Muktamar NU 2026 Masuk Babak Krusial, Tiga Tokoh Soroti Polemik AHWA dan Voting

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news

SurabayaPagi, Jombang - Mekanisme pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026-2031 memasuki babak baru.

Para muktamirin kini melakukan voting untuk menentukan mekanisme pemilihan ketua umum, apakah melalui Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) atau pemilihan langsung melalui voting.

Perdebatan mengenai mekanisme tersebut mengemuka dalam live report pemilihan AHWA, Rais Aam, dan Ketua Umum PBNU dalam program Mimbar Muktamar NU, yang digelar Suluh Nahdliyin bekerja sama dengan Gerakan Nahdliyin Bersatu dan Padasuka TV di Pondok Pesantren Al Maliki 2 Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Sabtu (29/8/2026).

Aktivis muda NU, Abdul Waidl, menilai perdebatan AHWA dan voting saat ini seolah menempatkan dua mekanisme tersebut dalam posisi yang berhadap-hadapan.

“Mekanisme sekarang seolah berhadap-hadapan, antara dipilih AHWA atau divoting. Dan ini berbeda dengan kekhasan kita, yaitu mengedepankan musyawarah mufakat,” ujar Abdul Waidl.

Menurut dia, jangan sampai voting justru dipandang sebagai segala-galanya dalam menentukan kepemimpinan NU.

Ia mengingatkan, apabila proses pemilihan terlalu bertumpu pada pertarungan suara, terdapat risiko organisasi dan jamaah justru tersandera oleh figur yang terpilih.

“Seolah voting itu segala-galanya, karena itu akan dibela sekuat mungkin. Akhirnya umat ini akan tersandera oleh ketua umum terpilih dan ini kurang baik,” katanya.

Abdul Waidl menegaskan bahwa mekanisme hanyalah instrumen. Hal yang paling penting, kata dia, adalah memastikan pemimpin terbaik lahir dari Muktamar NU.

“Siapapun yang menang, pandanglah itu sebagai mekanisme. Substansinya adalah mencari pemimpin terbaik, dan itu tujuan utamanya. Sehingga siapapun nanti yang terpilih harus menjadi pemimpin semua demi kebaikan jamaah dan jamiyah,” tegasnya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Himpunan Advokat NU, Taufik CH, mempertanyakan dinamika penyusunan dan penerapan peraturan dalam Muktamar NU kali ini.

Menurutnya, perangkat hukum organisasi sebenarnya telah dibangun dan disepakati dalam muktamar sebelumnya.

Karena itu, ia mempertanyakan mengapa dalam Muktamar 2026 sejumlah aturan seolah harus kembali dibangun dari awal.

“Sebetulnya perkum sudah terbangun di muktamar sebelumnya, tapi kenapa Muktamar kali ini seolah-olah aturan-aturannya harus dibangun dari awal lagi? Saya lihat muktamar saat ini kacau,” ujar Taufik.

Ia menilai mekanisme pemilihan AHWA maupun ketua umum sebenarnya telah memiliki aturan yang jelas.

“Mau pilih AHWA saja kan sudah ada aturannya, mau pilih ketua umum juga sudah ada aturannya, jelas. Apalagi yang menjadi soal?” katanya.

Taufik juga menyoroti munculnya sejumlah keputusan yang dinilainya membingungkan, salah satunya terkait iddah politik yang disebut ditiadakan.

Ia mengingatkan bahwa ketentuan tersebut sebelumnya telah ditetapkan dalam Mubes 2025 untuk diterapkan pada Muktamar 2026.

“Dan ingat, perkum tidak boleh sembarangan diubah,” tegasnya.

Menurut Taufik, agenda Muktamar semestinya tidak melebar ke mana-mana. Ia menyebut setidaknya ada tiga agenda utama yang perlu menjadi fokus.

“Muktamar semestinya hanya tiga, yaitu memilih kepemimpinan, baik AHWA, Rais Aam, ketua umum, lalu meninjau kembali AD/ART kalau diperlukan, dan menampung hal-hal terkini yang menarik di forum bahsul masail. Dan ketiganya ini sudah ada aturannya dengan jelas,” jelasnya.

Pandangan lain disampaikan aktivis muda NU Abdul Khalid. Ia menilai posisi AHWA perlu diperkuat dalam struktur dan tata kelola organisasi NU. Menurutnya, NU merupakan representasi dari tradisi pesantren.

Karena itu, keberadaan AHWA seharusnya tidak sekadar dipandang sebagai perangkat teknis dalam proses pemilihan kepemimpinan.

“NU itu pesantren besar dan pesantren adalah NU kecil. Perwajahan NU adalah perwajahan pesantren. Maka posisi AHWA sebagai benteng moral penting,” ujar Abdul Khalid.

Ia menilai legitimasi AHWA saat ini masih terlalu longgar. Karena itu, ia mendorong agar peran AHWA diperkuat, termasuk dalam menyelesaikan persoalan yang muncul dalam kepemimpinan PBNU.

“Posisinya tidak sebagai ad hoc. Di perkum ada, di AD/ART ada, tapi legitimasinya terlalu longgar,” katanya.

Abdul Khalid bahkan menawarkan agar AHWA memiliki fungsi yang lebih kuat sebagai majelis tahkim, terutama ketika terjadi silang sengkarut atau persoalan dalam relasi Rais Aam dan Ketua Umum PBNU.

“Saya menawarkan peran AHWA ini harus diperkuat, misalnya sebagai majelis tahkim atas silang sengkarut Rais Aam dan Ketua Umum PBNU saat ini. Siapa yang bisa menegurnya saat dinilai ada persoalan, kan tidak ada. Dan di situlah AHWA seharusnya berperan,” pungkasnya.

Perdebatan mengenai AHWA atau pemilihan langsung tersebut kini menjadi salah satu titik krusial Muktamar NU 2026.

Di tengah proses voting untuk menentukan mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU periode 2026-2031, para peserta Muktamar dihadapkan pada pilihan antara mempertahankan mekanisme yang menekankan representasi dan musyawarah melalui AHWA atau menentukan ketua umum secara langsung melalui pemungutan suara.

Berita Terbaru

Gugatan Sengketa Lahan Tidak Diterima, Kiagus : Silahkan Ambil Lahan, Ganti Investasi Kami

Gugatan Sengketa Lahan Tidak Diterima, Kiagus : Silahkan Ambil Lahan, Ganti Investasi Kami

Jumat, 18 Sep 2026 21:41 WIB

Jumat, 18 Sep 2026 21:41 WIB

‎SURABAYAPAGI.COM, Madiun — Direktur PT Jatim Parkir Center (JPC), Kiagus Firdaus, membuka peluang penyelesaian sengketa lahan melalui negosiasi setelah Pen…

Bangun Sinergi Kejar Target PAD Rp 1 Triliun, Bapenda Lamongan dan MGN Mulai Petakan Potensi Pendapatan Daerah

Bangun Sinergi Kejar Target PAD Rp 1 Triliun, Bapenda Lamongan dan MGN Mulai Petakan Potensi Pendapatan Daerah

Jumat, 18 Sep 2026 17:30 WIB

Jumat, 18 Sep 2026 17:30 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Lamongan - Sinergi semua pihak terus dibangun oleh Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Lamongan, agar target Pendapatan Asli Daerah…

Ada Keluhan Beras, Bulog Bojonegoro Respon Cepat Ganti Beras Berkualitas

Ada Keluhan Beras, Bulog Bojonegoro Respon Cepat Ganti Beras Berkualitas

Jumat, 18 Sep 2026 17:26 WIB

Jumat, 18 Sep 2026 17:26 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Lamongan - Beberapa hari yang lalu, warga di wilayah Tuban mengeluhkan beras Program Bantuan Pangan (Banpang) tidak layak konsumsi, langsung…

Tak Bisa Narik Ojol Usai Kecelakaan, Hasim Dapat Kursi Roda dan Modal Dagang dari Kapolres Gresik

Tak Bisa Narik Ojol Usai Kecelakaan, Hasim Dapat Kursi Roda dan Modal Dagang dari Kapolres Gresik

Jumat, 18 Sep 2026 13:28 WIB

Jumat, 18 Sep 2026 13:28 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Gresik – Hampir sebulan setelah mengalami kecelakaan lalu lintas, Hasim (54), pengemudi ojek online (ojol) asal Gresik, belum bisa kembali m…

Pria Paruh Baya Dilaporkan ke Polres Blitar Kota Usai Curi Uang Istri Anggota DPR RI

Pria Paruh Baya Dilaporkan ke Polres Blitar Kota Usai Curi Uang Istri Anggota DPR RI

Jumat, 18 Sep 2026 13:18 WIB

Jumat, 18 Sep 2026 13:18 WIB

SURABAYAPAGI.com, Blitar - AS pria berusia 59 warga Jajan Sudanco Supriadi, Kelurahan Gedog, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, kini harus meringkuk dalam…

Jargas 7.363 Sambungan di Menganti Rampung, Tinggal Menunggu Gas Mengalir

Jargas 7.363 Sambungan di Menganti Rampung, Tinggal Menunggu Gas Mengalir

Jumat, 18 Sep 2026 13:16 WIB

Jumat, 18 Sep 2026 13:16 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Gresik – Warga Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, segera menikmati layanan jaringan gas bumi (Jargas) rumah tangga. Pembangunan i…