SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Direktur Perubahan Iklim dan Pertumbuhan Hijau Bank Pembangunan Afrika (African Development Bank/AfDB), Anthony Nyong memperkirakan Super El Nino akan memangkas ekonomi negara-negara yang terdampak hingga menimbulkan kerugian sebesar US$ 10 miliar-20 miliar.
“Peristiwa ini saja akan memangkas Produk Domestik Bruto (PDB) negara-negara yang paling terdampak sekitar 1% hingga 2% rata-rata, atau setara sekitar US$ 10 miliar hingga US$ 20 miliar di seluruh benua,” kata Nyong dikutip dari Reuters, Minggu (26/7/2026).
Baca juga: Terus Dikebut untuk Petani, Pembangunan Bendungan Bagong di Trenggalek Sudah Rampung 59 Persen
Nyong memperkirakan petani di Afrika telah kehilangan pendapatan hampir US$ 330 juta sepanjang tahun ini imbas adanya kekeringan. Sementara itu, sektor perikanan juga diprediksi terpukul akibat meningkatnya suhu laut dan badai.
Di sisi lain, kebutuhan pembiayaan untuk menghadapi dampak perubahan iklim diperkirakan melonjak. Nyong mengatakan Afrika membutuhkan dana hingga US$ 100 miliar tahun ini, jauh lebih tinggi dibanding kebutuhan adaptasi iklim sebelumnya sekitar US$ 50 miliar.
Baca juga: Kementan Refocussing Anggaran untuk Hadapi El Nino
“Kebutuhan pendanaan adaptasi iklim sebenarnya sudah sekitar US$ 50 miliar untuk 12 bulan ke depan. Kini El Niño menambah kebutuhan sekitar US$ 30 miliar hingga US$ 50 miliar lagi,” ujarnya.
Selain kerugian ekonomi, Nyong memperingatkan fenomena Super El Nino berpotensi memicu migrasi massal dari negara-negara yang paling terdampak, seperti Sudan, Sudan Selatan, Republik Demokratik Kongo, Somalia, Mali, Burundi, hingga Nigeria.
Baca juga: Kemendag Jadikan Maroko Sebagai Hub untuk Pasar Afrika
“Ketika El Nino ini datang, akan terjadi migrasi massal,” katanya. ece, afp
Editor : Redaksi