•   Rabu, 17 Juli 2019
Pilpres 2019

Calon Menteri Prabowo, Disindir Barisan Sakit Hati

( words)
Foto: SP/ARLANA, Prabowo Subianto menyampaikan pidato kebangsaan di Surabaya, Jumat (12/4). Capres 02 ini mengumumkan 80 nama yang diproyeksi menteri.


Riko Abdiono, Rangga Putra,
Tim Wartawan Surabaya Pagi
Calon Presiden (Capres) nomor urut 2 Prabowo Subianto memungkasi masa kampanye terbuka dengan menggelar pidato kebangsaan di Gedung Dyandra Convention Center, Surabaya, Jumat (12/4/2019). Yang menarik, sederet tokoh besar hadir mendukung mantan Danjen Kopassus itu. Bahkan, mereka digadang-gadang menjadi menteri jika Prabowo-Sandiaga menang di Pilpres 17 April 2019. Namun kubu capres 01 Joko Widodo malah menyindir. Pasalnya, ’calon menteri’ Prabowo sebagai barisan sakit hati. Begitupun kehadiran mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo dan mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan.
------
Selain Gatot Nurmantyo dan Dahlan Iskan, sejumlah tokoh nasional yang hadir diantaranya mantan Menteri ESDM Sudirman Said, mantan Menko Kemaritiman Rizal Ramli, dan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Bappenas Ferry Mursyidan Baldan. Mereka ini pernah menjadi manteri di Kabinet Kerja, tapi direshuflle oleh Jokowi.
Lalu, mantan Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto, Fadli Zon dan Fahri Hamzah, keduanya Wakil Ketua DPR RI. Selanjutnya, sederet anggota DPR RI dari Gerindra, seperti Ahmad Riza Patria, Bambang Haryo Soekartono, dan Sufmi Dasco Ahmad.
Ada juga barisan ekonom, seperti Didik J Rachbini, Drajad Wibowo, Fuad Bawazier, Ichsanuddin Noorsy serta advokat senior Otto Hasibuan dan akademisi Rocky Gerung.
Dalam pidato kebangsaannya, Prabowo menyebut orang-orang inilah yang nanti akan membantunya mengelola Indonesia bila terpilih menjadi presiden. Menurutnya, dia tidak perlu individu-individu yang berderet gelar akademis maupun penghargaan dari majalah asing. Yang dia butuhkan adalah orang yang paham masalah bangsa.
“Saya jadi teringat kutipan dari Bung Karno. Kalau ada orang yang dibenci oleh bangsa asing, itu artinya dia adalah orang yang setia kepada bangsa,” sindir Prabowo. “Orang-orang di belakang saya ini adalah barisan akal sehat. Barisan yang cinta tanah air,” lanjutnya.
Mendapat kesempatan pertama memberi orasi, Dahlan Iskan mengungkapkan, lima tahun lalu dirinya menggelar deklarasi dukungan besar-besaran kepada Jokowi di Sentul, Bogor. Ketika itu, Dahlan tertarik dengan ide revolusi mental Jokowi. Selain itu, dia juga tertarik dengan gagasan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan pendapatan per kapita yang mencapai USD 7000. Namun begitu, dia justru merasa cita-cita itu tidak sampai. Apalagi badai fitnah melanda negeri.
“Dalam beberapa tahun terakhir, saya difitnah. Dalam 4,6 tahun terakhir Jokowi difitnah. Tapi selama 17 tahun, Pak Prabowo difitnah,” ungkap Dahlan.
Setelah Dahlan, giliran mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo mengungkapkan uneg-unegnya. Dalam orasinya, Gatot menyebut bila TNI dan rakyat itu kuat, maka tidak akan ada negara asing yang berani. “Inggris, pemenang Perang Dunia ke-2, kalah di sini (Surabaya). Ini membuktikan kalau TNI dan rakyat bersatu, penjajah bisa diusir,” paparnya.
Oleh sebab itu, sambung Gatot, pemerintah mendatang mesti lebih memperhatikan TNI. Soalnya, sepanjang dirinya menjadi panglima, anggaran untuk militer dinilainya terlampau kecil jika dibandingkan dengan aparat bersenjata lainnya, seperti polisi. “Di APBN, anggaran TNI untuk personil sebanyak 445 ribu, ratusan pesawat, ratusan kapal dan ribuan tank, cuma Rp6 triliun,” ungkap Gatot. “Tapi ada yang personilnya cuma 3000, dapat Rp4 triliun. Polisi Rp17 triliun.”
Selain itu, dia juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap keputusan pejabat yang menonaktifkan perwira TNI yang berprestasi. “Seperti yang bongkar gudang senjata itu. Sekarang beliau tanpa jabatan,” sebut Gatot.
Disindir TKN
Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin menyindir sejumlah nama calon pembantu Prabowo -Sandiaga jika pasangan nomor urut 02 itu menang Pilpres 2019. Juru bicara TKN, Ace Hasan Syadzily, menyebut ’calon menteri’ Prabowo sebagai barisan sakit hati. "Nama-nama calon menteri yang diumumkan tidak ada yang spesial. Tidak ada yang luar biasa. Justru banyak nama-nama ’barisan sakit hati’, nama-nama kontroversial tanpa jejak yang mumpuni," kata Ace dalam keterangannya, Jumat (12/4/2019).
Menurut Ace, Prabowo hanya bagi-bagi jabatan. Ace memberi nama kabinet Prabowo jika menang pilpres. "Kelihatan hanya bagi-bagi jabatan bagi tim sukses Prabowo-Sandi. Lebih tepatnya kabinet ’Tim Sukses Prabowo-Sandi’," sebut politisi Partai Golkar ini.
Ace menyoroti nama eks Panglima TNI Gatot Nurmantyo dan Dahlan Iskan. Menurut Ace, dua nama itu tak asing di kubu 02. "Memang seolah ada nama baru, seperti Gatot Nurmantyo dan Dahlan Iskan. Tapi kedua nama itu sudah lama dilihat lebih condong ke 02. Walaupun mereka tidak pernah menyampaikan secara terbuka ke publik, namun manuver politiknya ke kubu 02. Jadi sama sekali tidak mengejutkan. Dan pengaruh terhadap elektabilitas tidak signifikan," tandas dia.
Swing Voters Bingung
Terkait sejumlah dukungan yang mengalir dari para tokoh kepada Prabowo ini, pakar politik asal Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Agus Mahfud menyebut hal itu cukup berpengaruh. Walau Dahlan tersandung kasus hukum dan Gatot adalah TNI yang tidak punya massa tradisional, pengaruh mereka tetap kuat. Citra Dahlan adalah individu yang pekerja keras, sementara Gatot adalah orang tegas yang dekat dengan kaum muslim.
“Menurut saya pengaruhnya cukup kuat. Hal ini semakin membuat undecided voters dan swing voters semakin bingung menjatuhkan pilihan mereka,” cetus Agus. “Jika dibandingkan puluhan ribu alumni deklarasi dukungan kepada kubu 01, tentu lebih berpengaruh faktor ketokohan,” tambah Agus.
Mantan komisioner KPU Jatim ini lantas menambahkan, acara debat terakhir dengan tema ekonomi malam ini (13/4) bakal menjadi sangat penting bagi kedua kandidat. Soalnya, tema ekonomi jelas menjadi tema yang dekat dengan pemilih.
“Apalagi nanti lengkap, capres dan cawapres hadir. Debat terakhir itu bisa sangat menentukan karena temanya dekat dengan rakyat,” tutur Agus.n

Berita Populer