Sidang Penipuan Rumah dan Tanah di Gunung Anyar

Nenek Ditipu Tetangga, Rumah Warisan Hilang

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Terdakwa Khilfatil Muna Dan Yano Oktafianus Albert saat mendengarkan keterangan saksi di PN Surabaya, Kamis (20/5). SP/Budi Mulyono
Terdakwa Khilfatil Muna Dan Yano Oktafianus Albert saat mendengarkan keterangan saksi di PN Surabaya, Kamis (20/5). SP/Budi Mulyono

i

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Khilfatil Muna bersama Yano Oktafianus Albert didakwa menipu Nasuchah. Jaksa penuntut umum I Gede Willy Pramana dalam dakwaannya menyatakan, Khilfatil awalnya meminjam sertifikat hak milik (SHM) rumah Nasuchah di Gunung Anyar untuk diagunkan ke bank. terdakwa Khilfatil beralasan akan digunakan sebagai agunan untuk meminjam uang di bank. Namun, ternyata setelah sertifikat itu didapatkan justru dijual kepada Joy Sanjaya Tjwa melalui anak buahnya, Yano.

Maria Ulfa saat memberikan keterangan sebagai saksi dalam persidangan mengatakan, Nasuchah punya hutang pada dirinya, sebesar Rp 25 juta, saat itu Khilfatil memberikan imbalan 25 juta pada Nasuchah apabila SHM rumahnya dipinjam 4 bulan dan diagunkan di bank,  Nasuchah berniat setelah menerima imbalan 25 juta akan memberikan kepada Ulfa.Awal mula SHM rumah itu berada di notaris Lydia Masitha,SH.Mkn untuk proses pemecahan dan balik nama menjadi atas nama 8 ahli waris, Achiyat orang tua Nasuchah .

"Nasuchah sudah ambil di notaris Lydia. Bu Khil sudah sempat kasih  uangnya di amplop kecil ke Nasuchah untuk diserahkan ke saya. Tapi, sebelum uang dikasihkan ke saya, diambil lagi sama Bu Khil. Sampai sekarang amplop kecil berisi uang Rp 25 juta itu tidak ada masuk ke saya," ujar Ulfa dalam persidangan di Pengadilan Negeri Surabaya kemarin (20/5).

Kakak Nasuchah, Masrifah mengatakan, SHM rumah itu memang milik adiknya. Khilfatil memang sempat mengajak adiknya pergi ke bank untuk meminjam dan mengagunkan SHM rumahnya . Namun, bukannya ke bank dalam perjalanan Khilfatil justru membawa Nasuchah ke kantor notaris Eni Wijaya di Kertajaya. Di sana Nasuchah diminta menyepakati dan menandatangani akta ikatan jual beli (IJB) atas tanah tersebut dengan Joy. 

"Di kantor notaris sudah ada Yano. Notarisnya membacakan akta itu. Nasuchah terkejut dan marah. Bu Khil bilang itu seandainya saja tidak apa-apa. Nasuchah polos tidak tahu apa-apa ikut saja," ungkap Masrifah. Adik Saya Nasuchah juga tidak menerima uang sepeserpun dari Joy ataupun dari Yano, apalagi dari terdakwa Khilfatil 200 juta, itu bohong ujarnya 

Beberapa hari kemudian Khilfatil mengajak Nasuchah yang ditemani Masrifah pergi ke pujasera di kawasan MERR untuk bertemu Yano. Ketika itu Yano menyatakan bahwa SHM rumah itu sudah beralih nama menjadi milik Joy Sanjaya bosnya. Yano minta Nasuchah membelinya Rp 800 juta jika ingin memilikinya lagi dalam waktu sepekan.

"Adik saya tidak pernah jual dan terima uang sama sekali kok tiba-tiba sudah dijual. Sekarang sudah tidak ditempati lagi sama Nasuchah, dan tidak dikuasai Joy," ujarnya.

Sementara itu, notaris Eni Wijaya mengatakan, Nasuchah dan Joy datang ke kantornya untuk membuat akta ikatan jual beli. Menurut dia, rumah itu sepakat dijual Nasuchah seharga Rp 200 juta kepada Joy. Namun, Eni mengaku membacakan isi akta itu hanya di hadapan Nasuchah saja dan tidak bersamaan. "Pak Joy ada di situ tapi wara-wiri sibuk telepon. Tanda tangannya tidak bersama-sama dan di ruang belakang," kata Eni.

Keterangan notaris ini dibantah Nasuchah. Dia mengaku tidak ada Joy di kantor notaris tersebut. Hanya ada terdakwa Yano dan Khilfatil Muna . Dia juga mengaku tidak pernah menjual tanah dan rumahnya kepada siapapun. "Tidak ada Joy di situ. Saya tidak pernah terima uang sepeser pun dan menjualnya. Saya tidak pernah terima uang kok rumah saya diambil," ucap Nasuchah, yang ada hanya saya SHM rumah saya dipinjam terdakwa Khilfatil untuk diagunkan di bank tapi malah dijual .

Sementara itu, Khilfatil mengaku telah menyerahkan uang Rp 200 kepada Nasuchah melalui Anis Fatul Laela yang kini buron. Alasannya karena Nasuchah tidak punya rekening. Anis merupakan kolega Khilfatil. "Masalah uang saya tidak pegang. Bu Nasuchah yang nawari lewat Anis. Intinya saya tidak pernah mempengaruhi Nasuchah untuk jual. Saya cuma mengenalkan," tutur terdakwa Khilfatil.

Secara terpisah, pengacara Yano, Erick Komala menyatakan, Joy memang ada di kantor notaris saat penandatanganan akta jual beli. Hanya saja sedang sibuk wara-wiri menerima telepon."Notaris tanya gimana apa bisa dilanjut? Tidak apa-apa karena ada Yano yang mewakili," kata Erick.

Joy juga sudah membayar pembelian tanah itu Rp 200 juta dari harga Rp 400 juta kepada Nasuchah. Pembayaran secara tunai diberikan oleh Yano. "Diterima langsung oleh Nasuchah sesuai tanda terima. Pembayaran sebelum ke notaris," ucapnya. 

Sementara Rahadi S.H.,M.H kuasa korban Nasuchah menjelaskan keterangan Notaris banyak yang tidak benar dan berindikasi adanya memberikan keterangan palsu dibawah sumpah yang nantinya akan diusut, bahwa faktanya kliennya korban Nasuchah tidak pernah ada niat menjual rumah kepada orang lain apalagi pada Joy yang katanya sebagai pembeli, yang benar adalah korban Nasuchah didatangi terdakwa Khilfatil Muna untuk dipinjam SHM rumah milik korban Nasuchah untuk diagunkan ke bank 4 bulan sebagai tambahan modal usaha Terdakwa selama 4 bulan dan terdakwa Khilfatil berjanji akan mengembalikan dan melunasi semuanya dan memberikan imbalan terima kasih sebesar 25 juta, eh ternyata oleh Terdakwa Khilaftil bukannya diagunkan ke bank ternyata malah dijual ke org lain yakni Joy. Terkait pembayaran yang dikatakan jual beli korban Nasuchah juga tidak pernah menerima uang sepeser pun baik dari Khilfatil Muna maupun Yano, apalagi Joy. 

"Kan tadi kita juga dengar Keterangan korban Nasuchah juga diperkuat dengan keterangan saksi Notaris Eny dan saksi Luluk yang menyatakan bahwa pada saat penandatangan IJB tidak ada penerimaan uang apalagi pembayaran 200 juta, hakim kan juga sempat menggali dan menemukan kebenaran materiil kan bahwa memang tidak ada penerimaan uang,, "pungkas Rahadi.

Terkait perkara pemalsuan surat dan atau menempatkan keterangan palsu dalam akta otentik, menggunakan surat palsu juga sudah kami laporkan pada Polda Jatim dan sedang berproses di Polrestabes Surabaya Unit V dengan Terlapor Joy dan Notaris Eny sesuai dengan No.LPB : 136/II/2018 / UM/SPKT Polda Jatim tertanggal 2 Februari 2018, pokoknya kalau memang tidak ada penyelesaian kekeluargaan dari Joy, kami akan tuntut dan bantu korban Nasuchah perjuangkan supaya haknya kembali baik pidana maupun perdata, pungkasnya. nbd

Berita Terbaru

Jadi Alarm bagi Ketahanan Pangan, Harga Gabah di Magetan Nyaris Rp9 Ribu per Kg

Jadi Alarm bagi Ketahanan Pangan, Harga Gabah di Magetan Nyaris Rp9 Ribu per Kg

Selasa, 18 Agu 2026 15:33 WIB

Selasa, 18 Agu 2026 15:33 WIB

SURABAYAPAGI.com, Magetan - Baru-baru ini, harga komoditas gabah di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, sedang berada di level tinggi. Gabah kering giling (GKG)…

Peringati HUT ke 81 RI di Jawa Timur, PLN Jaga Pasokan Listrik Tanpa Kedip di Jawa Timur

Peringati HUT ke 81 RI di Jawa Timur, PLN Jaga Pasokan Listrik Tanpa Kedip di Jawa Timur

Selasa, 18 Agu 2026 15:30 WIB

Selasa, 18 Agu 2026 15:30 WIB

SurabayaPagi, Surabaya – PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Timur sukses menjaga keandalan pasokan listrik tanpa kedip dalam puncak peringatan H…

Waspada Air Liur Tikus, Dinkes Bondowoso Gencar Edukasi Bahaya Hantavirus

Waspada Air Liur Tikus, Dinkes Bondowoso Gencar Edukasi Bahaya Hantavirus

Selasa, 18 Agu 2026 15:27 WIB

Selasa, 18 Agu 2026 15:27 WIB

SURABAYAPAGI.com, Bondowoso - Guna meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit yang ditularkan tikus, termasuk hantavirus yang belakangan ramai diperbincangkan,…

Dukung Akses Warga, 7 Jembatan Perintis Garuda di Bondowoso Rampung 100 Persen

Dukung Akses Warga, 7 Jembatan Perintis Garuda di Bondowoso Rampung 100 Persen

Selasa, 18 Agu 2026 15:08 WIB

Selasa, 18 Agu 2026 15:08 WIB

SURABAYAPAGI.com, Bondowoso - Sebanyak tujuh dari 12 Jembatan Perintis Garuda yang direncanakan dibangun di Kabupaten Bondowoso, kini telah rampung 100 persen.…

Serapan APBD Kota Madiun Baru 45 Persen, DPRD Bakal Awasi Progres Serapan 

Serapan APBD Kota Madiun Baru 45 Persen, DPRD Bakal Awasi Progres Serapan 

Selasa, 18 Agu 2026 15:06 WIB

Selasa, 18 Agu 2026 15:06 WIB

‎‎SURABAYAPAGI.COM, Madiun - Serapan Anggaran Pendapatan Belanja (APBD) 2026 masih berkisar 45 persen, menyikapi hal tersebut DPRD Kota Madiun bakal men…

Peringati HUT Kemerdekaan RI Ke-81, Pemkot Kibarkan Sang Saka Merah Putih di Alun Alun Kota Blitar

Peringati HUT Kemerdekaan RI Ke-81, Pemkot Kibarkan Sang Saka Merah Putih di Alun Alun Kota Blitar

Selasa, 18 Agu 2026 15:03 WIB

Selasa, 18 Agu 2026 15:03 WIB

SURABAYAPAGI.com, Blitar - Tepat tanggal 17 Agustus 2926, detik detik upacara peringati HUT.Kemerdekan RI ke 81 di Alun Alun Kota Blitar, begitu khidmad dan…