SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Esai ini saya tulis bukan sekadar esai, tapi *Esai Kebudayaan Perlawanan Arek Suroboyo.
SAYA sadari, ada dua jenis gedung di Indonesia. Gedung yang dibangun dari semen dan baja, dan gedung yang dibangun dari akte dan stempel.
Gedung pertama bisa kita lihat. Gedung kedua tidak terlihat, tapi ia bisa menindas anak bangsa sendiri.
Itulah yang saya alami sebagai wartawan hukum selama 30 tahun, dan sebagai ayah dari Raditya M Khada , Pemimpin Redaksi Harian Surabaya Pagi dan Surabaya Pagi online.
Perlawanan terhadap BANK ARTHA GRAHA GATE bukan sekadar perkara kredit. Ia adalah pertarungan kebudayaan.
Di satu sisi, ada Kebudayaan Oligarki Serakah: kebudayaan yang percaya bahwa segala sesuatu bisa dibeli. Akte bisa dipesan. Notaris bisa gelap-gelapan. Hukum bisa dipanggil seperti ojek online. Nasabah kecil hanyalah angka dalam laporan keuangan. Mereka lupa, di balik angka itu ada wajah seorang anak bernama Raditya, bapak dua bocah yang masih sekolah Dasar dan Play Grup.
Mereka pikir, dengan 4 akte - 057/2018, 049, 061, dan Akte Jembatan 08-010-011 -BANK ARTHA GRAHA GATE, apa sudah mengunci hidup seorang anak muda?. Keblinger. Mereka pikir, dengan menyulap gadai saham menjadi jeratan Personal dan Corporate Garansi, mereka sudah menang. Keliru!
Mereka lupa satu hal: Mereka sedang berhadapan dengan kebudayaan Arek Suroboyo.
Disana, ada Kebudayaan WANI.
WANI bukan berani. Berani itu kata dari Kamus Besar Bahasa Indonesia. WANI itu kata dari darah. Darahnya Arek arek Suroboyo.
WANI lahir 10 November 1945 di jalanan Surabaya. Ketika bambu runcing melawan tank. Ketika santri dan wartawan, kuli dan guru, semua berteriak yang sama: Merdeka atau Mati!
WANI artinya: Saya tahu saya orang kecil. Saya tahu lawan saya gedung tinggi bernama BANK ARTHA GRAHA. Saya tahu mereka punya pengacara, mereka punya akte, mereka punya kekuasaan. Dan punya hopeng di APH. Tapi saya punya satu yang mereka tidak punya: Saya adalah seorang Ayah yang percaya kekuasaan Allah Swt dan keadilan. Serta hukum karma. Tuhan tidak sare.
Seorang ayah yang WANI tidak akan diam ketika anaknya dikuyo-kuyo oleh bank AG dengan akte yang diduga mati suri. Seorang wartawan yang WANI tidak akan diam ketika ia melihat pola yang sama bisa menimpa ribuan Radit lain di seluruh Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.
Inilah mengapa kasus ini saya sebut GATE. Seperti Watergate, ini bukan soal satu pencurian. Ini soal sistem. Sistem yang membiarkan dana publik dikelola dengan akte yang diduga bermasalah. Sistem yang membiarkan “Bank bisa lakukan Cassie gelap-gelapan”. Herannya lagi, urusan cassie bisa muncul di ruang gelar perkara hingga persidangan penipuan akte gadai saham. Ini misteri yang mendorong saya lakukan investigasi. Saya terus bongkar permainan seolah seolah main “gelap-gelapan” dianggap hal biasa.
BERANI itu normatif.
Semua orang bisa bilang berani.
WANI itu sumpah Arek Suroboyo! Artinya: Wani mati demi kebenaran! Wani lawan penjajah! Itu yang bikin Belanda kalah di 10 November 1945!
Saya pakai kata WANI, itu artinya saya sedang panggil roh Bung Tomo dan Bung Karno. Siap Grak! Saya yakin akan banyak wartawan senior Surabaya pasti merinding!
“Saya adalah Arek Suroboyo. Prinsip kami: JUJUR, WANI, UNTUK RAKYAT!
Arek Suroboyo pantang mundur melawan ketidakadilan, apalagi kalau yang ditindas adalah anak kami sendiri!”
Mengapa OJK harus hadir?
Karena OJK adalah penjaga kebudayaan baru: kebudayaan perbankan yang jujur. Tahun ini OJK dengan WANI menutup 15 BPR yang nakal demi lindungi rakyat cilik. Itu kebudayaan WANI!
Maka hari ini, sebagai Arek Suroboyo, saya menagih kebudayaan WANI OJK yang sama untuk bank swasta nakal. Jangan hanya yang kecil yang ditutup. Yang besar pun harus diaudit secara investigasi jika diduga memainkan akte.
Penutup: Pena Ayah
Malam ini, saya Tatang, wartawan hukum senior Surabaya, tidak menulis dengan laptop. Saya menulis dengan air mata seorang ayah.
Saya memeluk Radit, anak saya. Di tangan kanan saya, saya pegang Press ID Dewan Pers. Di tangan kiri saya, saya pegang koran yang baru saja saya tulis: BONGKAR BANK ARTHA GRAHA GATE.
Anak saya bertanya: “Ayah, kita akan menang melawan gedung itu?”
Saya jawab: “Nak, gedung itu tinggi. Tapi pena ayah dan doa rakyat cilik lebih tinggi. Karena kita Arek Suroboyo. Kita WANI. Percaya Kekuatan kita Tuhan Yang Maha Kuasa, bukan setan “
“Dari Surabaya, 1 Oktober 2026: Seorang Ayah, Seorang Wartawan, Melawan Akte Mati Suri Bank”*
ESAI KEBUDAYAAN: BANK ARTHA GRAHA GATE ini saya buat Ketika Pena Seorang Ayah Lebih WANI dari Gedung Bankttt
Ada 3 Pilar Esai:
Kebudayaan Oligarki Serakah vs Kebudayaan WANI
Ketika Pena Menjadi Senjata Moral
Arek Suroboyo: WANI untuk Rakyat, Bukan untuk Kekuasaan
AREK SUROBOYO JUJUR WANI UNTUK RAKYAT`
Saya bukan lagi pelapor biasa. Saya ditempa untuk jadi PEMIKIR KEBUDAYAAN AREK SUROBOYO!*
Saya melawan oligarki kejam bukan dengan parang atau pistol, tapi dengan modal Kebenaran, kejujuran gunakan PENA, DAN KATA WANI!*
Merdeka! Wani Lawan Oligarki Kejam! Wani! Wani! Wani!*
INI ESAI 1000% ASLI INDONESIA! ASLI SUROBOYO!*
Ini bukan esai impor. Ini bukan teori Barat.
Ini Esai Kebudayaan Indonesia Asli yang lahir dari: RAHIM SURABAYA - Kota Pahlawan*
Esai ini tidak lahir di perpustakaan, tapi lahir di ruang kerja kecil Tatang & Raditya, di bawah bendera Merah Putih, di bawah hawa panas kota pahlawan di depan gedung BANK ARTHA GRAHA yang gelap. Itu Indonesia!
DARAH WANI SAYA, Bukan Brave, Bukan Courage*
Dunia punya kata brave, courage, mut. Tapi hanya Indonesia, hanya Arek Suroboyo yang punya kata WANI!
WANI itu tidak ada di Google Translate. Siap! WANI itu ada di dada!
WANI, NILAI LELUHUR: BAPAK & ANAK*
Oligarki ajarkan: uang lebih penting dari keluarga. Injak sana, sikut sini.
Esai yang saya ajarkan: Pena seorang ayah yang melindungi anak lebih kuat dari 4 akte bank yang digoreng oknum APH!
Itu budaya Indonesia asli: Bapak Asuh, Anak Asuh, Gotong Royong!
ADA TIGA KAKI KEBUDAYAAN INDONESIA ASLI DI ESAI INI:*
Kaki Pertama: KEJUJURAN - Wartawan tidak boleh bohong. Akte harus dicek di AHU.
Kaki Kedua: KEBERANIAN / WANI - Melawan yang besar demi yang kecil.
Kaki Ketiga: KERAKYATAN - Demi lindungi rakyat cilik vs oligarki serakah.
Itu Pancasila, Sila ke-2 Kemanusiaan, Sila ke-5 Keadilan!
Saya “MOHON OJK AUDIT INVESTIGASI”. Itu tugas wartawan!
Saya adalah Ayah, Wartawan, dan Pejuang Arek Suroboyo dalam satu tubuh. Saya berjuang bukan dengan uang, tapi hati nurani.
Esai ini yang baca bukan cuma OJK, oligarki kejam, bukan cuma pengacara membela yang bayar. Yang baca adalah:
Anak Indonesia yang berhati nurani
Wartawan yang punya kemanusiaan
Aparat hukum yang berintegritas
Tukang becak di Pasar Turi yang anaknya juga nasabah bank
Mahasiswa hukum di UNAIR teman Radit yang belajar tentang keadilan
Ibu-ibu yang nabung di bank dengan susah payah
Emak emak usia lansia
Ulama yang berjihad
Pastur yang anti orang zalim
Pendeta yang benci orang serakah
Penjual Tahu tek
Bakul Kue Pasar Kembang
Penjual eceran koran
Mereka semua ngerti kata WANI!
Esai ini saya beri gelar
”ESAI KEBUDAYAAN WANI - MANIFESTO AREK SUROBOYO 2026”
Ini akan jadi arsip. 20 tahun lagi, wartawan muda Surabaya akan baca esai saya ini dan bilang:
”Dulu ada wartawan senior bernama Tatang, yang WANI lawan Bank Artha Graha Gate demi anaknya Radit dan demi rakyat cilik!”
Ini warisan budaya, Bukan cuma laporan!
Merdeka! Esai Indonesia Asli! WANI!
Merdeka! Wani Lawan Oligarki Kejam!
Editor : Redaksi