Ketua TKD Jatim Irjen (Purn) Machfud Arifin, Berpeluang Dipilih Megawati-Jo

Surat Terbuka untuk Calon Walikota Surabaya, 2020-2025 (5)


Pembaca yang Budiman,
Hasil Pilpres 2019 lalu, ternyata tidak menghasilkan permusuhan laten bagi partai-partai pendukung paslon 01 dan 02.
Ini bisa ditandai kesempatan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto, bergabung dengan mantal rivalnya, Joko Widodo.
Prabowo, rela menjadi pembantu presiden sebagai menteri pertahanan. Selain itu, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Edhy Prabowo, mengisi jabatan Menteri Kelautan dan Perikanan.
Praktik lawan jadi kawan atau bahasa pragmatisnya, tidak ada lawan yang abadi semacam ini justru terjadi pasca lengsernya penguasa Orde Baru yang otoriter.
Praktis era reformasi rasa politik kepentingan berkemas demokrasi lebih menguat ketimbang urusan ideologi.
Dan sampai saat ini, peristiwa politik bisa kita simak ada sabotase birokrasi, korupsi, hingga opurtunisme jangka pendek.
Bahkan dalam pilkada Surabaya 2020 ini, saya mencermati lawan cawali PDIP kelak adalah koalisi politik yang bukan didasarkan pada kesamaan ideologi, tetapi pada azas pemanfaatan atau kepentingan jangka pendek.
Tak pelak, kelak pasca pilkada 2020, bila kandidat dari PDIP kalah, bisa jadi akan muncul aventurir politik yang oportunis atau malah walikota yang lebih baik dari Risma. Siapa? kita lihat saat kampanye nanti.

Pembaca yang Budiman,
Saat ini, setelah memberi ruang bagi rival Pilpres, Presiden Joko Widodo, juga telah melakukan politik balas budi.
Presiden telah menunjuk Wiranto dan Dato Sri Tahir sebagai Wantimpres, bersama mantan Gubernur Jatim, Dr. Soekarwo. Apakah Jokowi, sendirian dalam menunjuk orang yang pernah berjasa padanya. Terutama saat perhelatan Pilpres 2019 lalu.
Sejak Presiden pasca reformasi pertama yaitu Habibie dan Gus Dur, politik balas budi selalu mewarnai setiap perhelatan politik. Termasuk saat SBY, menjadi presiden dua periode.
Kini era Presiden Jokowi, Jenderal (Purn) Wiranto, Tahir dan Pak De Karwo, defacto, telah memberi banyak jasanya pada Jokowi.
Terutama, Wiranto, jenderal (Purn) yang dikenal sebagai sosok yang memiliki jasa bagi Jokowi di periode pertama memimpin Indonesia.
Sementara di Jawa Timur ada jenderal bintang dua yang juga memberi kontribusi pada kemenangan Jokowi, saat Pilpres 2019 lalu.
Irjen (Purn) Machfud Arifin, adalah mantan Kapolda Jatim yang sebelumnya berkarir penuh di kepolisian. Tetapi setelah pensiun, arek Suroboyo ini berani tampil menjadi komandan pemenangan Capres Jokowi-Ma’ruf di provinsi berpenduduk 39 juta.
Menerima jabatan sebagai Ketua Tim Kampanye Daerah (TKD) di Jawa Timur, Mantan Kapolda Jatim Irjen Pol (Purn) Machfud Arifin., bertekad merebut suara 70 persen kemenangan Jawa Timur.
Pada akhirnya, di Jatim, pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin meraih 16.231.668 suara (65,79 persen), sedangkan pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, hanya mendapat 8.441.247 suara atau 34,21 persen. Ada selisih 7.790.421 suara.
Realitanya, Capres Jokowi-Ma’ruf Amin menang di 32 kabupaten/kota dari 38 kabupaten/kota se Jatim.
Saat menjelang kampanye, Machfud Arifin menegaskan Pilpres ini bukan cuma soal Pak Jokowi, bukan soal Kiai Maruf. Sebagai prajurit yang dilahirkan dengan semangat arek-arek Suroboyo, ia ingin menghadang kelompok tertentu yang sedang membajak demokrasi untuk mengingkari NKRI dan Pancasila. ‘’Kita harus lawan mereka. Caranya bagaimana? Ada strategi. Salah satunya ya coblos Jokowi," Pesan Machfud Arifin.
Kini, Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Eric Thohir, telah ditetapkan menjadi Menteri BUMN. Lalu apa balas budi Jokowi pada Irjen (Purn) Machfud Arifin?
Sampai Pilpres 2019 usai, saya belum mendengar permintaan Machfud Arifin.. Usai [ilpres, Machfud, kembali ke habitatnya bergaul dengan semua lapiran masyarakat tanpa membedakan etnis dan agama.
Nah, kini ada Pilkada Surabaya 2020. Akal sehat saya, Jokowi maupun Megawati mesti menghitung pemberian balas budi pada Machfud Arifin, meski si jenderal Polisi ini tidak saya dengan meminta-minta jabatan.
Akal sehat saya setelah di hampir semua posisi pemerintahan pusat dari Menteri, Wakil Menteri, BUMN sampai Watimpres sudah terisi, posisi apa yang cocok untuk mantan Kapolda Jatim yang saya kenal suka bicara Suroboyoan.
Bagi saya jasa Machfud Arifin memperjuangkan kemenangan Jokowi di Jatim, tidak ringan. Mengingat, Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan, tim sukses Prabowo-Sandiago, pernah mengatakan bahwa Jawa Timur adalah kunci kemenangan Prabowo-Sandi. Tetapi nyatanya, pemenangnya justru diraih oleh pasukan TKD pimpinan Irjen (Purn) Machfud Arifin.

Pembaca yang Budiman,
Saya tahu hakikat politik balas jasa. Tidak lain adalah praktik kekuasaan yang menguntungkan kelompok sendiri.
Ada logika kekuasaan dalam politik praktis. Saya menyerap dalam politik balas jasa kadang ada sistematisasi cara berpikir dan bernalar yang benar dan lurus.
Bernalar benar dan lurus dalam politik balas jasa bisa mengikuti hukum-hukum logika yaitu tidak ada bengkok-bengkok dalam logika.
Seperti yang kini ‘’diberikan’’ kepada sejumlah menteri kabinet Jokowi jilid 1 yang kini terpilih lagi, saya nilai menekankan unsur valid, sahih dan lurus.
Akal sehat saya inilah politik d sebagai seni dan cara mengelola kemungkinan atau probabilitas.
Meski Irjen (Purn) Machfud Arifin, bukan kader tulen PDIP, dalam Pilpres lalu, kinerjanya harus diakui ‘’melebihi’’ kinerja Ketua dan Sekretaris DPD PDIP Jatim , Kusnadi, SH, M.Hum dan Sri Untari Bisowarno.
Suka atau tidak, Irjen (Purn) Machfud Arifin adalah tokoh sentral pemenangan Jokowi-Ma’ruf di Jatim.
Akal sehat saya, dengan masih belum ditunjukkan satu dari tiga kader PDIP Surabaya, mewakili PDIP dalam Pilkada Surabaya 2020, bisa jadi ada perundingan antara Jokowi dan Megawati, untuk memberi porsi pada Irjen Machfud Arifin, mengaktualisasikan diri memimpin kota Surabaya yang telah dipilih Jokowi, sebagai salah satu kota metropolitan kepemimpinannya periode 2019-2024.
Feeling saya, peluang Irjen Machfud Arifin sebagai tokoh sentral ‘’menggeser’’ ambisi Wisnu Shakti, Armudji dan Dyah Katarina, masih terbuka mewakili cawali Surabaya 2020 dari PDIP, masih terbuka. (tatangistiawan@gmail.com, bersambung)