SURABAYAPAGI, Surabaya - DPP PDI Perjuangan tidak mau tergesa-gesa menentukan calon presiden yang diusung dalam Pilpers 2024, setelah Partai Nasdem mendeklarasikan Anies Baswedan.
Saya menilai, saat ini PDIP memainkan peran wait and see terkait siapa saja bakal calon presiden yang dimunculkan di publik dan hasil survei.
Menurut saya jika bakal calon yang muncul ini tidak kuat secara elektoral, tentu memberi keleluasaan PDIP untuk memilih capresnya.
Sebaliknya jika parpol lain mengusung calon yang punya elektoral cukup kuat, maka PDIP akan merespons dengan optimal.
Kalau bakal capres yang diusung partai lain menarik perhatian pemilih, PDIP mau tidak mau memakai kartu elektabilitas untuk menentukan siapa yang bakal diusung. Kalau tidak terlalu kuat mungkin ada hak istimewa ketum PDIP memilih calon yang diusung.
Sikap menunggu dan mencermati ini juga dilandasi PDIP yang sudah memenuhi syarat ambang batas pencalonan presiden atau presidential threshold. Selain itu waktu pendaftaran capres-cawapres juga masih panjang, yakni Oktober 2023.
Menurut saya hingga saat ini belum ada partai politik yang memiliki syarat presidential threshold mendeklarasikan capres yang diusung.
Jangan lupa Anies Baswedan itu baru diusung Nasdem, belum cukup memenuhi syarat presidential threshold. Artinya per hari ini belum ada calon yang diusung partai memenuhi syarat dan ditetapkan KPU. Penetapan (capres-cawapres) itu Oktober 2023.
Jadi sebenarnya masih panjang waktu untuk Ibu Megawati, maupun parpol lain untuk menentukan siapa calon yang diusung. Ini yang ditunggu, bukan hanya apakah PDIP mengeluarkan kartu truf tapi juga partai lain.
(Lewat keterangannya di program Kompas Malam KOMPAS TV, Sabtu (08 Oktober 2022).
Editor : Mariana Setiawati