SURABAYAPAGI.com, Jombang - Curah hujan yang tinggi dan semakin ekstrem membuat Jembatan Pagerluyung berusia ratusan tahun yang biasanya dijadikan warga sebagai jalur alternatif dari Gedeg Mojokerto menuju Jombang ditutup sementara.
Jembatan tersebut merupakan aset milik Pabrik Gula (PG) Gempolkrep yang dibangun pada masa Kolonial Belanda tahun 1874. Namun, jembatan yang melintasi aliran Sungai Brantas ini ditutup lantaran konstruksi bangunan pada tiang penyangga retak dan putus akibat sampah yang menyangkut dibawah jembatan.
Baca juga: 18-20 November 2025, Jatim Diprediksi Hujan Lebat hingga Sangat Lebat
"Akibat benturan dari sampah yang menumpuk terdorong aliran sungai," kata Humas PG Gempolkerp, Topan Pamungkas, Selasa (10/12/2024).
Oleh karenanya, untuk mengantisipasi adanya kerusakan lebih parah yang membahayakan penggunaan jalan, pihak PG sepakat untuk menutup sementara akses jembatan tersebut. Jembatan ditutup dengan besi portal. Petugas yang berjaga memberikan tanda, agar pengendara putar balik.
Baca juga: Hujan Lebat Picu Tanah Longsor, Satu Rumah Warga di Desa Tulungrejo Blitar Ambruk
Sebelumnya, walaupun jembatan ini milik PG Gempolkerp, pihak perusahaan mengizinkan untuk dijadikan akses masyarakat umum dan petani tebu untuk kirim hasil panen ke penggilingan.
"Dua arah kita tutup. Ini membahayakan warga dan muatan tebu yang melintas," ujarnya.
Baca juga: Diterjang Hujan Angin, Surabaya 'Tenggelam' hingga Puluhan Pohon Tumbang
Selain membersihkan sampah yang tersangkut di pilar-pilar bangunan jembatan, PG Gempolkerp juga melakukan perawatan seperti pengecatan dan perbaikan pilar jembatan yang dibangun pada masa pemerintahan Belanda sejak sekitar tahun 1.874 silam. Meski begitu, PG Gempolkrep juga belum bisa memastikan memastikan kapan jembatan tersebut kembali dibuka untuk umum. jb-01/dsy
Editor : Desy Ayu