Dua Hearing, Sengketa Lahan Fasum di Jalan Tambakwedi Baru Masih Temui Jalan Buntu

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Anggota Komisi C DPRD Kota Surabaya, Buchori Imron. SP/ALQ
Anggota Komisi C DPRD Kota Surabaya, Buchori Imron. SP/ALQ

i

SURABAYAPAGI, Surabaya - Meskipun sudah dua kala dihearingkan di Komisi C DPRD Kota Surabaya Sengketa lahan fasum berupa jalan yang terletak di Jalan Tambakwedi Baru yang diklaim oleh warga sebagai tanah pribadi dengan Pemkot Surabaya masih menemui jalan buntu. 

Anggota Komisi C DPRD Kota Surabaya, Buchori Imron mengatakan, Komisi C akan menggelar hearing lagi untuk mencarikan solusi terbaik guna menyelesaikan kasus ini.“Ya, ini kan serba salah. Warga merasa punya hak karena memiliki sertifikat dan berkeyakinan kalau letaknya memang di situ,”ungkapnya. 
 
Buchori mengatakan, warga yang bernama H Ichwan itu mendapatkan lahan tersebut melalui lelang. Kalau dilelang, itu artinya sudah pernah dijadikan jaminan di bank. Dan bank sendiri, lanjut dia, sebelum menerima pasti sudah melalui penelitian. Tidak mungkin bank menerima sertifikat itu tanpa tahu asal usul tanah dan kelegalan surat dari lahan tersebut. 
 
Lebih jauh, Buchori menjelaskan, lahan tersebut dibeli masyarakat dan bersertifikat. Tentu adanya sertifikat itu melibatkan BPN. Sementara BPN mengeluarkan sertifikat itu tentu merasa yang disertifikatkan itu sesuai petunjuk. Jadi tidak mungkin BPN sembarangan mengeluarkan sertifikat tanah. 
 
” Kemudian tanah itu dilelang dan kemudian dibeli H Ichwan. Karena merasa lahan itu miliknya karena sudah dibeli dari hasil lelang, beberapa tahun kemudian ia akan membangun rumah dan menutup jalan di Tambakwedi Baru,”tutur dia. 
 
Setelah lahan yang jadi akses Jalan Tambakwedi Baru ini ditutup, tentu menjadi masalah bagi Pemkot Surabaya dan masyarakat sekitar, khususnya sekitar Tambakwedi Baru. Karena di situ ada puskesmas, sekolahan, pasar dan lain-lain.
Dan yang ditutup itu sudah menjadi jalan umum. 
 
Mantan Ketua DPC PPP Surabaya ini menjelaskan, ternyata jalan Tambakwedi Baru itu seperti disampaikan Bagian Hukum Pemkot Surabaya sudah tercatat dalam Sistem Informasi Manajemen Barang dan Aset Daerah (SIMBADA). Artinya, jalan itu jadi aset Pemkot Surabaya. 
 
“Karena jalan itu sudah ditutup bertahun-tahun, akhirnya masyarakat banyak yang mengeluh ke Komisi C, dan berharap bagaimana agar jalan itu tak ditutup lagi, ” tandas dia. 
 
Meski begitu, lanjut dia, H Ichwan sebagai pemilik lahan itu juga berhak menutup jalan tersebut. Kalau harus dibuka, ya harus dibeli Pemkot Surabaya. 
 
Tapi persoalannya, jalan itu sudah tercatat di SIMBADA, otomatis Pemkot Surabaya tak bisa membayar seenaknya. Kalau belum masuk SIMBADA masih memungkinkan dibeli pemkot. 
 
“Kita sudah hearingkan dua kali, tapi masih buntu. Namun Komisi C tetap akan mencarikan solusi. Karena bagaimanapun masyarakat yang jadi korban. Pengguna jalan dan pemilik juga jadi korban,”tegas dia. 
 
Komisi C, lanjut dia, tetap akan berupaya membantu mencarikan solusi yang secara hukum masih dibenarkan, tapi tidak terjadi persoalan. Sehingga masyarakat tidak jadi korban dan pemilik lahan tidak keberatan untuk membuka jalan tersebut. 
 
” Ya, ternyata belum ada solusi. Karena pemkot tak berani mengeluarkan anggaran. “Karena itu, Komisi C akan mengundang Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Surabaya, BPN, Perbankan, dan pemilik lahan untuk hearing. Karena permasalahan ini belum tuntas,” beber Buchori. 
 
Lebih jauh, dia mengungkapkan, kabarnya pemilik lahan itu sudah pernah dipanggil Polrestabes Surabaya dan Polda Jatim. Kalau memang begitu, Komisi C akan menanyakan hasil dipanggil itu apa? “Kabarnya sudah dilakukan pengukuran dan lain- lain. Makanya, ini kita hearingkan agar semuanya biar jelas,”kata Buchori. Alq

Berita Terbaru

2 Hektar Hutan Perhutani di Sampung Ponorogo Terbakar, Diduga Sengaja Dibakar OTB

2 Hektar Hutan Perhutani di Sampung Ponorogo Terbakar, Diduga Sengaja Dibakar OTB

Selasa, 21 Jul 2026 21:18 WIB

Selasa, 21 Jul 2026 21:18 WIB

SURABAYA PAGI, Ponorogo- Kebakaran hutan melanda kawasan perhutani di Petak 62 RPH Ngangsiran, BKPH Sampung, KPH Madiun, yang masuk dalam wilayah Kecamatan…

Sensus Ekonomi Ponorogo Capai 58,62 Persen, BPS Beber Faktor Penghambat 

Sensus Ekonomi Ponorogo Capai 58,62 Persen, BPS Beber Faktor Penghambat 

Selasa, 21 Jul 2026 21:10 WIB

Selasa, 21 Jul 2026 21:10 WIB

SURABAYA PAGI, Ponorogo- Pelaksanaan Sensus Ekonomi (SE) 2026 di Kabupaten Ponorogo menunjukkan progres positif. Berdasarkan data Aplikasi FASIH Pendataan SE…

BEM Nusantara Jatim Kirim Karangan Bunga ke Kejati, Protes Penanganan Kasus Eks Jampidsus

BEM Nusantara Jatim Kirim Karangan Bunga ke Kejati, Protes Penanganan Kasus Eks Jampidsus

Selasa, 21 Jul 2026 20:06 WIB

Selasa, 21 Jul 2026 20:06 WIB

‎ ‎SURABAYAPAGI.COM, Surabaya – BEM Nusantara Jawa Timur mengirim karangan bunga ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur, Selasa (21/7/2026), sebagai aksi simb…

Persidangan Ungkap PT JPC Tidak Miliki Perjanjian Kontraktual Langsung Dengan Pemilik Lahan  ‎

Persidangan Ungkap PT JPC Tidak Miliki Perjanjian Kontraktual Langsung Dengan Pemilik Lahan ‎

Selasa, 21 Jul 2026 20:03 WIB

Selasa, 21 Jul 2026 20:03 WIB

‎SURABAYAPAGI.COM, Madiun – Sidang gugatan perdata sengketa pengelolaan lahan parkir yang melibatkan PT Jatim Parkir Center (JPC) kembali bergulir di Pen…

Kuasa Hukum Minta Sugiri Bebas Murni

Kuasa Hukum Minta Sugiri Bebas Murni

Selasa, 21 Jul 2026 16:31 WIB

Selasa, 21 Jul 2026 16:31 WIB

SURABAYA PAGI, Surabaya– Tim Penasihat Hukum Bupati nonaktif Ponorogo Sugiri Sancoko angkat suara mengenai konstruksi dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi P…

Bupati Gus Barra Salurkan Insentif bagi 1.661 Kepsek dan Guru PAUD

Bupati Gus Barra Salurkan Insentif bagi 1.661 Kepsek dan Guru PAUD

Selasa, 21 Jul 2026 15:41 WIB

Selasa, 21 Jul 2026 15:41 WIB

SURABAYAPAGI.com, Mojokerto - Pemerintah Kabupaten Mojokerto mengucurkan bantuan insentif jasa pendidik tahun anggaran 2026 kepada 1.661 kepala sekolah dan…