SURABAYA PAGI, Jakarta - Tahun ini, Indonesia akan memberangkatkan 221.000 jemaah haji. Salah satu tantangan besarnya, sekitar 170.000 jemaah masuk kategori risiko tinggi (risti). Secara statistik jemaah haji kita yang risti artinya mereka-mereka yang punya penyakit
komorbid ya, kemudian secara fisik ada apa namanya penyakit begitu itu hampir 170.000; sebut Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak kepada awak media di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, kemarin.
Dahnil mengatakan kondisi inilah yang membuat peran petugas haji begitu penting sehingga
membutuhkan kondisi fisik prima dan kedisiplinan tinggi. Data menunjukkan, banyak jemaah haji Indonesia adalah lansia, penyandang disabilitas,
perempuan, dan jemaah dengan penyakit penyerta (komorbid).
Konflik Iran dan Israel-Amerika Serikat di Timur Tengah turut berdampak pada harga minyak
dunia yang menyebabkan kenaikan harga avtur.
Tak Dibebankan ke Jemaah Haji
Menteri Haji dan Umrah RI Mochamad Irfan Yusuf (Gus Irfan) mengatakan harga avtur naik 2-3 kali lipat. Meski demikian, pemerintah memastikan kenaikan biaya tidak akan dibebankan kepada jemaah haji. Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan selisih
biaya akan dibayar menggunakan efisiensi Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).
Mulai tahun ini, pembagian Kartu Nusuk akan dilakukan di asrama haji. Kartu akan dibagikan oleh syarikah di embarkasi. Syarikah yang melayani jemaah haji Indonesia tahun ini adalah Dhuyuf Al Bait dan Rakeen Mashariq Al Mutayizah Company for Pilgrim Service.
Berdasarkan data terbaru, Rakeen Mashariq sudah memegang Kartu Nusuk jemaah Indonesia, sedangkan Kartu Nusuk yang menjadi tanggung jawab Dhuyuf Al Bait masih tertahan di Bea Cukai. Sampai pagi ini yang syarikah dari Duyuf Al-Bayt sudah melaporkan bahwa Kartu Nusuk
sudah tiba di Indonesia Sabtu yang lalu, tapi belum keluar dari Bea Cukai," sebut Menhaj Mochamad Irfan Yusuf. Kemenhaj tengah berupaya membantu syarikah agar masalah Kartu Nusuk segera terselesaikan. n jk/erc/rmc
Editor : Redaksi