Tahun ini, Angka Pasung di Jatim Naik Jadi 888 Kasus

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Dinas Kesehatan Jawa Timur mengungkapkan kasus pasung karena gangguan jiwa di Jawa Timur mengalami peningkatan. Tahun 2018 ini tercatat ada 888 kasus pasung, angka ini naik dari tahun-tahun sebelumnya.

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur dr. Kohar Hari Santoso mengatakan, pada tahun 2016 tercatat ada 716 kasus. Kemudian tahun 2017 menjadi 757 kasus dan tahun 2018 ini data hingga November terdapat 888 kasus.

Penyebab dari pasung ini beragam. Diantaranya, faktor himpitan ekonomi dan keinginan yang tidak terpenuhi. Akibatnya mereka berperilaku agresif bahkan membahayakan.

"Kalau dibanding tahun 2016, ya 2018 ini meningkat. Tapi Jumlah ini sebenarnya menurun, kalau dibanding tahun 2014 lalu, dimana ada 2500 sampai 3000 kasus, sedangkan tahun-tahun ini sudah menurun di ratusan," kata Kohar Hari Santoso, kemarin (26/11/2018).

Gangguan penyakit jiwa sendiri terbagi atas dua macam. Yakni neurosis dan psikosis. Gangguan jiwa neurosis terjadi karena depresi akibat beban kerja ataupun stre ringan. Selanjutnya, psikosis merupakan gangguan jiwa berat yang bisa berakibat pemasungan.

Ini karena setiap orang memiliki beban hidup masing-masing. Namun, khusus kasus pemasungan memang menjadi perhatian utama Dinas Kesehatan Jawa Timur. Pihaknya juga sinergi dengan Dinas Sosial serta pendekatan pendidikan dan agama.

"Poinnya, pendekatan dengan berbasis masyarakat supaya kasus pasung bisa ditekan," jelasnya.

Dijelaskannya, ada beberapa daerah yang kasus pasung masih banyak dijumpai. Diantaranya kabupaten Bangkalan, Kabupaten Probolinggo dan Lumajang. Bahkan di Bangkalan dan Probolinggo terjadi lebih dari 100 kasus. Sedangkan Lumajang ada 70 kasus, Sampang 66 kasus dan Jember 60 kasus.

"Mereka yang mengalami gangguan jiwa berasal dari beragam usia," terangnya.

Pemasungan yang terjadi di masyarakat, kata Kohar, bermula dari berbagai sebab. Misalnya marah-marah lantaran tidak dibelikan sepeda motor. Ada juga yang minta nikah namun tidak dituruti orang tuanya. Da juga yang asli mengalami gangguan jiwa sejak kecil.

"Ini semua harus diobati agar bisa sembuh, dan keluarga mau terbuka melaporkan kasus yang dialami, " harap mantan direktur di RSUD dr Soetomo ini. rko/pjp