SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Ladiyanto, Penyuluh Pertanian Madya pada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Blitar menyampaikan, untuk meningkatkan kualitas tembakau dengan kadar nikotin rendah, Pemerintah kabupaten Blitar melakukan studi banding ke Wonogiri. Agenda tersebut akan dilakukan pada tanggal 8 sampai 10 Nopember 2017, Kamis (16/11/2017).
Pemilihan Wonogiri sebagai tempat studi banding dikarenakan kondisi lahan atau tingkat kesuburan Wonogiri sama dengan di Kabupaten Blitar. Studi banding akan diikuti oleh 80 petani dan pendamping.
Dalam studi banding di Wonogiri peserta akan diajak untuk mengunjungi gudang tembakau, agro buah naga, dan melihat kondisi lahan kering di area tembakau.
Studi banding ini bertujuan untuk meningkatkan mutu tembakau, disertifikasi usaha tani di lahan kering buah naga bagi petani tembakau serta pemberdayaan tani/kelompok wanita tani tembakau dalam pemanfaatan lahan Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL).
Ladiyanto menjelaskan, pada Tahun 2017 ada sekitar 450 hektare areal lahan tembakau. 50% tembakau lokal dan 50% tembakau virgin. 1 hektare lahan rata-rata menghasilkan 225 ton tembakau lokal. Dan tembakau virgin per hektarenya sekitar 2,2 ton. Untuk tembakau virgin masuk ke anak Perusahaan PT.Sampoerna Tbk. Sedangkan tembakau lokal diserap di pasar bebas, mulai dari Kediri, Tulungagung dan Malang. Sementara ini, di Kabupaten Blitar yang memiliki luas areal tembakau virgin paling luas yakni Kecamatan Kademangan, Sanankulon dan Wates sedangkan tembakau lokal paling luas di Kecamatan Talun, Selopuro dan Gandusari.
Ladiyanto memprediksi, pada Oktober 2019 Kabupaten Blitar sudah bisa melakukan pengajuan pelepasan varietas tembakau lokal unggulan Kabupaten Blitar. Saat ini masih dalam proses tahap uji 3 (tahap uji lokasi).
Ladityanto berharap ke depan akan ada perluasan areal tembakau lahan kering khususnya di Blitar Selatan mengingat saat ini masih menghasilkan 1 ton per hektar, padahal rekomendasi dari Kementerian Pertanian harus mencapai 1,8 ton/hektare. Untuk itu, peningkatakn SDM melalui pelatihan dan pemenuhan sarana dan prasarana serta modal kerja petani tembakau sangat diperlukan.
Editor : Redaksi