KOTA GENANGAN

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
PEKAN kemarin saya menuang kebersamaan dengan para akademisi Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Hadir beragam lembaga penegak hukum meramaikan Seminar Nasional Sumber Daya Alam dan Tindak Pidana Korupsi yang dihelat Sabtu, 25 November 2017 oleh Program Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum, kampus terbesar di daerah kaya tambang ini. Perwakilan KPK, kepolisian, pemangku lembaga peradilan, dan para aktivis sektor pertambangan mengurai data dengan pemetaan yang semakin terang betapa “kronisnya” penyakit tambang di Indonesia ini dalam gerogot korupsi yang kian masif di areal SDA. Jumat 24 November 2017 panitia dan para pembicara saling berkomunikasi untuk menyukseskan forum ilmiah tersebut. Pada “ruang simpul” itulah kabar tersiar dari Surabaya yang “tenggelam” diterjang banjir bandang. Kiriman video dan berita-berita di jaringan radio maupun bentara medsos menggeliat menggelombangkan kehadiran air yang merendam 70% wilayah Kota Pahlawan. Bahkan Sabtu 25 November 2017 jelang malam minggu masih terdengar dari “siaran elektronik” tentang titik-titik kemacetan akibat banjir yang tak lelah “menyapa” Surabaya. Banjir Surabaya akhirnya menjadi sangat viral di medsos dengan bumbu-bumbu kritik yang sangat menyentil, meski terkadang sangat nyelekit tetapi tetap “menggoda” dalam koridor bahasa Suroboyoan. Ujaran “banjir yang menyebar di Surabaya silakan disedot dengan piala-piala atau piagam-piagam penghargaan yang acak kali dipamerkan oleh penguasa kota”. Pujian yang selama ini disanjung dengan penuh hormat serentak memudar menjadi labirin tanpa makna. Banjir yang menghadang jalanan terus mendatangkan “nada keras warga” yang merasa terganggu atas realitas yang tidak terbayangkan sebelumnya. Begitu pedasnya “seruan” itu sehingga “punggawa” harus bereaksi bahwa banjir yang ada hanyalah akibat saja dari segumpal tumpukan sampah. Kali ini sampah dipilih sebagai “pemicu” banjir dan biarlah sampah diminta pertanggungjawaban sebab warga kota juga tersudutkan dengan pernyataan karambol: “apa yang telah Saudara lakukan sebagai warga untuk mengatasi banjir ini”. Semua tertunduk mesti tidak sampai terantuk. Pemegang kewenangan dan pengguna anggaran “melompat tanya atas peran warga” yang “memfasilitasinya”. Lagi pula, ini bukan banjir melainkan hanya genangan. Genangan yang merenggut dua nyawa penduduk kota. Khalayak pun menyaksikan nasib warga yang “melontar kata cinta” pada kota ini dibuat blingsatan agar tidak mengatakan banjir. Cukuplah disebut saja genangan. Genangan yang menenggelamkan untuk sementara. Dalam bahasa yang paling hiperbolik akan saya katakan “ini Surabaya, tidak pernah takluk oleh banjir sekalipun”. Ungkapan mengerikan itu hanyalah “parikeno” bagi “kata genangan”. Kota ini hanya tergenang, dan itu tentu sangat “menyenangkan” sebagai tanda “kota kenangan” yang lagunya dihafalkan warga metropolitan. Tapi ingatlah bahwa genangan di Surabaya sejatinya mewarnai pemberitaan utama harian nasional lengkap dengan foto kawasannya. Mulai dari kawasan “sentral” sampai dengan kondisi Pakal, Kandangan, Sememi, Benowo, bahkan Margomulyo, “disapu air bah”. Banyak kolega dari Jakarta, Semarang dan Medan maupun Banjarmasin sontak berkomentar: ”Cak mengapa Surabaya banjir terutama di wilayah Sampeyan tinggal”? Dengan kelakar saya menjawab ringan: inilah paripurna ”prestasi” Surabaya, dari banjir papan iklan sampai banjir genangan. Ingat ya ... genangan saja. Genangan yang mengganggu angan-angan. Beberapa wilayah Surabaya memang berubah menjadi sungai dadakan di kala hujan yang riuh di tanggal 24-25 November 2017. Anggap saja ini hadiah “Hari Pahlawan” yang menggalaukan warga Kota Surabaya karena “Rumah Radio Perjuangan Bung Tomo” telah dihancurkan. Suatu potret buram yang menyeruak ganjil di ladang penghijauan dan taman-taman kota yang terlihat estetis serta begitu romantis dengan rerimbunan tegakan bunga. Kota ini dalam ukuran manajemen pertamanan dan kebersihan memang sudah sepatutnya dikualifikasi sebagai green city. Ada Banjir Iklan Secara visual Kota Surabaya tampak cantik dari dimensi kehijauannya. Akan tetapi kota ini lambat laun tetap menggeliatkan diri dengan berubah wajah menjadi panggung liar kenakalan modernis yang tidak sentimentil terhadap lingkungan. Ajaran lingkungan dapat terselip menjadi kamuflase yang permanen. Kota ini sedang dibombardir papan iklan yang semakin abai terhadap kesantunan agung warganya. Pemerintahnya acapkali mengernyitkan dahi dan muncul reaksinya yang temperamental. Hampir setiap tahun ada momentum untuk mengalami ”amnesia” perkotaan karena begitu permisif terhadap “pelanggaran sosial”. Pembangkangan hukum sebenarnya sedang dihelat mulai kelas teri sampai kelas kakap. Iklan-iklan tukang talang, badut, rongsokan, sedot wc, mobil bekas, kecantikan, kursus, bendera partai dan foto-foto para cagub sampai dengan iklan layanan umum yang tidak bersahabat pada lingkungan, sungguh sebagai bentuk tindakan kriminal atas kelestarian ekosistem kota. Menjelang Pilgub 2018 tersemai sesuatu yang aneh. Iklan politik telah membanjiri seluruh segmen geografis negeri. Ruang terbuka hijau tampak menjadi tanah tak bertuan. Setiap calon berlomba untuk mengkavling lahan-lahan sesempit apapun asal info dirinya bisa masuk. Anehnya adalah iklan-iklan dari para calon yang sebenarnya masih menjadi kendali kekuasaan. Kalaulah mereka yang berkuasa “dimabuk iklan”, secara simplistik dapat dikatakan mereka telah gagal menjalankan amanat rakyat. Hal itu menimbulkan celoteh bahwa public relation penguasa yang kini beriklan seolah sangat rendah dalam berkinerja. Sentilan ringan memang ada: mereka tidak perlu beriklan untuk memperkenalkan diri, sebab mereka sudah sangat terkenal dan bermanfaat bagi publiknya. Iklan cagub yang tidak tertata di setiap ruang kota ini membutuhkan kemauan dan keberanian Pemkot Surabaya (atau di kota-kota lain) untuk menertibkannya. Atau pemda membangun ruang iklan yang tidak melanggar tata ruang untuk kemudian disewakan kepada para cagub. Bukankah ini akan menjadi PAD spesial bagi daerah? Banjir iklan di Surabaya, Malang, Banjarmasin, dan kota-kota lainnya pada tataran etika kota sudah melebihi batas-batas toleransi estetika kota. Banjir iklan ini semakin melengkapi banjir apartemen, pertokoan, pergudangan, kondominium, hotel dan air yang menggenang “sebagai kuah” menu hutan beton perkotaan. Dalam ukuran inilah Kota Surabaya memasuki pintu gerbang paradigma wouned cities alias kota-kota yang luka. Surabaya sedang terluka oleh perilaku iklanis yang ngawur tanpa mau diatur maupun “pembangunan infrastruktur” yang tidak dihitung matang genangan. Kota Surabaya pada sisinya hanya berubah dan belum berbenah. Berubah untuk tampil elok tetapi juga mentolerir keangkuhan yang menisbikan nilai-nilai dasar Kota Hijau yang penuh taman (garden city) dengan “terpinggirkannya toko-toko wong cilik”. Keelokan kota menjadi sirna secara maknawi dengan umbul-umbul politik. Maka dibutuhkan sikap politisi-politisi yang pro-lingkungan dengan penataan iklan yang sevisi dengan gerakan publik mewujudkan Surabaya green and clean. Genangan yang Melegenda Banjir iklan dari tukang talang sampai konglomerat semakin sempurna dengan datangnya “genangan” di Kota Surabaya kemarin itu. Genangan musim hujan di jantung kota adalah ”ritual abadi” yang mengubah citra Kota Surabaya dari kota kenangan menjadi kota genangan. Kenyataan ini tentu saja harus menjadi pembelajaran Pemkot untuk semakin giat menata kota. Drainase perkotaan harus terus dikembangkan dan langkah normalisasi serta revitalisasi kali-kali di Surabaya wajib hukumnya. Ke mana Kalidami, Kali Manyar, Kaliasin, Kalikepiting, Kalirungkut, Kali Greges, Banyu Urip, dan sejumlah kali-kali lainnya harus diredesainkan? Kawasan yang bernama kali-kali jelas secara ekologis menyiratkan ritme alur yang bersungai. Kali-kali tersebut sudah saatnya menjadi kanal-kanal kota yang mampu menawarkan keindahan kota dengan fungsi sebagai “jalur transportasi perairan” yang handal. Kali Banyu Urip dengan dinamika wilayah Surabaya Barat harus dikonstruksi sebagai sarana irigasi “pertanian kota” sekaligus drainase perkotaan yang berfungsi sebagai bank air dan distribusi air. Fungsi tunggal Kali Banyu Urip sebagai saluran irigasi di geografi Benowo ditambah dengan fungsi drainase yang secara teknis-finansial harus dialokasikan dalam program kerja Pemkot Surabaya. Pilihan ternyata berkata beda, kali-kali di Surabaya sedang didera “box beton” demi kenyamanan “hedonis bermotor”. Untuk mengatasi genangan air di Kota Surabaya jelas dibutuhkan redesain tata kota yang sesuai dengan basis ekologisnya. Apabila semua kali yang ada di Kota Surabaya (yang kini puluhan telah mati) mampu dinormalisasi dan direvitalisasi, maka Surabaya banjir hanyalah utopia. Kebijakan, program, dan kegiatan membenahi kali-kali di Surabaya yang berporos pada alur Kalimas, Kali Lamong, Kali Surabaya adalah titik sentrum pengembangan kota ”anti banjir”. Kalaulah sesudah itu masih banjir, selayaknyalah secara akademik saya mengingat ucap prima Dante Alighieri: all 'alta fantasia qui manco possa - ketika sampai pada momen teragung ini, aku tak mampu berkata-kata. Menulis saja.
Tag :

Berita Terbaru

Jalan Masangan Wetan Sudah Bagus, Sebelum Hari Raya Ruas Jalan Rusak Dikebut Pekerjaanya

Jalan Masangan Wetan Sudah Bagus, Sebelum Hari Raya Ruas Jalan Rusak Dikebut Pekerjaanya

Selasa, 24 Feb 2026 17:37 WIB

Selasa, 24 Feb 2026 17:37 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Sidoarjo - Pemerintah Kabupaten Sidoarjo melalui Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Sumber Daya Air (PUBM) terus mempercepat penanganan…

Sambut Ramadan, PLN UIT JBM Berdayakan Peternak Ayam Petelur di Desa Gili Timur

Sambut Ramadan, PLN UIT JBM Berdayakan Peternak Ayam Petelur di Desa Gili Timur

Selasa, 24 Feb 2026 17:18 WIB

Selasa, 24 Feb 2026 17:18 WIB

SurabayaPagi, Bangkalan – Mengawali bulan suci Ramadan dengan semangat berbagi dan menghadirkan kebermanfaatan bagi masyarakat, PT PLN (Persero) Unit Induk T…

‎Dalami OTT Wali Kota Nonaktif Maidi, KPK Panggil 2 ASN dan Pihak Swasta

‎Dalami OTT Wali Kota Nonaktif Maidi, KPK Panggil 2 ASN dan Pihak Swasta

Selasa, 24 Feb 2026 17:01 WIB

Selasa, 24 Feb 2026 17:01 WIB

‎SURABAYAPAGI.COM, Madiun – Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mengembangkan perkara dugaan pemerasan dan gratifikasi yang menjerat Wali Kot…

Indeks Daya Saing Lamongan Lampaui Rata-rata Nasional

Indeks Daya Saing Lamongan Lampaui Rata-rata Nasional

Selasa, 24 Feb 2026 16:59 WIB

Selasa, 24 Feb 2026 16:59 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Lamongan - Berbagai program mulai jalan, meski banyak pekerjaan rumah yang menanti gebrakan bupati dan wakil bupati Lamongan, namun capaian…

‎Anggaran 10 Ribu Per Porsi, Menu MBG di SDN 01 Klegen Dinilai Jauh dari Standar Gizi

‎Anggaran 10 Ribu Per Porsi, Menu MBG di SDN 01 Klegen Dinilai Jauh dari Standar Gizi

Selasa, 24 Feb 2026 16:34 WIB

Selasa, 24 Feb 2026 16:34 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Madiun – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di  SDN 01 Klegen Kota Madiun menuai kritikan. Dengan anggaran yang disebut-sebut Rp. 8.000 hi…

‎Input Swakelola di SiRUP Jadi Sorotan, Anggaran Rp 45 Miliar Dinkes Madiun Dikritisi

‎Input Swakelola di SiRUP Jadi Sorotan, Anggaran Rp 45 Miliar Dinkes Madiun Dikritisi

Selasa, 24 Feb 2026 16:32 WIB

Selasa, 24 Feb 2026 16:32 WIB

‎SURABAYAPAGI.COM, Madiun – Kegiatan pengadaan barang dan jasa (PBJ) di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Madiun tahun anggaran 2026 disorot. Anggaran swa…