Jokowi Ajak PSI Mati-matian, Diduga Pertahankan Dinastinya

surabayapagi.com
Raditya M Khadaffi

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Judul utama harian Surabaya Sore edisi Rabu (4/2) kemarin "PSI Siap Mati-matian Ikuti Jokowi".

Judul ini terkesan bombastis. Tapi bila dibaca isi berita, judul ini diilhami pidato Jokowi, saat memberikan arahan dalam Rakernas PSI, di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (31/1/2026).

Baca juga: Pejabat Bea Cukai dan Pajak "Dihajar KPK"

Bagi wartawan, narasi pidato Jokowi, masuk elemen news value. 

Pidatonya mendapat apresiasi luar biasa. 

Jokowi membacakan pidatonya dengan berapi-api. Hadiri pun tampak terpukau.

News value

 (nilai berita) adalah kriteria penentu layak tidaknya suatu peristiwa diangkat menjadi berita, yang terdiri dari unsur aktualitas (kebaruan), kedekatan (proximity), ketokohan (prominence), dampak (impact), konflik, ketidakbiasaan (oddity), dan human interest. Unsur-unsur ini memastikan informasi penting, relevan, dan menarik perhatian publik. 

 

***

 

Saat ditemui seusai acara, Jokowi menegaskan PSI perlu disemangati, mengingat Indonesia memerlukan partai dengan politik kebaikan. Maka itu, Jokowi berjanji dia akan turun gunung sampai ke tingkat kecamatan demi PSI.

Pengamat komunikasi politik dari Universitas Esa Unggul Jamiluddin Ritonga mengatakan Jokowi terlihat akan totalitas membantu PSI pada Pileg 2029. Dia menyebut, Jokowi setidaknya akan mengerahkan semua kemampuan dan kekuatannya untuk mengantarkan PSI ke Senayan. "Mati-matian yang dimaksud Jokowi juga dapat berlalu untuk Pilpres 2029. Jokowi akan totalitas mengantarkan pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka menjadi Presiden-wakil Presiden dua periode," ujar Jamiluddin kepada Kompas.com, Senin (2/2/2026).

Maka itu, Jamiluddin menjelaskan, totalitas Jokowi di PSI adalah untuk kepentingan Pileg dan Pilpres. Hanya saja, melalui dua hajatan besar politik ini, Jamiluddin menduga Jokowi bisa jadi ingin memperkuat dinasti politiknya di kancah nasional. Sebab, jika PSI lolos ke Senayan, maka posisi anaknya, Kaesang Pangarep sebagai Ketua Umum PSI akan semakin mapan, mengakar, dan tak tergoyahkan. Dia meyakini kekuatan PSI dengan Kaesang akan menopang dinasti politik yang dibangun Jokowi.

Sementara melalui Pilpres, Jokowi ingin anaknya yang lain, Gibran, tetap mendampingi Prabowo untuk dua periode.

Juga pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Adi Prayitno. Ia mengatakan, jika PSI berhasil lolos ke DPR, maka Jokowi akan mendapat sanjungan setinggi langit.

Baca juga: PSI Siap Mati-matian Ikuti Jokowi

Adi menjelaskan, hubungan Jokowi dan PSI melampaui urusan formalitas kartu tanda anggota (KTA) ataupun legal formal lainnya. Menurut dia, imam besar politik dari PSI adalah Jokowi. Selain itu, kiblat dan ideologi politik PSI juga hanya Jokowi. "Hari ini PSI banyak dibicarakan publik karena Jokowi blak-blakan akan total bekerja untuk menangkan PSI. PSI seakan dapat suntikan energi baru setelah Jokowi berjanji full power membesarkarkan PSI," jelasnya. 

"Tinggal diuji, apakah Jokowi masih sakti atau tidak setelah tak lagi jadi Presiden dan bukan PDI-P," sambung Adi. Adi menyampaikan, selama ini ada dia pendapat soal efek Jokowi ke PSI. Pertama, ada pihak yang yakin bahwa Jokowi tetap sakti meski sudah tak lagi jadi Presiden dan pisah dari PDI-P. "Tak heran saat Jokowi terang-terangan ke PSI, semangat PSI terlihat berlipat ganda untuk menang, minimal lolos ke Parlemen," kata Adi.

Yang kedua, kata Adi, ada keyakinan bahwa Jokowi tak lagi sakti setelah lengser dari kursi Presiden dan pisah dari PDI-P. Sebab, Jokowi dianggap tak lagi punya instrumen apapun setelah tidak menjabat sebagai Kepala Negara.

Itu analisis dua pengamat politik nasional yang saya baca sehari kemarin. Apakah benar Jokowi sedang membangun dinasti politik?

 

***

 

Baca juga: Pimpinan BUMN Akal-akalan, Perlu Diungkap Modusnya

Presiden Joko Widodo pernah beraksi hadapi tudingan sejumlah pihak kalau dirinya sedang membangun dinasti politik. Ini lantaran partisipasi dua anaknya, yaitu Kaesang Pangarep yang menjadi ketua umum PSI dan Gibran Rakabuming Raka maju pada Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden 2024.

Menjawab tudingan itu Jokowi tak ambil pusing dan menyerahkan pada masyarakat. " Serahkan masyarakat aja," kata Jokowi sambil tertawa saat ditanya wartawan mengenai hal tersebut di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Jumat (13/10/2023).

Tudingan itu mulai santer saat ada gugatan batas usia capres dan cawapres di Mahkamah Konstitusi yang dihubung-hubungkan dengan Gibran.

Sejak tahun 2023 kasak kusuk bahwa presiden Jokowi sedang membangun politik dinasti, sudah mulai mencuat. Anaknya, Gibran Rakabuming menjadi walikota Surakarta, menantunya, Bobby Nasution, menjadi walikota Medan, dan anak bungsunya, Kaesang Pangarep, diangkat menjadi ketua Partai Solidaritas Indonesia (PSI) tanpa berjuang panjang dari bawah partai tersebut?”. Survei Saiful Mujani menemukan  63 persen responden menjawab “tidak tahu.” Dari yang tahu (37%), 68 persen menyatakan percaya pandangan bahwa Jokowi sedang membangun politik dinasti. Dari yang tahu itu juga, 75 persen menyatakan tidak suka presiden Jokowi membangun politik dinasti.

Demikian hasil survei yang dilakukan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada 29 Oktober – 5 November 2023. Hasil survei ini disampaikan pendiri SMRC, Prof. Saiful Mujani, dalam program ‘Bedah Politik bersama Saiful Mujani’ episode “Sentimen Publik atas Dinasti Jokowi” di kanal Youtube SMRC TV pada Kamis, 16 November 2023.

Ya politik bukan permainan antar-malaikat. Politik adalah permainan antar-manusia yang memiliki keinginan dan nafsu berkuasa. Pak Jokowi, manusia seperti kita.

Catatan jurnalistik saya, isu itu terjadi pada saat Jokowi sedang berkuasa. Saat itu, anggota keluarganya (anak dan menantu) masuk ke dalam kekuasaan. Di situ potensi abuse of power terjadi. Kini Jokowi telah lengser. Apakah Jokowi masih sakti mendorong anak menantunya berkuasa lagi? Walahualam. (radityakhadaffi@gmail.com)

Editor : Moch Ilham

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru