SURABAYAPAGI.com, Malang - Belakangan ini, sejumlah peternak telur puyuh di Bumi Kanjuruhan, Malang meringis melihat harga komoditas tersebut merosot hingga Rp 18.000 per kilogram. Padahal normalnya menembus Rp 25.000 sampai Rp 30.000 per kilogram.
Kejadian tersebut itulah yang dirasakan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Jaya Asri Jedong yang telah membudidayakan puyuh sejak November 2025 lalu, kini mengelola 10.500 ekor. Dengan populasi tersebut, BUMDes menghasilkan rata-rata 75 kilogram telur per hari.
“Padahal biaya operasional tinggi. Dalam satu hari kira-kira butuh Rp 2 juta. Untuk pakan Rp 1,8 juta, tenaga kerja Rp 150 ribu, dan biaya lain-lain Rp 50 ribu,” jelas Direktur BUMDes Jaya Asri Jedong Saifut, Senin (13/07/2026).
Sementara itu, saat awal-awal harga anjlok, pihaknya sempat mencoba mengganti pakan yang lebih murah. Namun hasilnya menjadi tidak maksimal. Bahkan dalam satu hari bisa hanya menghasilkan 20 kilogram telur.
Imbas anjloknya harga, pihaknya mengalami kerugian sekitar Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu per hari. Dalam tiga bulan, dia sudah menomboki sekitar Rp 12 juta. Informasi yang di dengar dari para pedagang, anjloknya harga telur karena permintaan pasar menurun. Utamanya setelah Hari Raya Idul Fitri.
“Untuk menutupi kerugian tersebut, kami akan menjual hasil budidaya lele. Harga lele di pasar masih stabil, sekitar Rp 20.000 per kilogram. Namun bisa lebih tinggi jika ukuran lele besar, misalnya satu kilogram isi satu ekor,” kata Saifut.
Selain faktor harga, dia juga menyebut kendala teknis lain di lapangan. Utamanya faktor cuaca. Suhu dingin akhir-akhir ini juga diyakini mempengaruhi produktivitas puyuh. Namun, dia melanjutkan, pemeliharaan burung puyuh sebenarnya sederhana. Asalkan rutin diberi makan pagi dan malam, dapat berproduksi maksimal. ml-04/dsy
Editor : Redaksi