•   Selasa, 31 Maret 2020
Internasional

China Tolak Ikut Kontrol Perjanjian Senjata

( words)
Ilustrasi bendera China


SURABAYA PAGI, China - Pemerintah China menolak ajakan Kanselir Jerman Angela Merkel untuk ikut mengontrol perjanjian senjata era Perang Dingin, di mana Amerika Serikat (AS) mengancam keluar setelah menuduh Rusia melakukan pelanggaran.
China berpendapat bahwa seruan tersebut akan memberi batasan yang tidak adil bagi militernya, atau dengan kata lain memaksa Beijing untuk satu suara dalam kontrol senjata, lapor beberapa sumber kepada kantor berita AFP.
Seruan Merkel bukan tanpa alasan. Jerman khawatir perlombaan senjata nuklir antara China, Rusia dan AS akan kian memanas, menyusul keluarnya Washington dari perjanjian Angkatan Nuklir Jangka Menengah (INF).
"Perlucutan senjata adalah sesuatu yang menjadi perhatian kita semua, dan tentu saja kita akan senang jika pembicaraan seperti itu dilakukan tidak hanya antara Amerika Serikat, Eropa dan Rusia tetapi juga dengan China," ujar Merkel di tengah pidatonya pada Konferensi Keamanan Munich.
Seruan Merkel untuk melibatkan Beijing dalam negosiasi terkait, menurut para diplomat NATO, adalah jalan keluar potensial dari kebuntuan akibat kekhawatiran AS terhadap ancaman militer dari China dan Rusia.
Tetapi salah seorang diplomat top China, Yang Jiechi, yang turut berbicara di panel keamanan di Munich, mengatakan bahwa rudal buatan negaranya bersifat defensif.
"China mengembangkan kemampuannya secara ketat sesuai dengan kebutuhan pertahanannya, dan tidak menimbulkan ancaman bagi orang lain. Jadi kami menentang multilateralisasi INF," katanya.
Ambisi yang dinyatakan China adalah memodernisasi Tentara Pembebasan Rakyat pada 2035, meningkatkan angkatan udara dan pelaksanaan teknologi baru, termasuk rudal jelajah berkecepatan sangat tinggi dan kecerdasan buatan.
Menurut Institut Internasional untuk Studi Keamanan (IISS), yang berbasis di London, anggaran pertahanan China telah tumbuh hampir enam persen antara 2017 dan 2018.

Berita Populer