SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Saya pikir, kisah penyembelihan Ismail yang tidak jadi adalah kisah yang selalu diulang setiap tahun ketika Hari Raya Idul Adha, seperti hari Senin (17/6/2024) lalu.
Dalam kisah nabi Ibrahim pada surah Al-Baqarah ayat 258:
Baca juga: Imlek di China, Mudik Terbalik, Fenomena Global
"Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: "Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,"
orang itu berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan". Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat," lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim."
Dikutip dari buku Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1 oleh Muhammad Nasib Ar-Rifa'i ; Rasulullah SAW bersabda tentang keutamaan dari surah Al-Baqarah:
"Janganlah kamu menjadikan rumahmu sebagai kuburan. Sesungguhnya rumah yang dibacakan padanya surah Al-Baqarah tidak akan dimasuki setan." (HR. Ahmad, Muslim, Tirmidzi, dan Nasa'i)
Dalam ayat ke-258 dikisahkan keangkuhan dari Raja Namrud saat sedang berbincang dengan Nabi Ibrahim as. Gelarnya sebagai raja dan kekuasaan yang Raja Namrud, membuatnya ingkar dan zalim kepada Allah SWT.
Ayat ke-258 menampilkan dialog perdebatan antara Nabi Ibrahim dan Raja Namrud. Nabi Ibrahim yang diberikan petunjuk oleh Allah SWT selalu memiliki dalil yang kuat untuk menjawab omong kosong Raja Namrud. Sebaliknya, Raja Namrud tidak memiliki alasan lain lagi untuk memperkuat argumennya sehingga ia pun kalah.
Juga bukti-bukti kekuasaan Allah SWT disebutkan dalam ayat ke-259. Ayat ini mengkisahkan seorang yang pada mulanya masih ragu tentang kuasa Allah SWT. Kemudian, satu per satu Allah SWT tunjukkan kuasanya terhadap orang tersebut.
Bukti-bukti yang ditunjukkan dalam ayat tersebut antara lain adalah: Orang tersebut dihidupkan kembali setelah ia mati selama beratus-ratus tahun. Di samping itu, Allah SWT membiarkan tulang belulang keledainya ada di sana sebagai bukti bahwa ia telah meninggal sejak lama.
Minuman dan makanan yang yang ada sejak ratusan tahun lalu itu masih dalam keadaan baik. Hal ini sebagai tanda bahwa Allah SWT Maha Kuasa dalam membuat kondisi makanan dan minuman tersebut terjaga selama beratus-ratus tahun.
Keledai yang hanya tinggal tulang belulang kemudian dihidupkan kembali oleh Allah SWT. Proses penghidupan kembali keledai tersebut langsung dilakukan di depan mata seseorang itu sehingga kuasa Allah SWT semakin nyata dan tampak di depannya.
Itu contoh ketaatan nabi Ibrahim yang bisa kita tauladani.
Al Quran mengajarkan Nabi Ibrahim AS adalah salah satu nabi Allah yang taqwa dan cinta kepada-Nya.
Makanya, Nabi Ibrahim dijuluki Khalilullah Khalilurrahman karena dicintai oleh Allah SWT. Ini karena ketaatan dan menjalankan semua perintah. Tidak hanya semua perintah Allah Swt. yang dilaksanakan, Nabi Ibrahim AS juga melewati semua ujian tersebut tanpa sedikitpun mengurangi ketaatan dan kecintaannya kepada Allah SWT.
Nyatanya, nama Ibrahim disebutkan 69 kali dalam 24 juz Al-Qur'an. Nama Ibrahim juga diabadikan sebagai nama sebuah surat dalam Al-Qur'an, surat ke-14. Ibrahim adalah bapak para nabi, Abrambia, karena dari 25 nabi yang disebutkan dalam Al Qur'an, 19 keturunannya menjadi nabi.
Saya bersaksi, Allah SWT. tidak hanya menguji Ibrahim AS secara pribadi, tetapi juga keluarganya. Kemudian Allah Swt. menguji ketaatan dan cintanya dengan memerintahkan dia untuk menyembelih putranya sendiri Ismail AS. Sesuai dengan ketetapan Nabi Ibrahim AS pun melaksanakan perintah tersebut dan Ismail AS pun mengizinkan ayahnya untuk menyembelihnya.
Dalam hidup, saya dianjurkan kakek saya belajar dari Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Belajar tentang ketaatannya dalam tindakannya. Nabi Ibrahim membuktinan agama tidak terbatas pada status, atau hanya bibir yang indah.
Beliau buktikan apa yang diperintahkan Allah, meski berat dan tidak masuk akal di mata manusia, tetap perlu diusahakan dan dijalankan. Subhanallah.
Baca juga: Guru Madrasah Demo, Kesejahteraan Guru Belum Rampung
***
Dalam Qur'an, menggambarkan Ismail, sebagai anak yang ikhlas menerima apapun perintah Tuhan termasuk untuk mengorbankan dirinya sendiri.
Saya pelajari, kisah Ismail adalah kisah yang sangat menyentuh dan inspiratif. Saya tak bisa bayangkan apa jadinya bila Tuhan tidak menggantikan pengorbanan Ismail dengan hewan kurban!
Dengan menggantikan Nabi Ismail dengan seekor domba, Allah menunjukkan bahwa tujuan utama dari ujian ke nabi Ibrahim adalah ketaatan, bukan pengorbanan manusia itu sendiri.
Pengorbanan seekor domba sebagai pengganti Nabi Ismail lebih bermakna simbolik.
Peristiwa ini menjadi fondasi dari perayaan Idul Adha, di mana umat Muslim di seluruh dunia melakukan penyembelihan hewan kurban sebagai bentuk ketaatan dan rasa syukur kepada Allah.
Harus diakui, Nabi Ibrahim adalah tokoh sentral dalam perayaan Idul Adha. Dalam bahasa Inggris, Nabi Ibrahim dikenal sebagai Prophet Abraham.
Baca juga: Pejabat Bea Cukai Diduga Ikut Runtuhkan UMKM
Beliau adalah nabi yang dikenal karena ketaatannya kepada Allah, yang diuji dengan perintah untuk mengorbankan putranya, Ismail.
Kisah ini mengajarkan pentingnya ketaatan dan pengorbanan dalam menjalankan perintah Allah.
Prophet atau nabi Ismail adalah putra Nabi Ibrahim yang menjadi bagian dari kisah pengorbanan yang diperingati dalam Idul Adha.
Dalam bahasa Inggris, Nabi Ismail dikenal sebagai Prophet Ishmael. Ismail adalah sosok yang menunjukkan ketundukan dan ketaatan kepada kehendak Allah, yang kemudian digantikan dengan seekor domba oleh Allah sebagai bentuk rahmat dan belas kasih.
Ini karena, Allah tidak menginginkan kematian Nabi Ismail, tetapi ingin menguji dan memperlihatkan ketaatan serta keikhlasan mereka berdua.
Nilai Pengorbanan dalam Konteks Simbolik Pengorbanan seekor domba sebagai pengganti Nabi Ismail menunjukkan bahwa Allah menginginkan pengorbanan yang tulus dan ikhlas dari hamba-Nya, bukan hanya tindakan fisik semata. Allah mengajarkan pengorbanan yang benar adalah ketaatan dan keikhlasan hati.
Kisah ini mengajarkan saya yang umat Muslim tentang pentingnya ketaatan kepada Allah. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail menunjukkan bahwa ketaatan kepada Allah haruslah mutlak.
Pengorbanan sebagai Bukti Iman Pengorbanan domba sebagai ganti Nabi Ismail menjadi bukti nyata dari iman dan ketaatan.
Ini mengajarkan bahwa iman yang sejati memerlukan pengorbanan, dan kadang-kadang pengorbanan tersebut bisa sangat berat. Selamat Hari Raya Idul Adha 1445 H, Minal Aidin Wal Faidzin! Mari kita syukuri rahmat-Nya dan terus menjaga kebersamaan dalam cinta dan kasih sayang. Minal Aidin Wal Faidzin! Di hari yang penuh berkah ini, mari kita renungkan makna ketaatan dan pengorbanan Nabi Ibrahim AS. (radityakhadaffi@gmail.com).
Editor : Raditya Mohammer Khadaffi