Belakangan ini banyak pihak hanyut dalam isu kebangkitan komunisme atau PKI. Namun terhadap tempat-tempat bersejarah, mereka kurang perhatian, bahkan melupakan. Seperti rumah tempat lahirnya Presiden RI pertama Ir Soekarno di Kampung Pandean gang IV no.40, Kelurahan Peneleh, Kecamatan Genteng, Kota Surabaya. Meski rumah ini telah ditetapkan sebagai bangunan Cagar Budaya oleh Pemkot Surabaya sejak 2013 silam, tetapi bangunan ini tampak tidak terawat. Akankah bangunan ini akan bernasib sama seperti Rumah Radio Bung Tomo di Jl Mawar Surabaya yang hancur dan dikuasai swasta? Berikut ini laporan Firman Rachman, wartawan Surabaya Pagi.
------------
Jangan sekali-kali melupakan sejarah yang lebih dikenal dengan ‘Jas Merah’ merupakan ucapan Presiden pertama RI, Ir. Soekarno dalam pidato terakhirnya di HUT Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1966 silam. Seakan mengetahui nasib anak bangsa di kemudian hari, pidato Bung Karno itu kini menjadi refleksi dari realitas sosial masyarakat saat ini.
Soal bangunan Rumah Kelahiran Bung Karno di kampung Pandean ini, misalnya. Hanya segelintir orang saja yang peduli dan mengetahui sejarahnya. Sebuah rumah tua berada di gang sempit, justru menyimpan sejarah penting bagi negeri ini. Ya, di sebuah rumah berukuran 4 x 15 meter ini dengan plakat nomor 40 itu, diyakini menjadi tempat lahirnya Bung Karno pada 6 Juni 1901.
Terlihat tak ada yang spesial, rumah itu barangkali akan disangka sebagai rumah biasa tanpa menyimpan arti sejarah bagi masyarakat awam. Beruntung, ada plakat pemberitahuan berukuran sekitar 30×30 cm yang bertuliskan jika rumah ini adalah Rumah Kelahiran Bung Karno, Putra Fajar.
Sebelum masuk ke Pandean IV, ada sebuah banner besar tepat di depan gapura gang kampung tersebut. Banner lusuh dan usang itu bertuliskan lantang, "Tanah Kelahiran" dipadu dengan potret Bung Karno dari masa ke masa. Di bawahnya, sebuah prasasti tertanggal 29 Agustus 2010 tertanda Walikota Surabaya Bambang DH waktu itu mengukuhkan jika bangunan di Pandean IV nomor 40 Surabaya merupakan situs Cagar Budaya.
Rumah bercat putih dominan dengan sentuhan warna hijau pucat di papan atas serta kayu-kayu jendela dan pintu itu berciri khas rumah tua yang tak lagi bagus kondisinya. Dua buah motor dan sebuah sepeda terparkir di sisi samping rumah tempat Bung Karno dilahirkan.
Dari berbagai literatur menyebut, ayahanda dari Soekarno yakni Raden Soekemi tengah mengontrak rumah tersebut sebagai tempat tinggal sementara. Sebab, saat itu keluarga Bung Karno tak memiliki tempat tinggal tetap atau kerap berpindah.
Belum Dibeli Pemkot
Saat Surabaya Pagi datang, kondisi pintu tertutup rapat, hanya jendela yang dibiarkan terbuka sedikit. Beberapa kali diketuk dan mengucap salam tak ada jawaban, hingga Surabaya Pagi menunggu sampai penghuni rumah keluar. Tak lama, seorang perempuan paruh baya memperkenalkan diri bernama Jamilah. Namun sayang, Jamilah terkesan kurang bersahabat saat ditanya seputar rumah bersejarah tersebut.
"Di sini saja mas, ada apa? Saya sudah sering diwawancarai didatangi capek saya. Ini mau istirahat," ucap wanita tersebut dengan nada ketus, yang meminta Surabaya Pagi agar tak perlu masuk ke dalam rumah.
Jamilah juga menyampaikan, sejak adanya status cagar budaya di rumah tersebut, dirinya mengaku kerepotan menerima banyak tamu hingga menolak ditemui hanya sekadar bertanya dan menilik informasi asal-usul rumah ini.
"Tidak ada yang berubah, ini kan gak boleh direnovasi katanya. Kami juga repot kalau ada banyak yang njujug cuma tanya soal sejarah. Di sini Pak Karno cuma mampir lahir aja mas, ndak lama terus pindah lagi," imbuhnya sembari bergegas masuk ke dalam rumah.
Kondisi kampung yang sepi membuat tak banyak informasi yang bisa didapat. Bagi pelancong, tentu rumah bersejarah ini sangat penting sebagai tujuan destinasi wisata di kota Surabaya, terutama bagi anak bangsa sendiri. Menurut salah seorang warga, sejak tahun 2014 Pemkot Surabaya ingin membeli rumah Rumah Kelahiran Bung Karno dan sudah tawar menawar harga dengan ahli waris. Namun tidak ada kesepakatan harga kala itu.
“Nggak tau sekarang gimana jadinya. Dulu ahli waris minta harga Rp 5 miliar katanya,” ucap pria yang duduk-duduk di dekat makam Belanda Peneleh, tak jauh dari rumah Kelahiran Bung Karno.
Sempat Kontroversi
Penelusuran rumah tempat Kelahiran Soekarno dilakukan Institut Sukarno. Pendiri lembaga Institut Sukarno, Peter A Rohi mengatakan kajian dari sejumlah buku diketahui Sukarno pernah tinggal di Kampung Pandean- dan Peneleh. Namun, ada juga yang menyebut Bung Karno lahir di Blitar. Mengapa berbeda?
Peter A Rohi menjelaskan perbedaan tersebut terjadi karena ada kesalahan dalam menerjemahkan buku tentang sukarno yang ditulis dalam bahasa Inggris oleh seorang jurnalis AS Cindy Adams. "Selanjutnya buku itu diterjemahkan oleh tim penulis sejarah dari ABRI (TNI) dengan menyebutkan Bung Karno lahir di Blitar," terang dia.
Padahal dalam buku karya Cindy Adams , menurut Peter, Bung Karno mengatakan, "Karena bapak saya berpindah-pindah, maka ketika pindah ke Surabaya, di tempat itulah saya lahir," jelas Peter. Dia menjelaskan dalam semua buku-buku biografi Bung Karno yang terbit sebelum tahun 1966, ditulis bahwa Bung Karno lahir di Surabaya. n
Editor : Redaksi