Dari Pengguna ke Kreator, Indonesia Bidik Nilai Ekonomi dari Transformasi Digital

surabayapagi.com

SurabayaPagi, Jakarta - Transformasi digital di Indonesia memasuki fase baru, dari sekadar perluasan akses menuju penciptaan nilai ekonomi berbasis kreativitas dan teknologi.

Hal ini seiring meningkatnya jumlah masyarakat yang terhubung secara digital, namun belum sepenuhnya diikuti dengan optimalisasi peluang ekonomi.

Baca juga: Indosat Ooredoo Hutchison Capai Pertumbuhan Kuat 15 Persen Pada EBITDA

Data Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) 2025 menunjukkan adanya kesenjangan antara tingkat akses dan kemampuan digital dengan pemanfaatannya untuk menghasilkan nilai tambah, seperti pengembangan usaha, konten digital, maupun karier berbasis teknologi.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Indosat Ooredoo Hutchison, Adobe, dan Kementerian Ekonomi Kreatif menjalin kolaborasi guna memperkuat kapasitas masyarakat, khususnya generasi muda, dalam memanfaatkan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) untuk kegiatan produktif.

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menyatakan bahwa penguatan ekonomi kreatif berbasis teknologi menjadi salah satu fokus pemerintah, terutama dalam mendorong pemanfaatan kekayaan intelektual sebagai sumber pertumbuhan ekonomi.

“Di era AI, fokus kami adalah memanfaatkan teknologi untuk memperkuat kreativitas manusia agar dapat dikembangkan menjadi peluang ekonomi yang lebih besar,” ujarnya.

Kolaborasi ini mengintegrasikan dukungan infrastruktur dan jangkauan pengguna, pengembangan keterampilan berbasis teknologi, serta penguatan ekosistem ekonomi kreatif.

Program yang dijalankan mencakup pelatihan, akses perangkat kreatif, hingga peluang monetisasi bagi kreator.

Dari sisi industri, langkah ini mencerminkan meningkatnya perhatian terhadap ekonomi kreator (creator economy) sebagai salah satu sektor potensial dalam perekonomian digital Indonesia.

Dengan jumlah pengguna internet yang besar, Indonesia dinilai memiliki basis pasar dan talenta yang kuat untuk mengembangkan sektor ini.

Baca juga: IM3 Kampanye 'Menjadi Indonesia' Libatkan Kolaborasi Musisi Lintas Genre

Presiden Direktur dan CEO Indosat Ooredoo Hutchison Vikram Sinha mengatakan, pemanfaatan teknologi harus diikuti dengan akses terhadap keterampilan dan peluang ekonomi agar dapat memberikan dampak nyata.

Sementara itu, Adobe menilai Indonesia sebagai pasar strategis dalam pengembangan ekonomi kreator berbasis teknologi.

Perusahaan tersebut bahkan menjadikan Indonesia sebagai negara pertama dalam peluncuran program monetisasi kreator berbasis platform digitalnya.

Program ini memungkinkan kreator memperoleh pendapatan dari karya digital yang dihasilkan, sekaligus membuka akses terhadap pasar yang lebih luas.

Selain itu, penyediaan materi pelatihan dan perangkat kreatif berbasis AI diharapkan dapat meningkatkan daya saing talenta lokal.

Baca juga: Gelar Konser di Surabaya Untuk Rasakan Jaringan Baru

Di sisi lain, pemerintah melalui program Ekraf Goes to School and Campus (ECHOES) berupaya memperluas literasi ekonomi kreatif dan kesiapan generasi muda dalam menghadapi kebutuhan industri.

Program ini menekankan penguasaan keterampilan praktis, pemahaman kekayaan intelektual, serta adaptasi terhadap perkembangan teknologi.

Penguatan kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta dinilai menjadi kunci dalam mempercepat pertumbuhan ekosistem ekonomi kreatif yang inklusif.

Sinergi ini diharapkan dapat mendorong lebih banyak masyarakat beralih dari sekadar pengguna teknologi menjadi pelaku ekonomi digital.

Dengan tren tersebut, ekonomi kreatif berbasis teknologi dan AI diproyeksikan menjadi salah satu sumber pertumbuhan baru, seiring meningkatnya peran kreator dalam menciptakan nilai tambah dan membuka peluang kerja di era digital.

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru