Nasionalismenya Luntur 

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Raditya M Khadaffi
Raditya M Khadaffi

i

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Seorang alumni penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan atau LPDP, Dwi Sasetyaningtyas, alias DS selama sepekan ini dikecam publik gegara pernyataan kontroversi 'cukup saya yang WNI, anak jangan'.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pun bereaksi. Purbaya memastikan suami si alumni yang juga awardee LPDP bakal mengembalikan seluruh dana beasiswa beserta bunganya.

Sikap Dwi Sasetyaningtyas, alumni penerima beasiswa LPDP, banyak pihak menyayangkan. Sikapnya melalui video yang dia unggah di media sosial dengan memamerkan paspor kewarganegaraan asing untuk anaknya. 

Akal sehat saya langsung bereaksi  pernyataannya  tidak mencerminkan nasionalisme seorang bangsa Indonesia. 

Suka tidak suka, pernyataannya  telah melukai kebatinan masyarakat Indonesia yang menontonnya.

Kritik dan hujatan pecah di tanah air, sehingga harus "memaksanya" untuk membuat pernyataan maaf yang juga dia unggah di media sosial.

 Tak cukup berhenti di situ, suaminya-yang juga penerima beasiswa LPDP, juga terkena imbasnya dan dipanggil pemerintah Indonesia terkait kewajibannya yang belum tuntas sebagai penerima beasiswa.

Jika harus jujur, fenomena yang terjadi pada Dwi apa jamak menghinggapi mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di luar negeri?. Bedanya, Dwi bertindak di luar kontrol dan cenderung tidak memikirkan konsekuensi dari ucapan dan sikapnya.

Konon banyak mahasiswa Indonesia yang bersekolah ke luar negeri, terutama ke Amerika Serikat dan Eropa, cenderung enggan untuk pulang ke Indonesia dengan alasan ingin berkarir di luar negeri, pendapatan lebih baik, dan iklim politik, serta sosial budaya yang lebih baik. Yang lebih ekstrem adalah keputusan mereka untuk berganti kewarganegaraan. Sementara Indonesia adalah sebuah negara yang menolak keras praktik kewarganegaraan ganda, berbeda dengan mayoritas negara-negara di Eropa.

 

***

 

Sikap Dwi dan juga mahasiswa Indonesia lainnya yang menempuh pendidikan di luar negeri ini patut dicermati secara saksama oleh pemerintah. Kasus seperti ini menurut akal sehat saya bukanlah persoalan yang sifatnya kasuistik dan temporer, tapi dapat menggelinding menjadi bom waktu yang dapat meledak kapan saja.

Dari perspektif sosial ekonomi, kasus seperti ini mencerminkan ketidaksiapan warga negara Indonesia yang hendak menempuh pendidikan ke luar negeri, khususnya negara-negara maju, untuk menghadapi rumpang budaya dan ekonomi.

Seperti mengutip dari laman detikcom, Psikiater dr Lahargo Kembaren, menyinggung  dinamika psikologis di balik unggahan hal pribadi dan cenderung sensitif. Misalnya, berkaitan dengan kebutuhan validasi.

 

***

 

Kita hampir satu abad menjalani usia kemerdekaan Indonesia. Apakah nilai nasionalisme anak muda dan keberagamaan ini masih cukup aman-aman saja?

Ketua Umum Nasyiatul Aisyiyah Diyah Puspitarini pada Pengajian Umum PP Muhammadiyah, Jum’at (15/10/2021) mengungkapkan sebuah data bahwa 25% siswa dan 21% guru menyatakan Pancasila tidak relevan lagi. Ini menjadi menarik karena  akhir-akhir ini sering sekali mendengar bahwa jargon-jargon saya Indonesia, saya Pancasila di kalangan anak-anak muda, tapi nyatanya ada sebagian anak-anak muda kita bahkan ada guru juga yang menyatakan bahwa Pancasila sudah tidak relevan lagi.

Saya yang generasi milenial kadang bertanya sudah berapa banyak anak muda Indonesia  yang luntur nasionalismenya?

Apakah Modernisasi, dan globalisasi menjadi penyebabnya?

Apakah era globalisasi anak-anak muda tidak cukup akrab dengan bangsanya sendiri? Juga apa tidak cukup bangga dengan bangsanya sendiri seperti DS penerima bea siswa LPDP?

Sepertinya DS tidak memahami sejarah bangsa. 

Mengingat sejak awal ketika belajar di Sekolah kita selalu diajarkan tentang pahlawan-pahlawan bangsa dan nasionalisme. Tapi  apakah pengajaran itu membekas pada DS?

Jangan jangan pelajaran nasionalisme  masih diterima secara formalitas?. 

Saya menduga DS memahami nasionalisme  hanya sekedar saat upacara bendera, tapi saat menghadiri forum-forum internasional  nasionalisme  yang  diperlihatkan bukan nasionalisme bangsa Indonesia yang semestinya.? Walahualam. ([email protected])

Berita Terbaru

Santoso Utomo dituntut 2 Bulan Penjara, Kuasa Hukum: Kesalahan Administratif Bisa Diperbaiki Tanpa Penjara

Santoso Utomo dituntut 2 Bulan Penjara, Kuasa Hukum: Kesalahan Administratif Bisa Diperbaiki Tanpa Penjara

Kamis, 15 Okt 2026 21:42 WIB

Kamis, 15 Okt 2026 21:42 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya– Kuasa hukum Direktur Utama PT Bentang Persada Internusa (BPI), Santoso Utomo Tjioe, meminta majelis hakim Pengadilan Negeri S…

Konsisten Kawal Aspirasi, Deni Wicaksono Terima Emas Jer Basuki Mawa Beya

Konsisten Kawal Aspirasi, Deni Wicaksono Terima Emas Jer Basuki Mawa Beya

Kamis, 15 Okt 2026 21:20 WIB

Kamis, 15 Okt 2026 21:20 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Wakil Ketua DPRD Jawa Timur dari Fraksi PDI Perjuangan, Deni Wicaksono, menerima Lencana Penghargaan Jer Basuki Mawa Beya Kategori …

HUT ke-81 Jatim, Musyafak Tekankan Pemerataan Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat

HUT ke-81 Jatim, Musyafak Tekankan Pemerataan Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat

Kamis, 15 Okt 2026 20:25 WIB

Kamis, 15 Okt 2026 20:25 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Ketua DPRD Jawa Timur Musyafak Rouf menegaskan pertumbuhan ekonomi harus berjalan seiring dengan pemerataan pembangunan dan p…

Pemkab Sumenep Siapkan Dana Cadangan Pilkada 2029 Rp75 Miliar

Pemkab Sumenep Siapkan Dana Cadangan Pilkada 2029 Rp75 Miliar

Kamis, 15 Okt 2026 20:22 WIB

Kamis, 15 Okt 2026 20:22 WIB

SURABAYAPAGI.com, Sumenep - Dana Cadangan Pilkada 2029 disiapkan Rp75 Miliar. Hal tersebut dinyatakan Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo melalui Wakil…

Menyusuri Lima Ruas PISEW yang Menguatkan Program Jamula

Menyusuri Lima Ruas PISEW yang Menguatkan Program Jamula

Kamis, 15 Okt 2026 18:22 WIB

Kamis, 15 Okt 2026 18:22 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Lamongan - Pada 2026, lima ruas jalan di Kabupaten Lamongan dibangun melalui program Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah…

Klunting, Senjata Ampuh PKK Tekan Stunting

Klunting, Senjata Ampuh PKK Tekan Stunting

Kamis, 15 Okt 2026 18:21 WIB

Kamis, 15 Okt 2026 18:21 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Lamongan - Upaya penurunan stunting di Kabupaten Lamongan menunjukkan capaian positif. Prevalensi stunting yang mencapai 27,5 persen pada…