Bupati Pati Sudewo, Mulutmu Harimaumu

surabayapagi.com
Raditya M Khadaffi

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Harian Surabaya Pagi edisi Rabu (22/1) menurunkan berita utama berjudul "Bupati Ditangkap Diduga Palak, Ngaku Dikorbankan."

Pengakuannya bisa mengundang berbagai pertanyaan. Siapa yang mengorban Sudewo? Kok bisa seorang bupati yang politisi senior jadi korban pemerasan?

Baca juga: Bupati Ditangkap Diduga Palak, Ngaku Dikorbankan

Bupati Pati Sudewo telah lama malang melintang di dunia politik terutama Jawa Tengah. Politikus Gerindra ini pernah menjadi anggota DPR dua periode.

Kini, ia tengah menjadi sorotan publik. Juga saat ramai demo soal PBB, Sudewo setelah bikin pernyataan yang menantang aksi unjuk rasa warga , viral di media sosial. Dalam sebuah video yang beredar luas, Sudewo menyatakan tak gentar meski harus menghadapi gelombang demonstrasi besar menolak kebijakan kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkoraan atau PBB-P2 sebesar 250 persen yang diberlakukan pemerintahannya.

“Siapa yang akan melakukan penolakan? Silakan lakukan,” kata Sudewo dikutip dari video pendek yang tersebar di media sosial. Ia bahkan mempersilakan masyarakat untuk tak hanya mengerahkan 5 ribu pendemo saja. Dia justru menantang warga untuk membawa 50 ribu massa berdemonstrasi. “Saya tidak akan mengubah keputusan, tetap maju,” ucap dia. Kini ia bikin sensasi lagi, ditangkap KPK, karena ia dikorbankan.

 

***

 

Sudewo bukan figur baru dalam dunia politik Jawa Tengah. Ia lahir di Pati pada 11 Oktober 1968 dan telah lama malang melintang di berbagai posisi strategis. Ia menyelesaikan pendidikan menengahnya di SMA Negeri 1 Pati pada 1988, kemudian meraih gelar sarjana Teknik Sipil dari Universitas Sebelas Maret pada 1993. Gelar magister Teknik Pembangunan ia raih dari Universitas Diponegoro pada 2001.

Sejak masa kuliah, ia menjabat sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil UNS. Ia kemudian aktif dalam berbagai organisasi, seperti menjadi Ketua Keluarga Besar Marhaenis pada 2000 dan Wakil Ketua Persatuan Insinyur Indonesia pada 2001. Karier politiknya mulai terlihat sejak dipercaya sebagai koordinator tim sukses dalam sejumlah pilkada dan pilgub, termasuk Pilkada Pacitan 2005 dan Pilgub Jateng 2008.

Sudewo kemudian maju menjadi calon anggota DPR dari Partai Demokrat pada periode 2009-2013. Pria yang pernah menjadi pegawai di Departemen Pekerjaan Umum ini pun lolos ke Senayan. Ia kemudian mencoba peruntungan politiknya lagi maju ke DPR, tapi lewat Partai Gerindra. Sudewo pun lolos ke Senayan untuk periode 2019-2024.

Di parlemen, ia tercatat sebagai anggota Komisi X lalu pindah ke Komisi V yang membidangi infrastruktur dan transportasi. Ia kini menjabat sebagai Ketua Bidang Pemberdayaan Organisasi di DPP Partai Gerindra. Apes atau kebetulan ada operasi OTT KPK.

 

***

 

Di hadapan awak media usai pemeriksaan di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Selasa (20/1/2026) malam, Sudewo secara tegas membantah keterlibatannya dan menyatakan dirinya menjadi pihak yang dikorbankan dalam perkara tersebut.

“Saya menganggap saya ini dikorbankan. Saya betul-betul tidak mengetahui sama sekali,” ujar Sudewo.

Ia menegaskan tidak pernah terlibat dalam praktik pemerasan maupun transaksi jabatan sebagaimana yang disangkakan penyidik antirasuah

"Saya menganggap saya ini dikorbankan, saya betul-betul tidak mengetahui sama sekali dan ini saya jelaskan tiga orang kepala desa yang tersangka itu pernah menghadap saya di kantor kabupaten kalau tidak salah di sekitar awal Desember, minta petunjuk soal pengisian perangkat desa," ujar dia.

Sebagao Bupati Pati, Sudewo membantah terlibat dalam tindak pidana korupsi pemerasan dalam pengisian jabatan perangkat desa di lingkungan pemerintahan Kabupaten Pati. Dia berdalih pelaksanaan pengisian perangkat desa baru dilaksanakan pada Juli 2026.

Dia pun mengklaim belum pernah membahas pengisian perangkat desa baik secara formal dan informal kepada siapa pun, termasuk kepala desa, camat, hingga organisasi perangkat daerah. Hal ini sekaligus membantah pernyataan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menyebutkan Sudewo dan orang kepercayaannya meminta sejumlah uang kepada para calon perangkat desa.

"Mengapa pada Juli? karena Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah 2026 itu hanya mampu memberikan gaji Sisa Lebih Perhitungan Anggaran [Silpa] atau tunjangan gaji perangkat desa selama empat bulan, dimulai dari September. Maka pengisiannya itu Juli," ujar Sudewo . Ia lupa telah diperiksa 1x 24 jam oleh penyidik KPK. Disana, penyidik menggali dari saksi saksi yang di OTT bareng Sudewo.

Baca juga: KPK Beber Kelihaian Bupati Pati Sudewo

 

***

 

Soal isu politisi ngaku dikorbankan, saya teringat kasus Anas sebagai Ketua Umum Demokrat tahun 2010. Saat itu, seolah tidak mau sendirian masuk bui, Nazaruddin kerap "bernyanyi" menyebut satu per satu nama rekan separtainya. Anas dan Andi pun tak luput dari tudingan Nazaruddin. Kepada media, Nazaruddin menuding Anas menerima aliran dana dari PT Adhi Karya, BUMN pemenang tender proyek Hambalang. Menurut dia, ada aliran dana Rp 100 miliar dari proyek Hambalang untuk memenangkan Anas sebagai Ketua Umum Demokrat dalam kongres di Bandung pada Mei 2010. Nazaruddin juga mengatakan, mobil Harrier yang sempat dimiliki Anas itu merupakan pemberian dari PT Adhi Karya. Lha pada kasus Sudewo, ditemukan uang Rp 2,6 miliar? Uang apa pak Sudewo? KPK menyebut hasil pemerasan kepala desa di wilayahnya.

Saya jadi teringat penetapan status tersangka skandal Hambalang dapat menjadi akhir karier politik Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum.

 

***

 

Sudewo yang mengaku dikorbankan bisa jadi tak pernah membaca berita tentang mantan Perdana Menteri Inggris Winston Churcill. PM Inggris ini mengatakan, politisi dapat terbunuh berkali-kali dalam politik. Setelah terbunuh, politisi tersebut dapat bangkit kembali.

Nah, apakah kelak Sudewo, tak bisa bangkit lagi seperti sebelum di OTT KPK.

Ia juga mesti belajar dari Nixon.

Baca juga: Wali Kota Bergelar Rentengan, Ternyata Diduga Pemeras!

Pada tahun 1960, politisi Partai Demokrat John F Kennedy mengalahkan Nixon dalam pemilihan presiden. Padahal, saat itu, Nixon menjabat sebagai Wakil Presiden AS, mendampingi Presiden Dwight Eisenhower. Selang 8 tahun kemudian, Nixon kembali menjadi calon presiden dan berhasil mengalahkan Hubert H Humphrey. Nixon dilantik menjadi Presiden ke-37 AS.

Apakah gak terpikir setelah jalani hukuman, Sudewo bisa calonkan Gubernur Jateng. Ingat pesan Winston Churcill. PM Inggris ini mengatakan, politisi dapat terbunuh berkali-kali dalam politik. Setelah terbunuh, politisi tersebut dapat bangkit kembali.

 

***

 

Akal sehat saya tergelitik dengan pengakuan Sudewo sebagai orang yang dikorbankan? Siapa? Apa masuk akal ada sebagian rakyat mengorbankan bupatinya?

Bisa jadi Sudewo asal omong usai diOTT KPK. Ia saat bicara semacam itu lupa peribahasa dalam komunikasi sehari-hari ‘mulutmu adalah harimau-mu’. Sejak sekolah SD, saya diajari peribahasa itu yang berarti bahwa perkataan bisa menjadi “senjata tajam” sehingga dapat menyakiti orang lain jika tidak dijaga. Nah Pak Sudewo.

Filosofinya, apa yang kita katakan dan tidak katakan adalah sama pentingnya yaitu jagalah perkataan sebab kita tidak bisa kendalikan efeknya. Bahkan ada ulama yang berpesan, serahkanlah mulut kita kepada Tuhan sebagai senjata kebenaran. Ini makna

pentingya menjaga lisan serta dampak negatifnya.

 Ulama ulama akhlak saya pahami bahas soal lisan terkait kejujuran (ash-shidqu). Sedang dalam Al-Qur’an, kata lisan digunakan di beberapa tempat dan menunjukan beragam makna.

 Rasul Saw. menganjurkan kepada kita untuk berpikir dan menimbang lebih dulu sebelum mengatakan sesuatu, agar lisan tidak memberikan dampak buruk pada pemiliknya di dunia dan di hari akhir nanti. Sesuai dengan pepatah menjaga lisan, “mulutmu harimaumu”. Saya dianjurkan oleh seorang ulama agar selalu menjaga lisan, sebab bisa berdampak sosial. Ini sebagai wujud penghormatan antar sesama insan. Halo pak Sudewo. (radityakhadaffi@gmail.com)

Editor : Moch Ilham

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru