SURABAYAPAGI.com, Jombang - Para perajin sarung tenun goyor di Dusun Pengaron, Desa Pengaron, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, kembali menghirup udara segar pasca kebanjiran pesanan di sejumlah rumah produksi setempat di momen Musim Haji 2026. Bahkan, para perajin menenun benang menjadi sarung berkualitas yang siap menjadi oleh-oleh atau souvenir haji.
Berbeda dari hari-hari biasa, suasana di tempat pembuatan sarung tenun goyor miliknya terlihat lebih sibuk lantaran terus menerima pesanan, terutama untuk cenderamata musim haji.
Siti Khoirumah, pemilik usaha sarung tenun goyor, tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya. Meskipun saat musim haji ini tidak seramai puncak permintaan Ramadan lalu, geliat usaha yang telah dirintisnya puluhan tahun ini tetap positif.
"Alhamdulillah, untuk musim haji ini ada peningkatan permintaan, terutama untuk souvenir haji. Memang tidak sebesar saat Lebaran kemarin yang naik sampai 200 persen, tapi ini cukup membantu. Banyak pesanan yang harus kami selesaikan untuk para jemaah yang akan berangkat," ungkap Siti.
Bahkan, dalam satu minggu biasanya ia memproduksi sekitar 15 potong sarung. Harga yang dibanderol pun bervariasi, mulai dari Rp250 ribu per potong untuk jenis tertentu. Selain itu, keistimewaan sarung tenun goyor buatannya yang menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen.
"Harga macam-macam. Kalau warna alam (pewarna alami) lebih mahal, rata-rata di atas Rp200 ribu per meter. Sedangkan kalau kain sintetis sekitar Rp100 ribu per meter," terangnya.
Meskipun permintaan di musim haji tidak seramai bulan suci Ramadan, pemasaran sarung tenun goyor asal Desa Pengaron ini ternyata sudah merambah berbagai daerah, seperti Kalimantan, Banyumas, dan tentu saja dari berbagai pondok pesantren di sekitar Kabupaten Jombang. "Dengan harga mulai Rp250 ribu per potong, kualitas sarung tenun goyor ini sebanding dengan proses pembuatan yang membutuhkan ketelitian tinggi serta keunikan rasa nyaman yang tidak ditemukan pada sarung biasa," tutup Siti. jb-01/dsy
Editor : Redaksi