SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - IMF Mengingatkan Indonesia sedang dalam tren naik pengangguran. Dana Moneter Internasional (IMF) bahkan memperingatkan bahwa tingkat pengangguran Indonesia bisa naik ke 5% tahun ini, tertinggi di Asean. Sementara , pertumbuhan ekonomi kita pun direvisi ke bawah, hanya 4,7%.
Jika ekonomi melambat dan pengangguran meningkat, lalu bagaimana nasib generasi muda kita? Mau ke mana mereka mencari harapan?
Baca juga: Ramadhan, Puasa, Mohon Ampunan Hingga Bikin Event
Angka pengangguran Indonesia mencapai 7,28 juta orang per Februari 2025.
Pada Februari 2025, terdapat 7,28 juta penganggur atau setara dengan TPT sebesar 4,76 persen. Angka ini lebih rendah jika dibandingkan Februari 2024 yang sebesar 4,82 persen (7,20 juta pengangguran)
"Penurunan TPT ini juga terjadi pada perempuan (turun 0,19 persen basis point). Sedangkan TPT laki-laki mengalami peningkatan sebesar 0,02 persen basis point (bps)," kata Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, dalam Konferensi Pers di Kantor BPS, Jakarta Pusat, Senin (5/5).
Widyasanti merinci ada 216,79 juta orang yang tergolong penduduk usia kerja. Lalu, 153,05 juta orang di antaranya berstatus angkatan kerja.
"Dari angkatan kerja tersebut, tidak semua terserap di pasar kerja. Sehingga terdapat jumlah orang yang menganggur sebanyak 7,28 juta orang," ungkapnya.
Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2025 menunjukkan jumlah pengangguran naik sekitar 83 ribu orang dibanding Februari 2024. Meski secara persentase tingkat pengangguran terbuka (TPT) turun menjadi 4,76%, jumlah absolut penganggur tetap mengkhawatirkan. Maka, pertanyaannya, mengapa pengangguran di negeri ini terus bertambah?
Sepanjang awal 2025, badai PHK juga kembali menerpa. Kementerian Ketenagakerjaan mencatat 24.000 lebih pekerja kehilangan pekerjaan. Jawa Tengah menjadi daerah dengan jumlah PHK tertinggi. Beberapa perusahaan beralasan efisiensi, selebihnya karena permintaan pasar menurun.
PHK ini tak bisa dilepaskan dari kondisi ekonomi global yang masih belum sepenuhnya pulih, serta tren digitalisasi yang membuat perusahaan merampingkan tenaga kerja.
Studi dari McKinsey menyebut, 23 juta pekerjaan di Asia Tenggara terancam tergantikan otomatisasi pada 2030, dan Indonesia salah satu yang paling rentan. Lalu, apakah kita siap?
***
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli membeberkan biang kerok pemutusan hubungan kerja (PHK) Januari sampai 23 April 2025.
Kemnaker mencatat jumlah PHK di periode tersebut mencapai 24.036.
"Hasil data dari kami dan ada contoh perusahaan ternyata kalau kita lihat memang dari ada 25 penyebab PHK yang mungkin 7 ini adalah yang dominan pertama karena memang perusahaannya rugi atau tutup karena pasar dalam negeri, luar negeri yang menurun," katanya dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR RI di Senayan, Jakarta Pusat, Senin (5/5/2025).
Kedua, perusahaan memutuskan relokasi atau pindah ke wilayah lain.
Menurut Yassierli hal ini dilakukan pengusaha demi mencari upah buruh yang lebih murah.
Nah! Pengusaha lebih leluasa mencari dan memPHK buruh. Sementara pekerja?
***
Baca juga: Imlek di China, Mudik Terbalik, Fenomena Global
Korban PHK, bisa alami stigma pengangguran. Seseorang dapat merasa malu atau tidak nyaman dengan status pengangguran. Tak salah, mereka ada yang memilih untuk mencari cara untuk menghindarinya.
Mengingat stigma pengangguran adalah pandangan atau label negatif yang melekat pada seseorang yang sedang tidak bekerja. Mereka seringkali dianggap sebagai "tidak produktif," "malas," atau "tidak mampu".
Stigma ini bisa berdampak signifikan pada individu dan masyarakat. Tentu dapat mempengaruhi kepercayaan diri, kualitas hidup, dan bahkan peluang mendapatkan pekerjaan di masa depan.
Apalagi, pengangguran sering kali dikaitkan dengan label negatif seperti "tidak produktif," "malas," "tidak berguna," atau bahkan "kegagalan pribadi."
Ini dapat memicu perasaan rendah diri dan tidak berharga.
Kata teman Psikolog, stigma pengangguran dapat memicu masalah psikologis seperti stres, depresi, dan kecemasan. Apalagi bila lama menjadi pengangguran. Mereka bisa kesulitan memenuhi kebutuhan dasar karena tidak memiliki pendapatan rutin. Bahkan bisa menurunkan kualitas hidup secara signifikan.
Malahan stigma ini dapat menciptakan lingkungan kerja yang tidak mendukungnya. Ini membuat individu yang menganggur merasa terisolasi dan sulit berinteraksi dengan orang lain.
Dalam kasus tertentu, stereotip negatif tentang pengangguran dapat menghambat peluang mereka untuk mendapatkan pekerjaan baru, karena perusahaan mungkin tidak memperlakukan mereka dengan serius atau memberikan kesempatan yang sama.
***
Baca juga: Guru Madrasah Demo, Kesejahteraan Guru Belum Rampung
Saat ini ada tren unik yang tengah mencuri perhatian public di China. Layanan "pretend to work" atau "pura-pura kerja".
Tren penawaran di beberapa wilayah, memberikan solusi bagi mereka yang ingin menyembunyikan status pengangguran mereka dari keluarga.
Dengan biaya 30 yuan (sekitar Rp65 ribu) per hari, pengguna layanan ini mendapatkan akses ke ruang kantor lengkap dengan makan siang.
Salah satu promosi layanan ini muncul di provinsi Hebei, di mana seorang pengguna internet membagikan video ruang kantor yang diiklankan sebagai solusi bagi mereka yang merasa malu karena menganggur.
"Dengan 29,9 yuan per hari, Anda bisa ‘bekerja’ di sini dari pukul 10 pagi hingga 5 sore, termasuk makan siang," tulis iklan tersebut, seperti dikutip dari laman SCMP, Jumat (17/1/2025).
Layanan serupa juga ditawarkan oleh individu lain yang menyediakan fasilitas bagi klien untuk berpura-pura menjadi bos, lengkap dengan kursi kulit untuk berfoto. Dengan biaya 50 yuan (sekitar Rp110 ribu), mereka bisa menciptakan kesan seolah-olah bekerja di perusahaan besar.
Fenomena ini memicu diskusi panas di media sosial China, dengan topik terkait mengumpulkan lebih dari 100 juta penayangan. Beberapa orang memuji layanan ini karena dapat meredakan tekanan psikologis akibat pengangguran. Sementara yang lain mengkritiknya karena dianggap mendorong pelarian dari kenyataan.
Seorang pengamat online berpendapat bahwa layanan ini membantu orang menghadapi tekanan sosial, terutama di tengah tingginya angka pengangguran di kalangan anak muda. Namun, kritik muncul dari mereka yang mengatakan bahwa tindakan ini hanya akan menghambat pencarian pekerjaan yang sebenarnya.
Ide ini muncul, karena China menghadapi tantangan besar dalam pasar kerja, terutama bagi kaum muda. Pada Juni 2023 lalu, tingkat pengangguran pemuda berusia 16-24 tahun mencapai rekor 21,3 persen. Meski angka ini menurun menjadi 16,1 persen pada November 2023, masalah pengangguran tetap menjadi perhatian serius. Anda yang kini terkena PHK dan ingin keluar dari stigma pengangguran, bisa coba cara orang China ini. (radityakhadaffi@gmail.com)
Editor : Moch Ilham