Kasih Karunia

Orang-orang Curang

surabayapagi.com

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Menurut Alkitab, orang-orang yang curang adalah mereka yang melakukan ketidakjujuran dalam berdagang (menggunakan timbangan palsu), berbohong, memfitnah, tidak adil dalam peradilan, serta melakukan pemerasan atau penindasan terhadap sesama. Perbuatan ini dianggap kekejian bagi Tuhan dan pelakunya akan menuai bencana, kebinasaan, serta mendatangkan murka Allah. 

Dalam dunia peradilan orang curang digambarkan memutarbalikkan kebenaran, membela yang salah, atau tidak adil dalam mengadili sesamanya.

Baca juga: Kebenaran Sesungguhnya

Alkitab dengan tegas melarang ketidakadilan dan kecurangan dalam peradilan. Kecurangan ini dipandang sebagai kekejian di hadapan Tuhan. Hukum Taurat memerintahkan hakim untuk adil, tidak memihak orang miskin atau kaya, tidak menerima suap, dan tidak memutarbalikkan hukum demi keuntungan pribadi atau tekanan pihak berkuasa. Allah mencintai keadilan dan akan menghakimi setiap pelaku ketidakadilan. 

Hukum Tuhan (Imamat 19:15) menekankan agar tidak ada keberpihakan, baik kepada orang kecil (miskin) maupun orang besar (kaya/berkuasa), melainkan mengadili dengan kebenaran. Suap dianggap memutarbalikkan perkara dan merusak keadilan.

Dengan demikian, prinsip peradilan dalam Alkitab berakar pada kejujuran, integritas, dan perlindungan terhadap hak asasi manusia, bukan berdasarkan posisi sosial atau suap. 

Alkitab banyak mengajar mengenai topik ketidakadilan. Kita tahu bahwa Allah berkenan pada keadilan; kita juga tahu bahwa Ia tidak sepihak dengan ketidakadilan, bahkan dalam pengertiannya yang paling mendasar. Saya baca, penulis kitab Amsal mencatat: "Dua macam batu timbangan adalah kekejian bagi TUHAN, dan neraca serong itu tidak baik" (Amsal 20:23). Keadilan adalah tumpuan takhta Allah (Mazmur 89:14), dan Allah tidak pilih-kasih, baik dalam halnya timbangan yang tidak tepat maupun sistem hukum yang tidak adil (Imamat 19:15; Yakobus 2:8-9). Ada berbagai ayat lain, baik di dalam Perjanjian Lama maupun Baru, yang mencerminkan kebencian Allah terhadap ketidakadilan (2 Tawarikh 19:7; Ayub 6:29, 11:14; Amsal 16:8; Yehezkiel 18:24; Roma 9:14).

Baca juga: Matius 21:12-13

Di dalam kitab Yakobus, hati Allah terhadap ketidakadilan terlihat semakin jelas. Allah tidak picik atau obsesif. Keadilan tidak Ia hargai hanya demi keteraturan. Ada berbagai isu mendasar yang berhubungan dengan keadilan. Di dalam Yakobus 2, kita melihat sebuah dikusi tentang pilih kasih. Yakobus sedang berbicara kepada sebuah kelompok orang percaya yang telah menghakimi sesamanya dan membeda-bedakan mereka menurut kedudukan sosial mereka.

Kata pendeta saya, di dalam hati manusia, ketidakadilan merupakan tanda dari keberpihakan, penghakiman, dan kekurangan kasih. Ketika kita berusaha benar-diri menurut standar manusia, kita mudah melupakan tolak ukur Allah: kesempurnaan. Apapun yang tidak sempurna, menurut Allah, adalah timbangan yang tidak seimbang.

Oleh karena kejatuhan umat manusia ke dalam dosa, setiap manusia tidak adil. Banyak tindakan kita yang tidak selaras dengan kebenaran. Kita melakukan kesalahan, kita kadang panas dan kadang dingin, kita melakukan hal-hal yang bertolak belakang. Sebagaimana diungkapkan Yakobus, "Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal" (Yakobus 3:2). Hidup kita penuh dengan ketidakadilan, ketika terkadang kita menghakimi dengan tidak adil dan kadang menetapkan standar yang gagal kita pelihara sendiri.

Baca juga: Yakobus 4:7

Satu-satunya cara menghindari ketidakadilan adalah menerima bahwa Allah sepenuhnya adil dan manusia pada dasarnya tidak adil, tidak sempurna, dan kita harus menerima kebenaran Allah (1 Yohanes 1:5-9). Hanya ketika kita tidak lagi membenarkan diri dapatkah kita percaya pada Dia yang membenarkan orang yang fasik (Roma 4:5). Kemudian, sebagai anak-anak Allah, barulah kita dapat melihat dengan jelas ketidakadilan di sekitar kita dengan lensa sikap yang berbelas kasihan (Mikha 6:8; Yakobus 1:27).

Yesus sepenuhnya adil; tidak ada sedikitpun ketidakadilan di dalam-Nya. Puji Tuhan. (Maria Sari)

Editor : Moch Ilham

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru