SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Saya adalah satu-satunya wartawan yang melakukan investigasi kasus Pasar turi. Saya sampai undercover memasuki privacy investor dan pedagang Pasar Turi Korban Kebakaran.
Saya, Alhamdulillah bisa menyusup ke Pedagang Pasar Turi, ke investor PT Gala Bumi Perkasa, ke ring satu Pemkot Surabaya.
Termasuk kongsi almarhum Cen Liang alias Henry Jocosity Gunawan, Direktur Utama PT Gala Bumi Perkasa, yang mendapat proyek ini. Mereka adalah Totok Lusida dan Turino Junaedy. Selain pendana PT Gala Bumi Perkasa, Aswi, Teguh Kinarto dan Widji Nurhadi. Bahkan ke pengusaha Miming alias Haryono Winata, yang pernah membantu penyelesaian stand.
Kini dengan telah tiadanya, Henry J Gunawan, Pasar Turi, sudah tidak bisa lagi disebut Pasar Turi Baru. Pasar Turi sudah bisa dipulihkan seperti sejarah sejak jaman Belanda, pusat grosir di Indonesia Timur.
Hasil investigasi dan undercover saya sejak tahun 2010-2016, konflik berlarut-larut pengelolaan pasar Turi, karena dugaan kuat ada sifat licik dari mendiang Henry J Gunawan. Pria ini saya kenal sejak tahun 1978, ketika ia tersangkut kasus penyelundupan obat-obatan daftar G.
Almarhum saat masih hidup berkongsi dengan pengusaha Turino Junaedy dan Totok Lusida. Bertiga kongsi menjalankan Build Operate Transfer (BOT) Pasar Turi menggunakan bendera PT Gala Bumi Perkasa.
Dalam kongsi ini ada Aswi alias Asoei alias Shindo Sumidomo alias Heng Hok Soei, Teguh Kinarto dan Widji Nurhadi. Tiga nama terakhir ini adalah pemodal yang mendanai operasional proyek. Maklum, saat itu almarhum yang meski memiliki bendera PT Gala Bumi Perkasa, maaf tidak berdana.
Pengusaha Aswi cs, yang menggelontorkan dana Rp 67 miliar. Sedangkan yang mendapat proyek adalah Turino Djunaedy dan Totok Lusida, dari Wali Kota Surabaya saat itu, Bambang DH.
Turino dan Totok, karena memiliki kedekatan dengan tokoh PDIP Jatim, Ir. Soetjipto, almarhum. Saat itu tahun 2008-2010, Bambang DH, adalah orang kepercayaan Ir. Soetjipto. Karenanya saat lelang proyek Pembangunan Pasar Turi baru, jatuh ke Turino Junaedy dan Totok, tidak ada pengusaha yang mau membuat keruh. Padahal ada sejumlah perusahaan ikut tender.
Berhubung dua pengusaha ini tidak memiliki badan hukum yang berpengalaman kelola proyek besar, maka keduanya meminjam bendera PT pada Henry J Gunawan. Nah, saat meminjam bendera ini, akhirnya berbuntut. Turino dan Totok, tak menyangka akal licik Henri J Gunawan.
Berbuntutnya kongsi ini, karena Henry sebagai pemegang saham utama PT Gala Bumi Perkasa, yang menggunakan uang Aswi dkk Rp 67 miliar dan jaringan Turino Junaedy dan Totok, “menyerobot” pengelolaan Pembangunan Pasar Turi Baru.
Saya tahu sendiri, ketika pengelolaan awal, pembangunan sampai pemasaran dilakukan oleh Turino Junaedy dan Totok Lusida. Serta The Santoso Tedjo, pengusaha Pelabuhan. Mereka, karena ketekunannya, bisa memasarkan stan-stan sampai mendapatkan uang Rp 1 triliun lebih. Disini, Henry J Gunawan, mulai melirik untuk “merebut”.
Melihat peminat stan luar biasa, Henry J Gunawan, yang memiliki legalitas sebagai pemegang saham utama dan Dirut PT Gala Bumi Perkasa, ngiler. Manajemen yang dikelola Junaedy, Totok bersama timnya antara lain Taufik, diambil alih. Junaedy dan Totok, dicampakkan.
Berhubung mereka adalah pengusaha Tionghoa, mereka mengadu ke tokoh perekat PW Afandi, yang kebetulan berteman dengan Aswi, Cen Liang, Turino dan Totok Lusida serta Santoso Tedjo. Wefan, nama Tionghoa PW Afandi, diminta mengakurkan. Tetapi Henri J Gunawan, yang diduga licik. Saya sendiri ikut diminta PW Afandi, meredam keinginan yang tidak masuk akal (cengli) dari Henry J Gunawan.
Lagi-lagi, Henry J Gunawan, yang saya temui beberapa kali di kantornya maupun melalui telepon untuk bersikap cengli, ngotot tidak mau kompromi. Ia merasa pemilik PT Gala Bumi Perkasa. Tetapi ia tidak mengakui pendana Aswi cs dan pencari proyek Turino Junaedi cs.
Akhirnya kasus ini tidak bisa diselesaikan secara mediasi kulturan Tionghoa. Wefan, yang selama ini selalu berhasil mendamaikan konflik antar pengusaha Tionghoa di Surabaya dan Indonesia, geleng-geleng kepala.
Suka atau tidak, akhirnya kasus ini bergulir ke ranah pidana dan perdata. Termasuk langkah pedagang Pasar Turi yang memperkarakan Cen Liang secara pidana. Henry J Gunawan, kemudian dijebloskan ke Rutan Medaeng, hingga ia meninggal karena serangan jantung.
Amarah pedagang Pasar Turi lama yang dikoordinasi Taufik, Ilham, Zuhaemi, Arwi, Rosyid, Syukur, Kiemas Halim, saya telusuri menggunakan teknik investigasi dan undercover.
Para pedagang Pasar Turi korban kebakaran ini mendapat informasi bahwa PT Gala Bumi Perkasa, tidak bonafide. Apalagi setelah mengambil pengelolaan dari tim Junaedy dan Totok, pembangunannya diolor-olor, sehingga ribuan pedagang marah.
Mereka tahu bahwa Pasar turi, bukan milik Henry J Gunawan. Tanahnya seluas 2,7 hektar milik aset daerah. Pengelolaannya secara de jure dan de facto, dikerjasamakan dengan PT Gala Bumi Perkasa secara tim.
Pembangunan selain dari dana Aswi sebesar Rp 67 miliar, juga menggunakan kutipan uang dari para pedagang hingga terkumpul dana Rp 1,4 triliun.
Almarhum Henry J Gunawan, tidak mensyukuri perjuangan Turino Junaedy-Totok Lusida, yang berhasil memperjuangkan kontribusi PAD ke Negara dengan nilai yang sangat murah. Fakta ini yang memicu kecemburuan sosial di kalangan pedagang Pasar Turi. Akhirnya, pedagang Pasar Turi membentuk Gerakan Pedagang Pasar Turi Surabaya Korban Kebakaran. Saya diminta menjadi tim. Mereka melawan ketidakadilan, pembodohan dan keserakahan yang dilakukan almarhum Henri J Gunawan.
Bahkan pedagang minta investor Henry J Gunawan, diganti oleh konsorsium yang melibatkan pedagang dan Pemkot Surabaya.
Tapi karena de jure saham mayoritas PT Gala Bumi Perkasa, dimiliki oleh Henry J Gunawan, baik pedagang, Pemkot Surabaya, kongsi-kongsi Henry J Gunawan, tak bisa merealisasikan kehendak pedagang.
Mendalami isi perjanjian MoU Pembangunan Pasar Turi antara Pemkot Surabaya dengan PT Gala Bumi Perkasa, yang ditandatangani tanggal 9 Maret 2010, Perjanjian hukum ini tidak berpihak pada rakyat, tetapi malah memperkaya Cen Liang alias Henry j Gunawan.
Secara politis, ekonomi, sosial dan kultural, tidak salah Pedagang Pasar Turi baru, membentuk gerakan sosial.
Gerakan Pedagang Pasar Turi Surabaya korban kebakaran menilai perjanjian pembangunan Pasar Turi produk konsesi yang lebih mementingkan bisnis PT Gala Bumi Perkasa dan menelantarkan Pedagang Pasar Turi Korban kebakaran?.
Kini Henry J Gunawan, sudah pulang ke alam baka. Semua investor Pasar Turi baru, pedagang dan pejabat Pemkot Surabaya yang saya kenali sama-sama memiliki itikad baik, tidak berdusta, tidak ingar janji atau Ceng li (Huǎngyán).
Saran saya, semua bersatulah. Bersatu sesuai kapasitas tanpa ada kelicikan-kelicikan dan dusta. Bersatu untuk kepentingan warga kota, pedagang Pasar Turi korban kebakaran dan investor yang pernah disakiti oleh Henry J. Gunawan, termasuk pengusaha Haryono Winata, PW Afandi, dan Santoso Tedjo.
Tentu selain kongsi almarhum Henry J Gunawan di PT Gala Bumi Perkasa, seperti Turino Djunaedy, Totok Lusida, Aswi, Teguh Kinarto dan Widji Nurhadi. Bahkan saat itu mereka mengajak Ali Badri dan La Nyalla Matalitti, untuk turut menyejukkan emosi Henry J Gunawan.
Seperti kata mantan Kapolda Jatim yang kini mencalonkan diri Cawali Surabaya tahun 2020, Machfud Arifin. Bersatu mengoperasionalkan Pasar Turi agar tidak terus-menerus menjadi Pasar turu atau pasar grosir yang tidur sejak konflik tahun 2010. Subhanallah. ([email protected]).
Editor : Moch Ilham