Badan Geologi Ingatkan Ancaman Bahaya Erupsi dari Lontaran Batu Pijar disertai Hujan Abu Lebat, Bisa

BAKAL TERJADI LETUSAN GUNUNG ANAK KRAKATAU LAGI

surabayapagi.com

SURABAYAPAGI.com – Badan Geologi Kementerian ESDM menjelaskan perkembangan terbaru terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau.

BADAN GEOLOGI mengatakan Anak Krakatau masih berpotensi mengalami erupsi karena tingginya aktivitas vulkanik yang berlangsung saat ini.

Baca juga: HINGGA SEMALAM, 373 PENERBANGAN TAK DITERBANGKAN

“Aktivitas vulkanik G. Anak Krakatau saat ini masih tinggi ditandai dengan terekamnya gempa-gempa yang berasosiasi aktivitas vulkanik G. Anak Krakatau,” tulis akun X Badan Geologi, Senin (7/9/2026).

“Hal ini menunjukkan bahwa erupsi dapat kembali terjadi sewaktu-waktu,” sambungnya.

Badan Geologi terus memantau perkembangan dinamika vulkanisme Gunung Anak Krakatau secara berkala atau jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan. Saat ini tingkat aktivitas dan rekomendasi Gunung Anak Krakatau masih pada Level III (Siaga).

Badan Geologi menyatakan masih ada kemungkinan besar terjadinya letusan dalam beberapa periode waktu selanjutnya.

“Ancaman bahaya erupsi berasal dari lontaran batu pijar disertai hujan abu lebat. Potensi ancaman bahaya lainnya berasal dari aliran lava jika erupsi menerus kembali terjadi,” urainya.

Sejumlah gunung di Indonesia mengalami erupsi secara bersamaan. Badan Geologi (B G) Kementerian ESDM menjelaskan soal fenomena tersebut.

Badan Geologi melalui akun media sosial (medsos) Threads, @badan.geologi, menjelaskan hal ini karena ada masyarakat yang resah dan khawatir terkait aktivitas sejumlah gunung berapi di RI secara bersamaan.

“Bukan hal yang aneh. Indonesia berada di Cincin Api Pasifik dan punya banyak gunungapi aktif. Beberapa gunungapi dapat erupsi pada hari yang sama secara alami,” kata Badan Geologi, Senin (7/9/2026).

Sejumlah gunung yang erupsi di antaranya Gunung Sinabung di Sumatera Utara, Gunung Anak Krakatau di Lampung, Gunung Merapi di Yogyakarta, Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Ili Lewotolok dan Gunung Lewotobi Laki-laki di NTT, serta Gunung Ibu di Maluku Utara. Aktivitas gunung-gunung tersebut meningkat beberapa hari terakhir.

“Erupsi beberapa gunungapi yang terjadi pada hari yang sama merupakan aktivitas vulkanis yang alami dan tidak saling memicu satu dan yang lainnya,” ucapnya.

Badan Geologi mengatakan setiap gunung memiliki karakteristik yang berbeda. Erupsi dapat menjadi aktivitas rutin gunung api, tidak selelu erupsi dengan skala besar.

Baca juga: Erupsi Semeru Meningkat, Kolom Abu Capai 900 Meter

Badan Geologi mengatakan yang paling penting ialah memperhatikan perubahan signifikan dari aktivitas gunung berapi. BG juga mengimbau masyarakat untuk mengikuti rekomendasi radius jarak bahaya.

“Beberapa gunungapi memang dapat erupsi pada hari yang sama secara alami dan ini tidak memicu aktivitas satu gunung dengan gunung lainnya. Hal ini karena erupsi gunungapi adalah hal yang wajar, mengingat kita berada pada daerah cincin api pasifik yang memiliki banyak gunungapi,” ujarnya.

Letusan Strombolian

Hingga Senin (7/9), aktivitas vulkanik gunung api tersebut masih terpantau, dengan tercatat empat kali gempa hembusan

“Kembalinya erupsi strombolian sebagai karakteristik erupsi Gunung Api Anak Krakatau saat ini untuk sementara ini diinterpretasikan sebagai akhir dari episode erupsi menerus yang cukup panjang,” katanya.

Gunung Anak Krakatau kini mengalami letusan strombolian.

Baca juga: Aktivitas Gunung Semeru Meningkat, Petugas Imbau Warga Jauhi Zona Rawan

Sebagai informasi, letusan strombolian adalah jenis letusan gunung berapi dengan ledakan yang relatif ringan. Aktivitas letusan stromboli dapat berlangsung sangat lama, sehingga sistem erupsi dapat berulang kali mengatur ulang dirinya sendiri.

Pada Minggu (6/9/2026) malam, Gunung Anak Krakatau masih mengalami erupsi.

Potensi Ancaman Bahaya ...

Badan Geologi terus memantau perkembangan dinamika vulkanisme Gunung Anak Krakatau secara berkala atau jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan. Saat ini tingkat aktivitas dan rekomendasi Gunung Anak Krakatau masih pada Level III (Siaga).

Badan Geologi menyatakan masih ada kemungkinan besar terjadinya letusan dalam beberapa periode waktu selanjutnya.

“Ancaman bahaya erupsi berasal dari lontaran batu pijar disertai hujan abu lebat. Potensi ancaman bahaya lainnya berasal dari aliran lava jika erupsi menerus kembali terjadi,” urainya. erc, ec,ptr

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru