SURABAYAPAGI.com, Magetan - Musim kemarau menjadi momentum yang membuat para petani tomat di Magetan meringis. Padahal di musim panen kali ini komoditas tersebut mengalami peningkatan produksi pada panen tahun ini. Namun, harga tomat di tingkat petani justru jatuh, hingga tembus sekitar Rp 1.500 per kilogram dalam sebulan terakhir.
Ahmadi salah satu petani di Desa Buluharjo, Kecamatan Plaosan, mengaku hanya bisa menjual hasil panen dengan harga tersebut. Padahal harga tomat sebelumnya masih mencapai Rp 8.000 hingga Rp 10.000 per kilogram. "Harga tomat sebulan terakhir jatuh di tingkat petani hanya sekitar Rp 1.500 per kilogram," ujarnya, Rabu (12/08/2026).
Dengan harga seperti itu menurut Ahmadi petani menanggung kerugian. Sebab, harga panen tidak mampu menutup biaya operasional. Pasalnya, hasil penjualan tomat menurutnya hanya mampu untuk bertahan. Petani baru bisa merasakan keuntungan jika harga tomat mencapai sedikitnya Rp 2.500 per kilogram.
"Kalau dikatakan untung ya belum. Masih untuk memutar modal. Harga standar kalau sudah Rp 2.500 per kilogram, petani sudah bisa untung. Kalau mengharapkan harga yang tinggi-tinggi memang susah," imbuhnya Yudi Petani tomat di Kecamatan Plaosan.
Lebih lanjut, menurutnya penyebab anjloknya harga tomat di Magetan, disebabkan pasokan tomat dari daerah lain juga masuk ke pasar yang sama. Sehingga, persediaan tomat pun melimpah. Sehingga, mereka khawatir harga yang terus turun akan menurunkan minat petani untuk kembali menanam tomat pada musim berikutnya.
Oleh karenanya, para petani tomat di Magetan berharap pemerintah memberikan perhatian terhadap tata niaga dan distribusi tomat sehingga harga di tingkat petani tidak jatuh terlalu rendah. “Di beberapa daerah lain juga sedang panen. Sebagian pedagang juga memasok kesini jadi barang melimpah,” katanya. mg-01/dsy
Editor : Redaksi