•   Rabu, 16 Oktober 2019
Gas Dan Bumi

Keren! Pertamina Berhasil Kelola Migas Sebsar 40%

( words)
Beberapa petugas pertamina yang tengah mengontrol pipa migas SP/Ptmn


SURABAYAPAGI.com - Pertamina terus meningkatkan kontribusi dalam pengelolaan produksi minyak dan gas (migas) nasional. Pada semester pertama 2019, tercatat BUMN ini mengelola produksi migas setidaknya 40 persen dari total produksi nasional.

Di dalam negeri, Pertamina saat ini memproduksi minyak bumi sebesar 314 ribu barel per hari (bph) atau sekitar 41,16 persen dari total produksi nasional.

Sementara itu, produksi gas bumi Pertamina mencapai 2591 juta standar kaki kubik per hari (mmscfd) atau sekitar 43,82 persen dari total produksi nasional. Adapun produksi dari aset atau lapangan migas yang berada di luar negeri yakni untuk minyak bumi sebesar 99 ribu bph minyak bumi dan gas bumi 261 mmscfd.

Direktur Hulu Pertamina Dharmawan H Samsu pada acara Konvensi dan Pameran Indonesian Petroleum Association (IPA) Ke-43 di Jakarta Convention Centre (JCC), yang dibuka, Rabu kemarin di Jakarta, mengatakan, bisnis hulu Pertamina yang saat ini ditopang oleh anak usaha, yakni PEP, PEPC, PHE, PHI, dan PIEP akan terus meningkatkan produksi minyak dan gas bumi agar dapat lebih banyak lagi memberikan kontribusi bagi negara.

"Sebagai perusahaan migas terintegrasi, Pertamina mengemban misi utama sebagai powerhouse untuk menjamin keamanan dan pasokan energi nasional. Peningkatan produksi minyak dan gas Pertamina tentunya akan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pemenuhan energi nasional," katanya.

Menurut Dharmawan, untuk meningkatkan kontribusi dalam produksi migas nasional, Pertamina akan terus berupaya beradaptasi dengan perubahan dan tantangan global dengan menerapkan tiga pilar strategi bisnis hulu.

Pertama, Managing Base, yaitu mengelola produksi migas di aset domestik yang ada. Menurutnya, sebanyak 49,25 persen lapangan tersebut telah beroperasi lebih dari 50 tahun dan masih berproduksi hingga kini.

Lapangan existing yang sudah mature tersebut bersifat die-hard dan dikelola oleh insan Pertamina yang die-hard pula. Lapangan itu pun masih menjadi penyumbang pendapatan terbesar bagi Pertamina sekaligus bagi negara, baik langsung maupun melalui kontribusi pajak.

"Melalui strategi ini, Pertamina hendak memastikan bahwa semangat, perhatian terhadap detail, tekad, ketekunan, dan kegigihan merupakan kunci keberhasilan dalam mengoperasikan lapangan tersebut," tutur dia.

Kedua, Pertamina akan melakukan stepping out atau melangkah keluar untuk menemukan lapangan baru, dengan cara non-organik melalui M&A (Merger and Acquisitions) dan new exploration frontiers.

Penemuan eksplorasi oleh PHE Nunukan pada 2017 dengan potensi satu trillion standard cubic feet of gas (TCFG) dan 80 million barrels oil (MMBO) diikuti oleh upaya konsisten untuk mencari peluang baru. Pada 2019, Pertamina kembali mendapat kepercayaan pemerintah untuk mengeksplorasi blok Maratua yang berdekatan dengan penemuan baru di blok Nunukan.

“Di bawah kontrak kerja sama Jambi Merang, komitmen pasti eksplorasi Pertamina sebesar USD240 juta merupakan tonggak penting yang terbesar dalam sejarah. Tahun ini, survei seismik 2D sepanjang 32 ribu km akan dilakukan untuk menggali potensi eksplorasi tersembunyi dari ujung barat hingga timur Indonesia," imbuh dia.

Pilar ketiga, Pertamina memulai energy transitions (transisi energi), yaitu bertransisi ke energi terbarukan dalam rangka mendukung penuh cita-cita Pemerintah untuk mencapai tujuan dan sasaran kebijakan energi nasional tahun 2025 dan 2050, sebagaimana tertuang dalam RUEN (Rencana Umum Energi Nasional).

"Kontribusi kami dalam hal ini adalah melalui pengembangan energi panas bumi dengan menggandakan target peningkatan kapasitas pada tahun 2025," katanya.

Berita Populer