SURABAYAPAGI.com, Jombang - Agus Winarno sangat menggemari bercocoktanam, salah satunya cocopeat. Cocopeat sendiri merupakan nama lain dari serbuk serabut kelapa. Cocopeat dimanfaatkan sebagai media tanam hidroponik sebagai pengganti media tanah.
Dirinya membuat cocopeat berawal saat melihat limbah kulit kelapa tidak terpakai di tetangganya. Pemiliknya kebingungan mau dibuang kemana limbah kulit kelapa tersebut.
Baca juga: Siap Beroperasi Juni 2026, Pemkab Jombang Targetkan Jaring Siswa SD Sekolah Rakyat
"Akhirnya saya mencoba membuat cocopeat untuk media tanam bonsai kelapa saya. Dan ternyata, coco fibernya juga bermanfaat," katanya.
Soal produksi, Agus menggunakan dengan mesin kecil. Dalam sehari, produksi cocopeat hanya tiga karung. Sedangkan untuk coco fiber, sehari dua karung besar. "Untuk bahan baku limbah kulit kelapa, saya membeli. Satu karung besar saya beli seharga Rp 5 ribu. Itu kalau diproses dan diuangkan, menjadi sekitar Rp 500 ribu," tandasnya.
Baca juga: Terancam Molor, Progres Pembangunan Gedung Sekolah Rakyat Jombang Masih 57 Persen
Agus menerangkan, pengaruh meningkatnya permintaan, salah satunya karena sekarang musim banyaknya orang yang hobi bercocoktanam bunga dan sejenisnya, terutama pada potnya.
"Satu karung besar bisa menjadi sekitar 50 pot lebih. Untuk harga pot yang sudah jadi Rp 12 ribu. Untuk coco fiber, dikantong ukuran 2 kilogram isi 1 ons, harganya Rp 5 ribu rupiah," terangnya.
Baca juga: Pemkab Dorong Penataan Berkelanjutan, Alun-alun Jombang Bersih dari PKL Liar
Sedangkan Cocopeat, lanjut Agus, kantong 2 kilogram isi 4 ons, dijual dengan harga Rp 4 ribu. Penghasilan Agus dalam satu bulan dalam penjualan pot, rata-rata sekitar Rp 4 juta. "Itu belum termasuk penjualan dari cocopeat dan coco fibernya. Kalau total secara keseluruhan, dalam satu bulan saya dapat menghasilkan Rp 7-8 juta," pungkasnya. dsy6
Editor : Redaksi