SURABAYAPAGI.com, Malang - Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) baru saja secara resmi mengumumkan pencatatan dua spesies anggrek baru di kawasan Gunung Semeru. Penemuan tersebut menambah kekayaan hayati Indonesia yang kembali memikat dunia internasional. Kedua tanaman langka ini ditemukan di lereng selatan Gunung Semeru pada rentang elevasi sekitar 800 hingga 1.100 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Diketahui, untuk penemuan kedua anggrek tersebut diidentifikasi sebagai Anoectochilus papuanus dan Acanthophippium bicolor, setelah melalui proses penelitian dan verifikasi ilmiah yang panjang dan menyeluruh. Penemuan ini menjadi sangat istimewa karena kedua spesies tersebut merupakan catatan baru bagi keanekaragaman hayati di Pulau Jawa maupun Indonesia.
Koordinator Pengendali Ekosistem Hutan TNBTS Toni Artaka menjelaskan, proses dari penemuan awal hingga pengakuan resmi di dunia sains membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Validasi botani harus melewati tahapan yang ketat sebelum akhirnya dipublikasikan secara luas. Pasalnya, anoectochilus papuanus pertama kali ditemukan pada tahun 2022, disusul oleh penemuan Acanthophippium bicolor pada tahun 2023.
"Sejak ditemukan sampai pengajuan jurnal ilmiah butuh waktu sekitar satu sampai dua tahun, setelah itu proses publikasi ilmiah hampir dua tahun. Penemuan dua jenis anggrek itu merupakan catatan baru untuk Pulau Jawa dan Indonesia," kata Toni Artaka, Senin (25/05/2026).
TNBTS mengonfirmasi bahwa kedua anggrek tersebut relatif sulit ditemukan di habitat alaminya dan tergolong cukup langka. Sehingga memerlukan perhatian khusus dalam hal perlindungan. Berdasarkan status global dari International Union for Conservation of Nature (IUCN), saat ini Acanthophippium bicolor dan Anoectochilus papuanus masih masuk dalam kategori not evaluated atau belum dievaluasi.
Hingga saat ini, kedua spesies yang ditemukan di area Gunung Semeru tersebut juga belum memiliki nama lokal. Pihak TNBTS menyatakan bahwa status konservasi yang lebih spesifik dan resmi untuk ranah domestik masih harus dikonfirmasi dan dikoordinasikan lebih lanjut dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). ml-01/dsy
Editor : Redaksi