Sebut yang Pertama di Jawa Timur
SURABAYA PAGI.com, Mojokerto - Ketua Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin), Sri Untari Bisowarno melakukan kunjungan kerja (kunker) ke Kota Mojokerto, Jumat (12/3/2021).
Didampingi Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari, Anggota Komisi E DPRD Provinsi Jawa Timur ini melihat secara langsung pelaksanaan vaksinasi untuk pedagang di Pasar Benteng Pancasila.
Kepada wartawan, Sri Untari mengatakan, ada dua agenda penting yang dilakukan di Kota Mojokerto. Pertama, sebagai anggota Komisi yang membidangi Kesejahteraan Rakyat (Kesra), ia ingin melihat distribusi vaksin di berbagai daerah di seluruh Jawa Timur berjalan dengan baik.
"Vaksinasi yang dilakukan ke ribuan pedagang pasar tradisional di Kota Mojokerto ini merupakan lompatan pemikiran yang cukup baik dari Wali Kota Ning Ita," ujarnya.
Untari menyebut, pasar adalah sentra ekonomi berputar untuk masyarakat. Jika pedagangnya sehat, maka mereka akan mampu bertahan dari serbuan virus.
"Pasar ini tempat berkumpulnya banyak orang, sehingga sangat berpotensi besar menjadi tempat penularan virus. Vaksin ini bisa membentengi para pedagang agar tak memunculkan klaster baru pasar," ungkapnya.
Tak hanya itu, Politisi PDIP ini juga memuji gebrakan vaksinasi pedagang di Kota Mojokerto ini. Pasalnya, di Jawa Timur, baru Kota Mojokerto ini yang memberikan vaksinasi untuk para pedagang di pasar tradisional.
"Kelihatannya ini yang pertama di Jawa Timur, sebab saya lihat, daerah lain masih berkutat di sasaran Nakes, birokrat dan unsur TNI Polri," pujinya.
Untari mengakui, jika ini adalah langkah tepat yang diambil Wali Kota Mojokerto dalam upaya pemulihan ekonomi di wilayahnya. Karena pasar tradisional memiliki nilai ekonomi kerakyatan paling tinggi yang harus dijaga serta dibantu dimasa pandemi Covid-19 ini.
"Ini adalah kebijakan efektif dan sangat baik dalam upaya pemulihan perekonomian yang sangat terpukul akibat pandemi," tegasnya.
Tak hanya itu, Untari juga menambahkan, kunjungan kerjanya ke Kota Mojokerto ini juga sebagai kapasitas Ketua Umum Dekopin. Ia ingin memastikan bahwa jaringan dibawah Dekopin sudah memiliki peran sebagai partnership pemerintah di masing-masing daerah.
"Masing-masing pasar saya sarankan membuat Koperasi Pasar. Ini untuk menangkal masuknya 'Bank Titil' yang prinsip kerjanya bak rentenir," cetusnya.
Sementara itu, Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari mengatakan Pemerintah Kota Mojokerto terus melakukan upaya pemutusan penyebaran Covid-19 sesuai arahan Gubernur Jatim. Salah satunya pemberian vaksinasi Sinovac terhadap 3.520 pedagang di delapan pasar.
Yakni Pasar Tanjung Anyar, Pasar Burung Mpunala, Pasar Prapanca, Pasar Prajuritkulon, Pasar Kranggan, Pasar Kliwon, Pasar Hewan Kedundung, dan Pasar Benpas yang terdiri dari eks Alun-alun maupun eks Joko Sambang.
"Iya untuk tahap dua inikan sesuai dengan instruksi dari pusat, alokasinya untuk pemberi pelayanan publik. Namun, karena data yang tersedia itu belum memenuhi kuota yang diharapkan maka agar vaksin biar segera bisa termanfaatkan. Jadi saya membuat kebijakan untuk para pedagang yang ada di pasar tradisional untuk divaksin," bebernya.
Ia menjelaskan, pemilihan ribuan pedagang ini, lantaran pasar merupakan sentra perekonomian masyarakat kota yang tak boleh menjadi kluster penyebaran Covid-19.
Sehingga menjadi salah satu prioritas sasaran tahap dua yang harus segera divaksin, selain nakes, lingkungan Pemkot, TNI/Polri, dan guru.
"Pasar tradisional ini adalah sentra perekonomian masyarakat, di sanalah terjadi pertemuan banyak masyarakat tidak hanya warga Kota Mojokerto. tapi dari berbagai daerah sekitar untuk melakukan transaksi," tegasnya.
Dirinya memastikan, pekan ini vaksinasi ribuan pedagang pasar terselesaikan. Bahkan ia juga sudah bersurat ke Gubernur Jatim untuk mendistribusikan lebih awal jumlah vaksin ke Dinkes Kota Mojokerto lantaran stok vaksin mulai menipis.
"Untuk kuota selanjutnya saya bersurat ke Ibu Gubernur untuk bisa didistribusikan lebih awal, karena jumlah vaksin yang ada di dinkes sudah mulai menipis. Sedangkan nakes harus terus bekerja untuk melakukan vaksinasi," tandasnya. Dwy
Editor : Mariana Setiawati