SURABAYAPAGI.com – DENGAN HORMAT, saya menulis esai kebudayaan untuk membahas fenomena sosial yang terjadi di Polda Jatim, terkait interaksi saya sebagai manusia berbudaya di tengah masyarakat Surabaya. Dalam pandangan saya, orang yang berbudaya bukan hanya yang tahu seni atau adat, tetapi mereka yang memakai akal dan rasa untuk menghargai hidup.
Pengalaman saya mengadu ke semua pejabat di Polda Jatim, terutama Direskrimum dan Propam serta Wassidik Polda Jatim tak ada tanggapan. Ini diduga ada hoping intervensi.
Sebagai teman hoping saya tak silau dengan permainan ini. Sebagai jurnalis yang sudah banyak “makan asam garam”, lama malang melintang di dunia jurnalistik, menghadapi berbagai pahit-getir serta dinamika profesi lapangan, berjuang mencari keadilan dengan berjihad, becik ketitik, olo ketoro hingga adagium tidak ada kejahatan sempurna.
Saya ingat ungkapan “di atas langit masih ada langit” sebuah peribahasa untuk mengingatkan kita agar tidak sombong.
Saya tahu kekuatan pemilik modal zalim. Ini tulisan Astalogi pertama saya untuk bela anak saya yang aqul yaqin bukan penipu. Tak ada bukti. Tapi ada oknum aparat ngotot. Diduga berteman dengan orang berduit dari Surabaya.
Semangat saya yang berjuang demi keadilan dan kebenaran bermodal rasa cinta pada kemanusiaan, hati nurani yang jujur, dan keberanian melawan rasa takut. Dua bulan ini api perjuangan saya tidak mudah padam meski jalan yang saya tempuh sangat berat dan penuh rintangan.
Melaporkan penyidik Direskrimum ke Kapolda, tak ada tanggapan. Saya tidak berputus asa. Saya merasakan perhopingan. Padahal aduan saya ada bukti penanganan perkara anak saya dirasa tidak profesional. Kini saatnya saya lengkapi berjuang mencari keadilan dengan menulis esai kebudayaan.
Ya Menulis esai kebudayaan adalah cara sunyi untuk melawan ketidakadilan. Lewat pena, sebagai penulis berpengalaman 45 tahun saya membedah akar masalah sosial, membongkar ketimpangan kuasa, dan menyuarakan suara kaum tertindas menggunakan, bahasa, simbol, serta nilai kemanusiaan yang hidup di tengah masyarakat.
(Hormat saya, pensiunan wartawan Lansia kini berusia 70 Tahun. (Dr.H.Tatang Istiawan)
Editor : Redaksi