Kisah Penjual Kopi Asongan, Dikejar Petugas Hingga Jualan Dihancurkan

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Bu Kosnah alias Bu Titi saat membuat kopi susu bagi pelanggan. SP/Semmy Mantolas
Bu Kosnah alias Bu Titi saat membuat kopi susu bagi pelanggan. SP/Semmy Mantolas

i

SURABAYAPAGI, Surabaya - Suhu di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya siang ini, Rabu (01/09/2021) berada diangka 35 derajat celcius. Cuaca yang tidak bersahat bagi para pejalan kaki. Apalagi bagi penjual kopi asongan seperti Bu Kosnah (51) atau yang akrab disapa Bu Titi.

Dengan tas di punggungnya dan termos air di  tangan kanannya, ia secara sabar berkeliling Pelabuhan Tanjung Perak menawarkan kopi kepada setiap yang ditemuinya. 

Para sopir truk muatan yang nangkring di jalan Perak Timur juga tak lepas dari pandangannya. Satu per satu sopir truk dia datangi dan menawarkan kopi yang disimpannya dalam tas.

Tatkala ada yang memesan, sejurus kemudian kopi sasetan yang dibawanya telah mendarat di cup plastik. Perlahan termos air 5 liter dibukanya dan dituangkan ke dalam cup. Dengan perlahan ia mengaduk kopi lalu memberikannya pada pembeli.

"Alhamdulillah akhirnya ada yang beli. Dari pagi jam 7 sampai sekarang baru mas saja yang beli," kata Bu Titi ketika saya membeli kopinya

Kepada saya, Bu Titi bercerita, dirinya telah berjualan kopi di pelabuhan selama kurang lebih 10 tahun. Tepatnya setelah suaminya meninggal dunia pada pertengahan tahun 2010 lalu. Saat itu dirinya masih tinggal di Kudus, Jawa Tengah. Kemudian diakhir 2010 ia hijrah ke tempat bibinya di Gresik. 

Di Gresik, ia membantu bibinya berjualan makanan. Namun bisnisnya tidak berjalan baik, 3 bulan kemudian bisnis tersebut merugi dan akhirnya stan makannya ditutup. 

"Akhirnya ya pindah ke sini [Surabaya]. Jualan kopi sampe sekarang," kisahnya.

Di Surabaya, Bu Titi tinggal sebatang kara di rumah kontrakan yang disewa dengan harga Rp 2,3 juta di jalan Teluk Kumai. Dua anak hasil pernikahannya kini telah memiliki kehidupan rumah tangga sendiri. Anak yang pertama menetap di Pati dan yang kedua di Semarang. 

Sudah hampir 10 tahun terakhir ini, ia tak bertukar kabar dengan anaknya. Kendati begitu, foto kedua anaknya selalu dibawanya ketika ia berangkat berjualan kopi. Baginya, kedua anaknya akan selalu berada di hatinya meski mereka tak peduli dengannya.

Segala keperluan sehari-hari didapat dari hasil berjualan kopi. Dalam sehari, ia biasanya mendapatkan omzet sekitar Rp 70 ribu hingga Rp 100 ribu.

Dari pendapatan tersebut, Rp 30 ribu disimpannya untuk membayar kontrakan dan Rp 20 ribu dipakai untuk makan sehari-hari sementara sisanya dipakai untuk tambahan modal usaha.

"Perlu dicatat mas, mau sekecil apapun pendapatan, sisakan sebagian untuk ditabung mas. Saya kalau gak nabung mungkin sudah jadi pengemis di Surabaya. Tapi saya tidak mau, selagi bisa usaha ya saya usaha," katanya menasehati.

Naasnya, selama 10 tahun di Surabaya ia tidak pernah mendapatkan bantuan sepeserpun dari pemerintah. Meski begitu ia tak mengeluh, ia sadar karena dirinya adalah pendatang. Segala administrasinya mulai dari KTP hingga KK terdaftar sebagai warga Kudus, Jateng.

Selama berjualan kopi, setidaknya telah 7 kali sudah barang dagangannya dihancurkan oleh petugas. Empat kali oleh petugas kemanan Pelabuhan Tanjung Perak dan 3 kali oleh Kesatuan Pelaksanaan Pengamanan Pelabuhan atau sering disebut KP3.

"Jualan saya di sita, termos dibanting-banting sama mereka. Katanya saya jualan tanpa izin. Tapi ini kan saya jualan di luar pelabuhan bukan di dalam, lagian saya jualan juga keliling mas," ucapnya kesal. 

Ketika hujan tiba, ia tak pernah patah arang untuk berjualan. Karena di dalam benaknya, ketika ia berhenti berjualan maka tabungan untuk kontrakan rumah akan berkurang. Dengan modal mantel kresek dan payung, ia terus menjual kopinya.

"Ya gitu mas, kalau hujan kita kehujanan kalau panas ya kepanasan. Yang penting kita usaha sendiri, insyaallah berkah," akunya

Meski begitu, selama pandemi covid-19, omzet penjualan kopinya mengalami penurunan hingga 50%. Omzet yang sebelumnya Rp 70 ribu hingga Rp 100 ribu. Kini berkurang menjadi Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu.

Alhasil tabungan untuk sewa kontrakan terpaksa dikuranginya separuh atau menjadi Rp 15 ribu. sementara sisanya digunakan untuk tambahan modal. Soal keperluan makan, ia mengaku terkadang bila omzet berkurang maka makanan yang dimakan ala kadarnya bahkan terkadang hanya nasi putih dengan kecap.

"Yang penting ada rasa aja mas, bisa makan bisa alas perut, setidaknya gak kelaparan," ucapnya terbahak.

Walau telah 10 tahun di Surabaya, ia terkadang teringat untuk pulang ke kampung  halamannya di  Kudus. Namun kabar terakhir yang dia terima, rumah peninggalan orang tuanya telah diambil alih oleh adiknya. Bahkan adiknya mengultimatum bila ia pulang, maka ia akan diusir dari rumah tersebut.

"Ya mungkin Surabaya sudah ditakdirkan bagi saya. Yang penting saya usaha sendiri tidak bergantung pada orang lain. Itu sudah cukup, saya sudah bahagia," pungkasnya.sem

Berita Terbaru

Lewat Kontes Ternak, Pemkab Lumajang Cari Kambing Senduro dan Domba Unggulan

Lewat Kontes Ternak, Pemkab Lumajang Cari Kambing Senduro dan Domba Unggulan

Rabu, 19 Agu 2026 15:12 WIB

Rabu, 19 Agu 2026 15:12 WIB

SURABAYAPAGI.com, Lumajang - Melalui kontes ternak yang disiapkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang, pihaknya mulai gencar mencari Kambing Senduro dan…

Sumur Warga Mengering, 25 Desa di Trenggalek Alami Krisis Air Bersih

Sumur Warga Mengering, 25 Desa di Trenggalek Alami Krisis Air Bersih

Rabu, 19 Agu 2026 14:57 WIB

Rabu, 19 Agu 2026 14:57 WIB

SURABAYAPAGI.com, Trenggalek - Selama musim kemarau saat ini, BPBD Kabupaten Trenggalek mencatat terdapat 25 desa di 10 kecamatan yang mengalami kekurangan air…

Pastikan Layak Digunakan Masyarakat, Diperta Probolinggo Awasi Peredaran Obat Hewan

Pastikan Layak Digunakan Masyarakat, Diperta Probolinggo Awasi Peredaran Obat Hewan

Rabu, 19 Agu 2026 14:53 WIB

Rabu, 19 Agu 2026 14:53 WIB

SURABAYAPAGI.com, Probolinggo - Guna memastikan obat hewan yang beredar di masyarakat memenuhi ketentuan dan masih layak digunakan, Dinas Peternakan Provinsi…

Dukung Swasembada Pangan, Diperta Probolinggo Gencarkan Gerakan Tanam Padi

Dukung Swasembada Pangan, Diperta Probolinggo Gencarkan Gerakan Tanam Padi

Rabu, 19 Agu 2026 14:47 WIB

Rabu, 19 Agu 2026 14:47 WIB

SURABAYAPAGI.com, Probolinggo - Sebagai upaya meningkatkan luas tanam, produktivitas pertanian, sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah, Dinas Pertanian…

Pemkab Sidoarjo Anggarkan Rp26 Miliar per Tahun untuk Insentif 6 Ribu Guru Ngaji

Pemkab Sidoarjo Anggarkan Rp26 Miliar per Tahun untuk Insentif 6 Ribu Guru Ngaji

Rabu, 19 Agu 2026 14:05 WIB

Rabu, 19 Agu 2026 14:05 WIB

SURABAYAPAGI.com, Sidoarjo - Sebagai bentuk perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo terhadap para guru ngaji, pihaknya akan menyiapkan insentif bagi…

Masa Tanam Ketiga: 156 Waduk di Gresik Mengering, Petani Mulai Gelisah Kebutuhan Pasokan Air

Masa Tanam Ketiga: 156 Waduk di Gresik Mengering, Petani Mulai Gelisah Kebutuhan Pasokan Air

Rabu, 19 Agu 2026 13:53 WIB

Rabu, 19 Agu 2026 13:53 WIB

SURABAYAPAGI.com, Gresik - Selama musim kemarau, Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Gresik mencatat sebanyak 156 waduk dan 115 daerah irigasi mulai…