Agendakan Atraksi Wisata bertajuk 'Janda Reni'

Pemkab Banyuwangi Komitmen Lestarikan Ragam Kuliner Masyarakat Osing

surabayapagi.com
Warga sajikan sego lemeng dan kopi uthek dalam agenda Janda Reni di Desa Banjar, Kecamatan Licin, Banyuwangi, Jawa Timur.

SURABAYAPAGI.com, Banyuwangi - Sebagai salah satu upaya melestarikan ragam kuliner lokal masyarakat Osing, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi, Jawa Timur, berkomitmen dengan warisan kuliner kuno yang terus dilestarikan melalui agenda bertajuk "Janda Reni". Melalui agenda "Janda Reni" yang merupakan bagian dari kalender Banyuwangi Attraction 2026, masyarakat serta wisatawan dari berbagai daerah bisa menikmati sego lemeng dan kopi uthek yang disediakan oleh warga di sepanjang jalan desa.

Salah satunya melestarikan ragam kuliner dan salah satunya sego lemeng dan kopi uthek yang menjadi hidangan otentik masyarakat Osing dari Desa Banjar Kecamatan Licin. Dua sajian ini kaya akan nilai filosofi yang menggambarkan cara pandang hidup masyarakat Osing di Desa Banjar.

Baca juga: Lewat Ikawangi, Bupati Ipuk Komitmen Dorong Penguatan Ekonomi hingga Investasi

"Masyarakat Banyuwangi memiliki akar yang kuat pada tradisi, tidak hanya seni dan budaya tapi juga kulinernya, karena itu pemerintah daerah berkomitmen untuk terus melestarikannya dengan membalutnya menjadi sebuah agenda menarik yang sekaligus menjadi atraksi wisata," jelas Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Selasa (21/04/2026).

Baca juga: Periode Januari-Maret, Pemkab Banyuwangi Catat Produksi Padi Capai 160.239 ton

Sementara untuk proses pembuatan sego lemeng memang tergolong unik dan membutuhkan kesabaran ekstra, nasi yang sudah dibumbui dicampur dengan cacahan daging ayam atau ikan tuna cincang sebagai isian utamanya. Adonan nasi tersebut kemudian dibungkus rapi dengan daun pisang, kemudian dimasukkan ke dalam potongan bambu muda yang masih segar. 

Baca juga: Tingkatkan Kenyamanan, Pavingisasi Terminal Sarongan Banyuwangi Terus Dikebut Capai 50 Persen

Lanjut untuk penggunaan bambu muda ini dipercaya memberikan aroma dan tekstur yang khas pada hasil akhir nasi nantinya. Bambu-bambu tersebut kemudian dibakar di atas perapian menggunakan kayu bakar selama kurang lebih empat jam, dan proses pembakaran yang lama ini memastikan kematangan yang sempurna hingga ke bagian terdalam nasi. by-02/dsy

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru