SURABAYAPAGI.com, Situbondo - Guna memenuhi kebutuhan air bersih selama musim kemarau, warga di Dusun Mindi, Desa Curah Tatal, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Situbondo, mengandalkan sumber mata air berwarna putih untuk keperluan minum hingga mandi yang hampir setiap pag dan sore hari.
"Setiap sore dan pagi saya ambil air. Terkadang dua hari sekali untuk minum dan mandi," jelas Amir (36), salah satu warga sekitar, Selasa (08/09/2026).
Diketahui, sumber mata air tersebut berada di bawah bukit dengan kondisi debit yang semakin kecil. Di atas sumber mata air tumbuh sejumlah pohon bambu. Meski debitnya kecil, sumber mata air tersebut masih dimanfaatkan sekitar 170 keluarga di Dusun Mindi untuk memenuhi kebutuhan air selama kemarau.
Dan untuk mencapai sumber mata air, warga harus menuruni bukit dengan kondisi medan yang cukup curam. Warga setempat biasanya menggunakan sepeda motor yang telah dimodifikasi agar dapat melintasi medan tersebut. "Bagi orang luar desa tidak berani sepeda motor, bagi warga sini bisa naik motor, motornya ya modifikasi semua," katanya.
Lebih lanjut, Amir mengatakan, air dari sumber tersebut memang berwarna putih menyerupai susu yang telah diencerkan. Namun, warga setempat telah lama memanfaatkannya untuk kebutuhan sehari-hari. "Airnya terlihat mirip susu pudar," kata dia.
Saat dicoba, air tersebut memiliki rasa seperti air biasa. Warga biasanya memasak air terlebih dahulu sebelum mengonsumsinya. Meski warga sebenarnya telah memiliki sumur bor yang menggunakan mesin listrik. Namun, sumur tersebut tidak dapat digunakan saat kemarau karena mengalami kendala teknis dan tidak lagi mengeluarkan air.
Menindaklanjuti hal tersebut, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Situbondo Timbul Surjanto mengatakan, kemarau panjang telah berdampak terhadap 4.271 kepala keluarga terdampak kekeringan. Pemerintah mulai menyalurkan bantuan air bersih ke sejumlah wilayah terdampak. "Ada 4.271 keluarga yang terdampak kekeringan dan sudah kami mulai pengiriman air," ujarnya. st-01/dsy
Editor : Redaksi