SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Terkenal sebagai kota metropolis, ternyata Surabaya masih memiliki kampung yang asri dan kental dengan nuansa kekeluargaan. Kampung Lawas Maspati salah satunya. Berada di pusat kota Surabaya tak membuat kampung terpengaruh.
Terbukti dengan gelar kampung wisata yang disandang sejak 2014 yang diresmikan secar langsung oleh Walikota Surabaya, Tri Risma Harini.
Tak banyak yang tahu jika kampung Lawas Maspati ini memiliki peninggalan sejarah peninggalan masa penjajahan. Salah satunya adalah Rumah 1907 yang merupakan bekas kediaman Raden Soemomihardjo, tokoh Keraton Surakarta yang juga pernah dijadikan markas dan tempat eksekusi tentara jaman penjajahan dulu. Terdapat juga bangunan bekas sekolah Ongko Loro atau sekolah desa di masa pendudukan Belanda.
Selain sejarahnya, Kampung Lawas Maspati tak lepas dengan kesan keasrian, kebersihan lingkungannya, dan juga keramahan warganya. Hal inilah yang melatar-belakangi terbentuknya tim wisata yaitu tim yang mengatur kunjungan para wisatawan.
Berawal dari niatan masyarakan untuk membuat lingkungannya bersih dan nyaman, akhirnya pembaharuan terus dilakukan dan menjadi kampung wisata. "Awalnya warga hanya ingin membuat nyaman dan aman lingkungan dengan membersihkannya.
Tapi ternyata malah semakin menarik dan akhirnya jadi kampung wisata ini," ungkap Assyamsa Maulydani salah satu tim wisata kampung Lawas Maspati.
Berbagai paket wisata ditawarkan, mulai dari lima ribu hingga dua juta untuk. Saat ini bukan wisatawan lokal yang singgah di kampung Maspati ini, namun juga wisatawan mancanegara. "Bahkan kalau dihitung sekitar 70 sampai 80 persen yang ke sini itu wisatawan asing," jelas Assyamsa.
Semakin meningkatnya kunjungan, masyarakat akhirnya membuat produk unggulan dari masing masing Rukun Tetangga (RT) yaitu cincau, lidah buaya, markisa, hingga pare yang kemudian diolah menjadi makanan khas Kampung Lawas Maspati ini.
Saat ini warga Kampung Lawas Maspati gercar melakukan promosi untuk produk khasnya.
"Kami sedang terus berusaha mempromosikan produk kami. Jadi warga bisa terus produksi, bukan hanya saat kunjungan. Dan kami berharap pemerintah mau membantu itu,” jelas Assyamsa.
Pemasaran produk khas kampung Lawas Maspati secara luas dapat meningkatkan nilai ekonomi mereka, bukan hanya mengandalkan kunjungan saja. fin
Editor :
Mariana Setiawati
Berita Terbaru
Minggu, 05 Apr 2026 16:27 WIB
Minggu, 05 Apr 2026 16:27 WIB
SURABAYAPAGI.com, Gresik - Sebanyak 19 sekolah Muhammadiyah di Kabupaten Gresik menerima penghargaan atas keberhasilan meningkatkan jumlah peserta didik secara…
Minggu, 05 Apr 2026 15:00 WIB
Minggu, 05 Apr 2026 15:00 WIB
SURABAYAPAGI.com, Blitar - Selama masa Angkutan Lebaran 2026, PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 7 Madiun mencatat adanya enam kejadian gangguan…
Minggu, 05 Apr 2026 14:55 WIB
Minggu, 05 Apr 2026 14:55 WIB
SURABAYAPAGI.com, Blitar - Kecelakaan antara pengendara motor dan Truk Isuzu dengan adu banteng yang terjadi pada Minggu (5 April 2026) dini hari mengejutkan…
Minggu, 05 Apr 2026 14:23 WIB
Minggu, 05 Apr 2026 14:23 WIB
SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Terkait kebijakan pembatasan belanja pegawai maksimal 30 persen dari APBD akan resmi diberlakukan tahun 2027. Dimana, postur APBD…
Minggu, 05 Apr 2026 14:14 WIB
Minggu, 05 Apr 2026 14:14 WIB
SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Baru-baru ini viral, seusai menyantap nasi berkat tahlilan di Jalan Sido Kapasan Gang 10, Simokerto, Surabaya, sebanyak puluhan…
Minggu, 05 Apr 2026 14:06 WIB
Minggu, 05 Apr 2026 14:06 WIB
SURABAYAPAGI.com, Bojonegoro - Setelah menanti selama puluhan tahun, akhirnya kini warga di perbatasan Bojonegoro dan Ngawi bisa bernapas lega lantaran…