Keunikan Suku Yao, Rapunzel di Dunia Nyata

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Para perempuan Suku Yao sedang merawat rambut panjang mereka. SP
Para perempuan Suku Yao sedang merawat rambut panjang mereka. SP

i

SURABAYAPAGI.com, China - Wanita-wanita itu berasal dari Suku Yao. Mereka masih memegang upacara tradisional di mana hanya boleh memotong rambut di usia 18 tahun. Setelah itu, rambut dibiarkan panjang dan dikucir dengan kepangan rumit tradisional khas Suku Yao.

 Biasanya wanita yang belum menikah membungkus rambut mereka ke dalam kain yang diikat di kepala. Sedangkan wanita yang sudah menikah menyukai gaya rambut yang disanggul besar di atas kepala.

Bagi suku ini, perempuan yang berambut panjang dipercaya sebagai pembawa umur panjang, kekayaan, dan nasib baik bagi keluarga. Namun, untuk merawat rambut yang terus panjang tentu saja bukan hal yang mudah.

Untuk perawatan rambut, mereka memiliki tradisi khusus yakni merendam rambut di dalam ramuan tradisional, kemudian menyisirnya dengan sisir kayu agar ramuan menyerap sempurna dari akar hingga ujung rambut.

Ramuan yang mereka gunakan adalah beras yang ditumbuk dengan air dalam bejana tanah liat yang kemudian direbus hingga mendidih. Setelah mendidih, air rebusan akan dicampur dengan teh Bran, akar fleeceflower, dan jahe.

Semua bahan kemudian diaduk dan didiamkan terfermentasi di wadah yang ditutup selama 3 sampai 4 hari. Mereka percaya, ramuan ini yang membuat rambut tetap hitam legam meski sudah tua. Karena sudah menjadi tradisi turun menurun, perempuan Yao mahir merawat rambut sejak mereka kecil.

Tradisi unik dari suku asal Cina ini telah tercatat di Guinness Book of World Records sebagai desa pertama dengan wanita yang memiliki rambut terpanjang di dunia. Rambut yang dipelihara hingga sangat panjang ini dipercaya akan membawa umur panjang, kekayaan, dan nasib baik bagi keluarga mereka.

Panjang rambut mereka rata-rata adalah 2,3 meter. Selain ramuan rahasia, mereka juga punya tradisi keramas beramai-ramai di sungai. Sepertinya itu dilakukan karena mereka bisa saling membantu satu sama lain untuk membersihkan rambut. Tradisi tak kalah unik lainnya, perempuan Yao juga punya cara tersendiri untuk mengikat rambut.

Bagi perempuan Yao yang belum menikah, rambut harus dibungkus ke dalam kain yang diikatkan di kepala. Sementara itu, perempuan yang sudah menikah akan menyanggul rambut tanpa perlu membungkusnya dalam kain.

Sampai 1980-an, ada aturan keras untuk rambut perempuan yang belum menikah. Kalau sampai ada seorang pria yang melihat rambut si gadis tersebut, maka pria tersebut akan terkena sanksi yakni harus melayani keluarga si gadis selama tiga tahun.

Namun kini tradisi tersebut sudah tidak berlaku lagi meski rambut panjang masih dipertahankan oleh banyak penduduk. Rambut panjang wanita di sana pun menjadi magnet sendiri untuk turis lokal maupun mancanegara.

Karena keunikan dari para pemilik rambut Rapunzel di Suku Yao tersebut, mereka menjadi daya tarik para wisatawan dari berbagai negara. Dsy14

Berita Terbaru

Mulai November 2026, Diprediksi Awal Musim Hujan di Magetan Secara Bertahap

Mulai November 2026, Diprediksi Awal Musim Hujan di Magetan Secara Bertahap

Kamis, 01 Okt 2026 15:11 WIB

Kamis, 01 Okt 2026 15:11 WIB

SURABAYAPAGI.com, Magetan - Menunggu datangnya musim hujan di Kabupaten Magetan diprakirakan mulai berlangsung secara bertahap pada akhir 2026. Untuk Kecamatan…

Pemkot Batu Wajibkan Warga hingga Hotel Pilah Sampah Jadi 3 Jenis per 1 Oktober

Pemkot Batu Wajibkan Warga hingga Hotel Pilah Sampah Jadi 3 Jenis per 1 Oktober

Kamis, 01 Okt 2026 14:30 WIB

Kamis, 01 Okt 2026 14:30 WIB

SURABAYAPAGI.com, Batu - Sebagai wujud peduli sampah, Pemerintah Kota (Pemkot) Batu mulai memberlakukan gerakan Batu Pilah Sampah dari Rumah menjadi tiga…

Hadapi Anomali Musim, Produksi Tembakau di Jombang Menyusut 50 Persen

Hadapi Anomali Musim, Produksi Tembakau di Jombang Menyusut 50 Persen

Kamis, 01 Okt 2026 14:21 WIB

Kamis, 01 Okt 2026 14:21 WIB

SURABAYAPAGI.com, Jombang - Fenomena cuaca yang cenderung kering membuat kualitas daun tembakau relatif baik, namun pasokan air yang terbatas menyebabkan hasil…

Angka Stunting Naik 2 Persen, Pemkot Batu Perkuat Intervensi Lintas Sektor

Angka Stunting Naik 2 Persen, Pemkot Batu Perkuat Intervensi Lintas Sektor

Kamis, 01 Okt 2026 14:15 WIB

Kamis, 01 Okt 2026 14:15 WIB

SURABAYAPAGI.com, Batu - Pemerintah Kota (Pemkot) Batu mencatat adanya kenaikan sekitar 2 persen dibandingkan dengan periode sebelumnya, yakni dari 10,19…

Tegaskan Masih Uji Lab, Bantuan Seragam Gratis di Lumajang Molor Hingga Oktober 2026

Tegaskan Masih Uji Lab, Bantuan Seragam Gratis di Lumajang Molor Hingga Oktober 2026

Kamis, 01 Okt 2026 13:09 WIB

Kamis, 01 Okt 2026 13:09 WIB

SURABAYAPAGI.com, Lumajang - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Lumajang menegaskan adanya keterlambatan distribusi seragam gratis bagi…

Warga Baosan Lor Ponorogo Jadi Korban KM Virgo Transport 8, Hingga Kini Masih Hilang

Warga Baosan Lor Ponorogo Jadi Korban KM Virgo Transport 8, Hingga Kini Masih Hilang

Kamis, 01 Okt 2026 12:29 WIB

Kamis, 01 Okt 2026 12:29 WIB

SURABAYAPAGI.com,Ponorogo — Keluarga Menika Susanti, warga Dukuh Krajan, Desa Baosan Lor, Kecamatan Ngrayun, Kabupaten Ponorogo, hingga kini masih menunggu k…