SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Kini mantan Wakil BGN Irjen (Purn) Sony Sanjaya, mulai menggulirkan keterlibatan sejumlah petinggi di pemerintahan yang minta dapur MBG atau SPPG. Oleh karena itu mantan pejabat Bareskrim Polri ini ajukan Justice collaborator.
Pengacara tersangka Sony, Krisna Murti menyebut puluhan nama-nama besar itu telah tercatat dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) oleh penyidik Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus.
Nama nama petinggi itu sudah disampaikan ke Kejagung. Hingga Kamis (11/6) , beberapa petinggi eksekutif membantah. Sementara petinggi legislatif belum klarifikasi.
Termasuk Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman. Pensiunan Jenderal mantan mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) ini membantah isu punya SPPG usai terbongkarnya kasus dugaan penyimpangan tata kelola program makan bergizi gratis (MBG).
Dudung mengatakan tidak punya dapur MBG sama sekali. Hal tersebut disampaikan Dudung usai menerima audiensi Kepala BGN Nanik Sudaryati Deyang di kantor, Jakarta, Rabu (10/6/2026). Dudung mengklarifikasi punya titik SPPG melalui tersangka dugaan korupsi afiliasi SPPG dan markup pengadaan barang MBG eks Kepala BGN Dadan Hindayana
"Terus satu hal saya ingin menyampaikan klarifikasi, ada berita Pak Dudung katanya punya titik melalui Pak Dadan," kata Dudung.
Dalam bantahannya, Dudung cerita ada sejumlah pondok pesantren yang dekat dirinya menyampaikan terkait penerima manfaat MBG. Penerima manfaat tersebut, kata Dudung, jumlahnya ribuan di pondok pesantren.
"Saya informasikan, jadi beberapa bulan yang lalu, mungkin tujuh, enam bulan yang lalu, saya kan dekat dengan pesantren. Ada pengurus-pengurus pesantren itu ada Abah Junaidi, ada Ustaz Iskandar, itu menyampaikan kepada saya bahwa ada program memang pesantren ya, untuk sebagai sasaran penerima manfaat. Karena di pesantren itu kan ada santrinya empat ribu, ada yang lima ribu, sehingga bisa ditetapkan sebagai titik untuk dapurnya," ujarnya.
Minta Dikenalkan dengan Dadan
Sejumlah pesantren tersebut meminta dikenalkan dengan Dadan melalui Dudung terkait penerima manfaat MBG. Syarat untuk menerima MBG itu sudah disiapkan oleh para pesantren, menurut Dudung.
"Nah, kemudian minta dikenalkan dengan Pak Dadan. Saya sampaikan Pak Dadan ini ada pesantren yang sudah siap ya, sudah ditentukan, dia sudah mulai secara administrasi sudah siap. Nah, realisasinya tidak ada. Akhirnya saya sampaikan Pak Dadan, 'Oh silakan Pak nanti hubungi Pak Arif Nurahman staf saya'," ujar Dudung.
Singkat cerita, Dudung mengatakan pihak BGN dengan pesantren lalu berhubungan untuk MBG. Namun ternyata, pihak pesantren belum menyiapkan infrastruktur, sehingga dapur tersebut urung terealisasi.
"Akhirnya silakanlah mereka berhubungan. Mereka berhubungan saya sudah tidak mengerti apa-apa. Nah, waktu Pak Dadan ke sini beberapa minggu yang lalu, saya tanya Pak Dadan gimana itu? Rupanya sampai sekarang prosesnya pun belum selesai, bangunnya-dapurnya pun belum terbangun. Saya tanya Abah Junaidi dan sebagainya," ucapnya.
Cerita tersebut, kata Dudung dikait-kaitkan dengan isu bahwa dirinya punya dapur MBG atau SPPG. Dudung tegas membantah kabar dirinya punya SPPG usai kasus korupsi di BGN ditangani Kejagung.
"Cuma karena saya yang minta tolong kepada Pak Dadan itulah yang kemudian akhirnya bunyi seakan-akan Pak Dudung punya dapur. Kalau Pak Dudung punya dapur, silakan cek, saya kasih hadiah nanti. Jadi nggak ada sama sekali saya punya dapur ya," imbuhnya.
Penjelasan Partai Demokrat
Partai Demokrat buka suara mengenai isu kedekatannya dengan Sony Sonjaya. Demokrat menegaskan Ketua Umum Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) tidak memiliki keterkaitan dengan Sony Sonjaya mengenai SPPG ataupun program BGN lainnya.
Hal ini disampaikan Kepala Badan Komunikasi Strategis Partai Demokrat Herzaky Mahendra Putra. Ia menegaskan AHY tidak mengenal Sony Sanjaya.
Selain itu, Herzaky juga buka suara mengenai pemberitaan yang mencantumkan frasa '2 Orang Kolonel usulan AHY'. Sekali lagi, dia menegaskan itu adalah tuduhan yang tidak berdasarkan fakta.
"Dalam postingan tersebut tidak dijelaskan siapa yang dimaksud dengan frasa 'AHY' maupun siapa '2 Orang Kolonel' yang dimaksud. Namun, apabila yang dimaksud adalah Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono, maka Partai Demokrat menegaskan bahwa pengaitan tersebut tidak memiliki dasar fakta apapun," ucapnya.
"Karena itu, frasa '2 orang Kolonel usulan AHY', jika yang dimaksud menyangkut Agus Harimurti Yudhoyono, maka hal tersebut dapat dipastikan sebagai fitnah dan sama sekali tidak mengandung kebenaran," sambungnya.
Elza, Isyaratkan Nama Nanik
Dugaan keterlibatan Nanik disampaikan kuasa hukum Sony Sonjaya, Elza Syarief, menjawab pertanyaan apakah kliennya akan menjelaskan peran Nanik kepada penyidik.
Elza belum bersedia mengungkapkan secara rinci, namun dia mengisyaratkan nama Nanik sudah masuk dalam pembahasan kasus yang sedang ditangani Kejaksaan Agung.
Dia juga menyebut, indikasi dugaan keterlibatan Nanik melalui surat yang diunggah oleh Sony di akun Instagram pribadinya pada Rabu 3 Juni atau sesaat setelah ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejagung.
Adapun dalam suratnya, Sony memberi selamat kepada Nanik sekaligus berterima kasih atas hadiah indah yang telah diberikan kepadanya.
Pihak kuasa hukum Sony juga menyebut bahwa pesan dan nama Nanik S. Deyang, mulai disinggung dalam konteks isu daftar nama yang beredar seputar kasus korupsi di lembaga tersebut.
Saat dilantik di Istana Negara dan dicecar oleh wartawan mengenai maksud "hadiah" yang diberikan kepada Sony, Nanik memilih bungkam dan langsung masuk ke dalam mobil dinasnya.
Dalam pesannya, Sony juga mengucapkan terima kasih kepada Nanik karena telah memberikan "hadiah yang indah" untuknya. Namun, baik Sony maupun pihak pengacaranya belum menjelaskan secara detail apa maksud dari hadiah tersebut
Kepala BGN Nanik S Deyang memilih bungkam saat ditanya mengenai maksud “hadiah” yang diberikan kepada eks Wakil Kepala BGN, Sony Sonjaya usai pelantikan di Istana Negara, Jakarta, Senin, 8 Juni 2026.
“Ibu hadiah terindahnya apa bu? Ibu spill dong hadiahnya? Ibu hadiahnya apa Bu?,” teriak wartawan saat Nanik buru-buru masuk ke mobil dan menutup pintu, lalu meninggalkan lokasi tanpa memberikan jawaban. n erc, jk, rmc
Editor : Redaksi