Reklamasi Diduga Tanpa Kepastian Izin di Pesisir Gresik, Nelayan Kehilangan Ruang Hidup

author M. Aidid Koresponden Gresik

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Dugaan pencaplokan wilayah laut kembali mencuat di pesisir Desa Manyarejo, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik. SP/ MAIDID
Dugaan pencaplokan wilayah laut kembali mencuat di pesisir Desa Manyarejo, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik. SP/ MAIDID

i

SURABAYAPAGI.com, Gresik — Dugaan pencaplokan wilayah laut kembali mencuat di pesisir Desa Manyarejo, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik. Kawasan yang berdekatan dengan smelter PT Freeport Indonesia di dalam Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) itu kini berubah drastis: dari laut produktif menjadi daratan reklamasi.

Hasil penelusuran lapangan serta analisis citra satelit historis menunjukkan bahwa area seluas kurang lebih 59 hektare tersebut sebelumnya merupakan perairan laut aktif. Kini, kawasan itu telah beralih fungsi menjadi daratan yang terindikasi hasil reklamasi.

Lebih jauh, data dari sistem Bhumi milik Kementerian ATR/BPN mengonfirmasi bahwa di atas area tersebut telah terbit Sertifikat Hak Pengelolaan (HPL). Namun, temuan ini justru membuka pertanyaan baru: apakah proses perubahan ruang laut menjadi daratan tersebut telah sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku?

Dalam rezim hukum kelautan Indonesia, setiap aktivitas yang mengubah atau memanfaatkan ruang laut—termasuk reklamasi—wajib memiliki Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (PKKPRL).

Kewajiban tersebut diatur dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 28 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang Laut, Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 jo. UU Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, sera Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. 

Berdasarkan data publik dari Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL), lokasi reklamasi tersebut berada melewati garis laut yang telah ditetapkan pemerintah, yang berarti secara historis merupakan wilayah perairan.

Jika benar kegiatan reklamasi dilakukan tanpa PKKPRL terlebih dahulu, maka terdapat potensi pelanggaran hukum, antara lain:
1. Pelanggaran Administratif Tata Ruang Laut
Tidak memiliki PKKPRL sebelum kegiatan berlangsung sehingga berpotensi melanggar Pasal 18 Permen KP 28/2021;
2. Pelanggaran Pengelolaan Wilayah Pesisir
Reklamasi tanpa izin lokasi dan izin pengelolaan sehingga berpotensi melanggar Pasal 16 dan Pasal 35 UU 27/2007;
3. Pelanggaran Lingkungan Hidup, yakni perubahan ekosistem tanpa kajian lingkungan memadai sehingga berpotensi melanggar Pasal 36 UU 32/2009 (izin lingkungan). 

Dalam kasus tertentu, pelanggaran ini dapat berujung pada sanksi administratif, penghentian kegiatan, hingga pidana apabila terbukti merusak lingkungan atau dilakukan tanpa izin sah.

Dampak paling nyata dari perubahan bentang alam ini dirasakan langsung oleh nelayan setempat.

Anam, nelayan pesisir Manyarejo, mengungkapkan bahwa sebelum reklamasi, wilayah tersebut merupakan salah satu titik tangkap utama.

“Dulu banyak udang dan rajungan. Sehari bisa dapat lebih dari 10 kilogram. Sekarang setengah kilogram saja susah,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Irawan. Ia menilai perubahan kawasan telah memutus mata pencaharian nelayan.

“Kami tidak anti industri. Tapi kami ini nelayan. Mau kerja di kawasan industri juga tidak mudah,” katanya.

Fenomena ini menunjukkan adanya potensi pelanggaran terhadap prinsip keadilan sosial dan keberlanjutan, yang juga menjadi dasar dalam pengelolaan wilayah pesisir menurut undang-undang.

Pihak pengelola kawasan, PT Berkah Kawasan Manyar Sejahtera (BKMS), tidak membantah adanya isu tersebut, namun menyebut masih terjadi perbedaan interpretasi.

Menurut Comdev Manager BKMS, Yudi Darjanto, sejumlah instansi seperti DKP dan PSDKP telah melakukan peninjauan pada Januari 2026.

“Kami sudah menunjukkan dokumen yang kami miliki. Memang ada perbedaan tafsir ruang,” ujarnya.

BKMS menyatakan bahwa izin reklamasi dan Izin Pemanfaatan Ruang (IPR) telah dimiliki
Kawasan masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN), dan sistem perizinan berbasis delineasi kawasan KEK. 

Namun terkait PKKPRL, BKMS mengakui siap menyesuaikan jika memang diwajibkan.
“Jika memang harus memiliki PKKPRL, kami siap menindaklanjuti,” tegas Yudi.

Kasus ini memperlihatkan potensi persoalan klasik dalam pembangunan kawasan industri pesisir, tumpang tindih regulasi darat dan laut.
Di satu sisi, penerbitan HPL oleh ATR/BPN menunjukkan pengakuan atas daratan. Namun di sisi lain, jika asal-usul lahan adalah laut, maka rezim hukum kelautan tetap berlaku dan tidak bisa diabaikan.

Hal ini menimbulkan pertanyaan krusial, 
apakah reklamasi dilakukan sebelum seluruh izin lengkap? Apakah ada pembiaran oleh otoritas terkait? Ataukah terjadi disharmoni kebijakan antar lembaga?

Hingga kini, kejelasan status hukum kawasan tersebut masih menunggu kajian teknis lanjutan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Tanpa kepastian itu, konflik antara kepentingan industri dan ruang hidup nelayan berpotensi terus berlanjut.

Di tengah ambisi pembangunan kawasan industri berskala besar, satu hal menjadi sorotan: siapa yang benar-benar diuntungkan, dan siapa yang harus menanggung dampaknya? did

Berita Terbaru

Rp88,7 Miliar Berputar, Rp10,5 Miliar Belum Kembali: Kesaksian Korban Ungkap Investasi Buah Impor di Surabaya

Rp88,7 Miliar Berputar, Rp10,5 Miliar Belum Kembali: Kesaksian Korban Ungkap Investasi Buah Impor di Surabaya

Senin, 31 Agu 2026 21:29 WIB

Senin, 31 Agu 2026 21:29 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya — Persidangan perkara dugaan penipuan dan penggelapan dengan modus investasi perdagangan buah impor yang menjerat Dimas Helmi Achmad …

Kejar PAD di Tengah Tekanan Fiskal, DPRD Madiun: Jangan Bebani Masyarakat

Kejar PAD di Tengah Tekanan Fiskal, DPRD Madiun: Jangan Bebani Masyarakat

Senin, 31 Agu 2026 20:06 WIB

Senin, 31 Agu 2026 20:06 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Madiun – DPRD Kabupaten Madiun meminta Pemkab Madiun tidak menjadikan masyarakat sebagai tumpuan utama untuk mendongkrak Pendapatan Asli D…

Waduh!! Motor Penonton Konser Jos Jis Fest Hilang, Polres Ponorogo Turun Tangan

Waduh!! Motor Penonton Konser Jos Jis Fest Hilang, Polres Ponorogo Turun Tangan

Senin, 31 Agu 2026 20:03 WIB

Senin, 31 Agu 2026 20:03 WIB

SURABAYA PAGI, Ponorogo-Seorang warga Kabupaten Ponorogo melaporkan kehilangan sepeda motor setelah menghadiri konser JOSJIS Fest 2026 di Stadion Batoro…

Diduga Kurang Konsentrasi, Truk Mitsubishi Tabrak Yembok Sekolahan di Blitar

Diduga Kurang Konsentrasi, Truk Mitsubishi Tabrak Yembok Sekolahan di Blitar

Senin, 31 Agu 2026 18:52 WIB

Senin, 31 Agu 2026 18:52 WIB

SURABAYAPAGI.com, Blitar - Warga sekitar Sekolahan SDN Malirsn 3 Kecamatan Ponggok Kab.Blitar di kejutkan suara benturan keras dari depan SDN Maliran, setelah…

HUT Kemerdekaan RI Ke81 Pemdes Kalipecabean Kecamatan Candi Gelar Pertunjukan Wayang kulit dan Campur Sari

HUT Kemerdekaan RI Ke81 Pemdes Kalipecabean Kecamatan Candi Gelar Pertunjukan Wayang kulit dan Campur Sari

Senin, 31 Agu 2026 17:32 WIB

Senin, 31 Agu 2026 17:32 WIB

SURABAYAPAGI.com, Sidoarjo - Dalam rangka merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81 , Desa Kalipecabean kecamatan Candi menggelar acara…

Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Melalui Pembelajaran

Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Melalui Pembelajaran

Senin, 31 Agu 2026 17:25 WIB

Senin, 31 Agu 2026 17:25 WIB

SURABAYA PAGI, Surabaya- Kemampuan berpikir kritis menjadi salah satu keterampilan penting yang perlu dimiliki siswa untuk menghadapi perubahan zaman. Melalui…