SURABAYAPAGI.com, Palestina - Dua organisasi yang lama berseteru akhirnya berdamai. Fatah dan Hamas pada hari Kamis kemarin sepakat berdamai mengakhiri pertikaian selama satu dasawarsa. Namun, Israel sebagai negara seteru mereka berburuk sangka menganggap perjanjian itu bakal merintangi upaya perdamaian.
Israel sangat menolak mengakui perdamaian mereka seperti yang diungkapkan Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu. Dia berkeras menuntut supaya perdamaian kedua organisasi yag berlansung di Ibu Kota Kairo, Mesir itu harus sesuai dengan kesepakatan, di mana kedua organisasi harus mengakui Israel sebagai negara, dan melucuti sayap militer Hamas.
"Israel memang menginginkan perdamaian dengan seluruh negara tetangga. Namun, perdamaian antara Hamas dan Fatah menyulitkan upaya perdamaian. Berdamai dengan pembantai adalah masalah, bukan jalan keluar. Dukung perdamaian dan jangan berkawan dengan Hamas," tulis Juru Bicara Netanyahu, Ofir Gendelman, melalui akun Twitter-nya, seperti dilansir dari laman Independent, Jumat (13/10).
Pihak Hamas mengatakan mereka saat ini mengubah pendirian organisasi supaya bisa membangun Palestina bersama dengan Fatah. Namun, Ofir tidak yakin akan klaim Hamas. Dia menuding kalau Hamas cuma mempermainkan dunia.
Mesir sebagai saudara tentangga menjadi penengah perundingan damai Fatah dan Hamas. Di dalam perjanjian, keduanya menyepakati pengaturan perbatasan dan nasib ribuan pegawai negeri di Jalur Gaza. Namun, mereka tidak membahas soal persenjataan Hamas. Hal itu membikin Israel curiga.
Fatah, Hamas, dan Mesir juga sepakat membuka perbatasan Rafah buat mengakhiri krisis kemanusiaan, mempermudah perdagangan dan pelintas batas. Mereka pun setuju soal penempatan pengawas dari Uni Eropa di perbatasan demi menghindari kecurigaan Israel soal upaya penyelundupan senjata. Pihak Fatah dan Hamas bertikai sejak 2006. Sejak itu ada dualisme pemerintahan. Fatah menguasai Otoritas Palestina di Tepi Barat, sedangkan Hamas mendirikan pemerintahan terpisah di Jalur Gaza. Namun, pada September lalu Hamas memutuskan membubarkan pemerintahannya di Jalur Gaza demi perundingan damai. (hm/mer)
Editor : Redaksi