Home / Politik : Pilwali Surabaya 2020

Direct Mail Risma, Diduga Sebuah Konspirasi

author surabayapagi.com

- Pewarta

Jumat, 04 Des 2020 22:20 WIB

Direct Mail Risma, Diduga Sebuah Konspirasi

i

Surat “Direct Mail” yang berisi ajakan pilih pasangan calon nomor 01, Eri Cahyadi-Armuji, dengan kop berlogo Bu Risma, lengkap dengan Foto dan Tandatangan Risma.

Paslon 02 MA-Mujiaman, Menunjuk Tim Hukum Kejahatan Pilkada Serentak 2020 Surabaya untuk Melaporkan Risma ke Bawaslu, Mabes Polri dan Kejati Jatim

 

Baca Juga: Bawaslu Terangkan Tak Ada Pelanggaran dalam Surat Risma di Pilwali

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya – Surat “Direct Mail” yang berisi ajakan pilih pasangan calon nomor 01, Eri Cahyadi-Armuji, dengan kop berlogo Bu Risma, lengkap dengan Foto dan Tandatangan Risma, diduga hasil konspirasi. Praktik ini menjadi sorotan kiai, Ketua RT, praktisi komunikasi politik. Konspirasi ini untuk memenangkan orang kesayangan Risma di Pemkot Surabaya.

Demikian hasil investigasi tim Surabaya Pagi dan klarifikasi ke Tri Rismaharini, Tim Sukses Pemenangan Eri-Cahyadi, Kiai pengasuh Masjid Rahmad Surabaya dan pendapat pakar komunikasi politik. Disertai polling kinerja Tri Rismaharini, terkait memakmurkan warga kota yang berada dalam bagian lain halaman ini. Investigasi ini dilakukan sejak Rabu (2/12/2020) hingga Jumat (4/12/2020). Investigasi terkait direct mail dengan nama “Surat Bu Risma untuk Warga Surabaya”.

Salah satu sumber internal tim Pemenangan ErJi, menyebut bahwa yang mempunyai ide kampanye menggunakan direct mail, berasal dari salah satu tim konsultan media di tim Pemenangan Erji.

“Surat ini (Surat Bu Risma, red) ini, setau saya, memang awalnya ide dari dalam (tim sukses pemenangan ErJi, red). Lalu diusulkan ke Ibu (Risma, red),” jelas sumber tersebut yang meminta namanya tidak dikorankan, saat ditemui Surabaya Pagi, di salah satu kedai kopi di daerah Wijaya Kusuma, Kamis (3/12/2020).

Saat ditanya, apakah Risma mengetahui akan isi surat tersebut. Sumber tersebut menjelaskan, ada kemungkinan Tri Rismaharini, mengetahui setelah menjadi surat dan siap edar. “Pastinya sudah tau lah. Tapi isinya yang buat temen-temen (tim pemenangan Erji),” jawabnya.

Sumber tersebut juga menjelaskan, surat itu bertujuan untuk mencari dukungan ke seluruh warga Surabaya. Dimana, nama Risma, cukup menjual untuk warga Surabaya saat ini. “Yo eruh dewe lah, jeneng Ibu’e iki khan sing dijual Erji. Semua-semuanya pake namanya Ibu’e (Risma, red). Ini semua (isi detail surat) didesain sedemikian rupa. Tanda tangannya pun scan,” beber sumber tersebut.

Lantas, nama dan alamat warga yang cukup detail, juga diduga didapat dari database Dispendukcapil Kota Surabaya. Namun, sumber itu, hanya tersenyum saat ditanya soal database nama dan alamat warga penerima surat. “Hehe.. yo gitu lah, Cak!” jawab singkat.

 

Instruksi Tim ErJi

Hasil investigasi dan penelusuran Surabaya Pagi ini, juga selaras dengan keterangan Juru Bicara Tim Pemenangan ErJi, Achmad Hidayat, seperti yang dikutip dari laman berita jatimnow.com, Kamis (4/11/2020).

Achmad menyebut bahwa instruksi Surat Bu Risma itu dilakukan dari tim Pemenangan Eri Cahyadi-Armuji.

"(Instruksi) dari Tim Pemenangan Eri Cahyadi dan Armudji," ujar Hidayat saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp (WA), Kamis (3/12/2020). Dalam surat Risma untuk warga Surabaya yang ada tandatangan Tri Rismaharini pada 22 Nopember 2020, diantaranya berisi ajakan 'Ayo datang ke TPS-TPS, tidak golput dan pilih Eri-Armudji'.

Jubir Tim Pemenangan Erji, Ahmad Hidayat itu pun enggan menerangkan siapakah kurir-kurir yang mengirimkan surat Risma. Hidayat juga tidak menjawab, apakah kader PDIP yang menjadi kurir dan berapa jumlah kurir yang dilibatkan. "Cukup nggih mas," pungkas Hidayat.

Namun, apa yang diungkapkan Achmad berbeda dengan apa yang diungkapkan oleh putra Risma, Fuad Benardi. “Iya itu beliau (Risma, red) yang nulis sendiri. Ibu menulis surat itu dalam kapasitasnya sebagai petugas partai bukan sebagai wali kota Surabaya,” jelas Fuad, seperti dikutip dari TribunJatim, Rabu (2/12/2020).

Baca Juga: Direct Mail ke Warga, Bikin Risma Blunder

Fuad mengatakan, ibunya memiliki sejumlah alasan mengapa mengeluarkan surat itu. Diantaranya, Risma tak ingin warga golput dalam pesta demokrasi dan memilih paslon yang didukung.

 

Tolak Paksaan Pilihan

Meski begitu, direct mail dengan kop “Surat Bu Risma untuk Warga Surabaya” itu masih tetap memunculkan penolakan dari beberapa warga di Surabaya. Penolakan itu karena warga tidak ingin Tri Rismaharini, yang sebagian besar warga Surabaya tahu sebagai Wali Kota Surabaya, untuk memaksakan pilihan politik ke salah satu paslon tertentu.

Hal ini diungkapkan Ketua RT 04 RW 05 Bubutan Muhammad Nur Taufik.  “Siapapun paslon boleh berkampanye asalkan secara terbuka di kampung Bubutan. Tapi Bu Risma, yang semua warga Surabaya tahu kalau beliau saat ini sebagai Wali Kota Surabaya. Baik itu atas nama pribadi ataupun tidak pribadi itu tidak diperbolehkan. Bu Risma menyimpang dari aturan ASN Pemkot Surabaya dan ini tidak bijak dalam berpolitik,” tegas Taufik. Bahkan, Taufik pun bisa menilai, setelah melihat isi direct mail itu dapat diproses secara pelanggaran Pemilu.

Ia juga melihat, dalam penyebaran direct mail di kampungnya itupun juga tidak memiliki etika. Pasalnya, ia mengetahui ada 2 orang tidak dikenal yang membagi-bagikan direct mail yang berkop foto Risma, dalam amplop coklat yang berstempel Surat Bu Risma untuk Warga Surabaya, tanpa ada izin lebih dahulu. “Saya ini RT-nya. Siapapun yang masuk diwilayahnya harus lapor apapun itu bentuknya. Saya kecewa dengan Bu Risma, karena sikap atau tindakan membagi-bagikan surat ini sangat mencederai demokrasi di Surabaya,” kata Taufik ketika dikonfirmasi, Jumat (4/12/2020).

 

Mabes Polri Terima Laporan Tentang Risma

Terkait hal ini, Risma pun sudah dilaporkan ke Mabes Polri karena diduga menabrak aturan kampanye sebagai kepala daerah. Risma sebagai wali kota diduga terlibat kampanye untuk paslon Eri Cahyadi-Armuji tanpa memiliki surat izin kampanye dari Gubernur Jawa Timur.

Baca Juga: Direct Mail ini Bumerang Bagi Bu Risma

Kuasa hukum paslon 2, Sahid melaporkan dugaan pelanggaran Risma ke Mabes Polri, Kamis (3/12) malam. Sebagai kepala daerah, dilarang terlibat kampanye atau mengeluarkan kebijakan yang menguntungkan salah satu paslon.

"Kami laporkan Risma, karena dia tidak mengikuti aturan yang berlaku, melanggar aturan-aturan yang ada," ujar Sahid di Surabaya.

Laporan ke Mabes Polri diterima oleh pihak tindak pidana umum. Laporan ini melengkapi laporan ke Kejari Surabaya, Kejati Jawa Timur, Kejaksaan Agung, KPK, Komisi ASN, Kemendagri, Polrestabes Surabaya, Polda Jawa Timur, dan Bawaslu Surabaya.  "Harapannya Bawaslu ada tindakan, karena kami juga sudah laporan ke masing-masing instansi yang tergabung di Gakkumdu," tegasnya.

 

Pengakuan Risma

Sedangkan, Tri Rismaharini sendiri saat diklarifikasi soal direct mail dengan berkop “Surat Bu Risma untuk Warga Surabaya”, mengaku bahwa itu sebagai kampanye yang tepat untuk warga dan disukai oleh warga Surabaya.

"Sebetulnya itu sudah saya lakukan secara bertahap, yang jelas saya tidak ada menyebutkan walikota dan tidak ada kop walikota,” kata Risma, saat ditemui seusai acara doa bersama tokoh perempuan Madura, Jumat (4/12/2020) siang di daerah Nyamplungan.

Risma mengklaim, surat itu juga sebagai jawaban dari permintaan warga Surabaya. “Yah menurut saya itu adalah kampanye yang paling dekat dengan masyarakat dan saya tidak menyantumkan apa-apa. Warga juga meminta. Apalagi saya juga mendengar warga banyak yang senang karena mendapatkan surat dari saya," pungkasnya. alq/byt/kha/rmc

Editor : Moch Ilham

BERITA TERBARU