Australia Rusuh, China Warning Rakyatnya "Jangan Pergi ke Australia"

surabayapagi.com
Anak-anak di Negeri Panda antusias memakai masker.

SURABAYAPAGI.com, Beijing - China pada Jumat menasihati warganya untuk menghindari berkunjung ke Australia, seraya menyebut diskriminasi dan kekerasan rasial terkait dengan pandemi virus corona baru. 

"Akhir-akhir ini ada kekhawatiran mengenai peningkatan tindak diskriminasi dan kekerasan rasial terhadap orang China dan Asia di Australia, akibat dampak pandemi COVID-19," kata Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata China dalam satu pernyataan. 

Baca juga: Prabowo Pamerkan Perkembangan MBG di WEF 2026 di Davos

Namun, pernyataan itu tak memberi contoh spesifik tentang diskriminasi dan kekerasan yang dimaksud.  Australia menolak tuduhan itu dengan mengatakan bahwa tuduhan-tuduhan itu tak berdasarkan kenyataan. 

"Penolakan kami atas klaim-klaim ini, yang dibuat secara semu oleh para pejabat China sebelumnya, diketahui mereka," Menteri Perdagangan Simon Birmingham mengatakan dalam satu pernyataan. 

Orang-orang Asia menghadapi perundungan di berbagai negara sejak wabah corona merebak akhir tahun lalu. 

Baca juga: Pekerja WNI di Online Scam Kamboja, Kini Kocar-kacir

China sebelumnya mengeluarkan satu peringatan perjalanan wisata ke Amerika Serikat setelah beberapa warganya mengatakan mereka diperlakukan buruk terkait dengan wabah itu. 

Hubungan Australia dengan China, mitra dagang terpentingnya, memburuk beberapa tahun belakangan di tengah tuduhan bahwa China sedang mencampuri urusan Australia. 

Baca juga: SBY Cemas PD III, PKS Anggap Bukan Apokaliptik

Australia, tujuan popular bagi turis dan pelajar China, juga khawatir China sedang mencari pengaruh tak selayaknya di kawasan Pasifik. 

Hubungan di antara keduanya beberapa pekan belakangan ini mengalami ketegangan sejak Australia menyerukan penyelidikan internasional atas asal-usul virus corona baru.  Bulan lalu China memberlakukan tarif impor pada gandum Australia dan menghalangi impor daging sapi dari beberapa sumber Australia.

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru