Muntahan Produk Elektronik Impor dari China, Tambah Pasar

surabayapagi.com
Produk ponsel pintar buatan China, terus laris dan diburu oleh konsumen di Indonesia.

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Indonesia diprediksi bakal dibanjiri produk elektronik impor dari China karena adanya rencana penghapusan Peraturan Teknis (Pertek) oleh Presiden RI Prabowo Subianto sebagai respon dari kebijakan tarif impor dari Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan BPS yang digali Surabaya Pagi, Jumat (17/4), impor produk elektronik dari China ke Indonesia pada tahun 2023 mencapai 1.156,8 ribu ton. China menjadi negara utama pengimpor mesin dan perlengkapan elektrik ke Indonesia.

Baca juga: Beredar Kosmetik Berbahaya, Produk China Berkandungan Karsinogen, Zat Pemicu Kanker

Produk elektronik dari China seperti ponsel pintar, televisi, kamera, dan laptop, sangat diminati di pasar Indonesia karena harga dan kualitasnya yang baik.  Juga peralatan rumah tangga elektro mekanik.

Praktis, hingga sekarang, China adalah negara yang paling banyak mengimpor mesin dan perlengkapan elektrik ke Indonesia.

 

Muntahan Produksi dari Tiongkok

Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Elektronik (Gabel) Daniel Suhardiman mengatakan tidak khawatirkan terkait kebijakan tarif impor dari AS. Hal ini lantaran eskpor produk elektronik ke AS tidak besar.

"Yang kita khawatirkan bukan barang dari Amerika masuk, atau kita tidak bisa ekspor ke Amerika, ekspor anggota Gabel ke Amerika itu kurang lebih US$ 300 juta tidak besar, ya tidak besar. Cuman yang kami khawatirkan justru, muntahan dari negara-negara produksi besar, seperti Tiongkok terutama ya. Mereka akan dengan mudahnya akan masuk ke pasar Indonesia," kata Gabel dalam diskusi Forum Wartawan Perindustrian di Jakarta, Kamis (17/4/2025).

Baca juga: Kebijakan TKDN Mampu Tekan Impor Produk Ponsel

Daniel menjelaskan banjirnya barang elektronik dari China tersebut lantaran adanya pasar yang besar di Indonesia dengan jumlah penduduk sekitar 280 juta. Berbeda dengan Malaysia, Vietnam, dan Filipina yang hanya sebagian dari jumlah penduduk Indonesia.

"Jadi besarnya pasar Indonesia inilah yang menjadi sasaran empuk bagi negara eksportir. Kalau meluber produksinya dia. Nah limpahannya ini, luapannya ini pasti masuk ke Indonesia," katanya.

 

Gampang Masuk ke Indonesia

Daniel menambahkan, barang impor tersebut gampang masuk ke Indonesia juga karena Non Tariff Measures (NTM) atau tindakan non tarif yang tidak kuat. Berbeda dengan negara-negara maju yang mempunyai NTM kuat sehingga menginisiasi perdagangan bebas.

"Jangan dengan negara maju, dibandingkan negara pesaing kita di ASEAN misalkan Thailand, Filipina setengahnya saja ndak ada, NTM Indonesia itu kalau tidak salah cuam 207. Thailand itu sudah 660 an NTM nya," katanya.

Dengan kondisi tersebut, Daniel meminta agar pemerintah tidak menghapus Pertek terkait dengan impor barang jadi yang selama ini kenakan pada industri. Hal ini dilakukan karena Pertek ini bertujuan untuk meningkatkan utilisasi dari industri dalam negeri. n ec/jk/rmc

Editor : Moch Ilham

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru