk ketupat karena dinilai lebih awet dan menghasilkan aroma yang lebih harum dibandingkan menggunakan daun janur kuning.
Tradisi Hari Raya Ketupat tidak hanya mempererat kebersamaan masyarakat, tetapi juga menjadi peluang ekonomi bagi warga setempat, seperti yang dirasakan Juhana dan keluarganya setiap tahun.
Editor : Moch Ilham