SURABAYAPAGI.com, Trenggalek - Selama musim kemarau saat ini, BPBD Kabupaten Trenggalek mencatat terdapat 25 desa di 10 kecamatan yang mengalami kekurangan air bersih. Kondisi ini terutama dirasakan warga yang mengandalkan sumur, sebagai sumber air untuk kebutuhan sehari-hari. Pasalnya, saat ini sumur-sumur mulai mengering dan tidak mengeluarkan air.
Sehingga, warga yang terdampak kekeringan tersebut harus harus menggantungkan air bersih dari pasokan BPBD. Oleh karenanya, saat ini BPBD tengah melakukan sejumlah penanganan dengan terus dilakukan dengan melakukan dropping air bersih ke sejumlah wilayah terdampak.
Baca juga: Masa Tanam Ketiga: 156 Waduk di Gresik Mengering, Petani Mulai Gelisah Kebutuhan Pasokan Air
Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek Stefanus Triadi Atmon mengatakan untuk distribusi air bersih dilakukan berdasarkan laporan dan kebutuhan masyarakat. BPBD juga menyesuaikan distribusi dengan kemampuan armada yang tersedia.
Baca juga: Cegah Bencana Kekeringan, Pemkab Lamongan Dropping Air Bersih ke 3.095 KK
"Kali ini kami mendistribusikan air bersih ke empat desa, dua kecamatan, dengan jumlah 40 ribu liter air bersih. Dan kita setiap hari melakukan dropping air bersih untuk warga masyarakat yang terdampak kekeringan," Kata Stefanus, Rabu (19/08/2026).
Bahkan sebagian warga mengalami kesulitan mendapatkan air bersih, sehingga meminta bantuan dropping air dari pemerintah. Salah satu wilayah yang menerima bantuan adalah Desa Karangsoko, Kecamatan Trenggalek. Dan dalam penanganan kekeringan, BPBD Trenggalek juga mendapat dukungan dari sejumlah pihak. Di antaranya balai besar wilayah Sungai Brantas dan PDAM.
Baca juga: Musim Kemarau, Pamekasan Dropping Air Bersih ke 82 Desa Terdampak Kekeringan
"Kekeringan di desa kami mulai dirasakan sejak Juli lalu. Sebagian sumur warga masih mengeluarkan air, tetapi debitnya terus menurun. Air sumur hanya cukup untuk kebutuhan memasak," ujar Sringatin, warga setempat. tr-01/dsy
Editor : Redaksi