ANALISA BERITA

Kembalikan Demokrasi ke Jalurnya, Partai Jangan Jadi ''Bus Kota''

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Deni Wicaksono, Anggota DPRD Jatim dan Politisi PDI Perjuangan
Deni Wicaksono, Anggota DPRD Jatim dan Politisi PDI Perjuangan

i

SURABAYAPAGI, Surabaya - Arah demokrasi di Indonesia harus dikembalikan ke jalannya. Bukan lagi persaingan liberal dan bebas antar calon legislator sesama partai dan antarpartai. Demokrasi harus dikembalikan ke jalannya sebagai media untuk memilih legislator atau wakil rakyat secara sehat yang bebas dari kompetisi brutal dan memunculkan dekadensi moral politik.

Sejak sistem pemilihan umum diubah menjadi proporsional terbuka, kita banyak melihat mudarat di sana-sini.

Pertama, munculnya kandidat-kandidat legislator yang tidak memiliki rekam jejak yang baik atau membangun karir politiknya dari sistem kaderisasi dan jenjang terbawah. Mereka datang dengan modal popularitas dan uang yang melimpah ke partai-partai yang tidak memiliki sistem penjenjangan kaderisasi yang baik.

Calon legislator seperti ini akan diterima dengan tangan terbuka oleh partai-partai tersebut dengan harapan bisa menjadi mesin suara. Tidak peduli bagaimana kapasitas dan kualitas mereka, asal punya uang dan bisa menangguk banyak suara, jadilah dia calon legislator. Bahkan mereka boleh memilih daerah pemilihan yang mereka sukai untuk berkompetisi tanpa memiliki rekam jejak dan tradisi. Partai hanya jadi kendaraan seperti ‘bus kota’ yang bisa mengangkut penumpang dari mana saja.

Alhasil, tidak ada kaderisasi di partai tersebut. Kaderisasi terhenti. Padahal Bung Karno pernah mengatakan, "Bahwa partai politik memiliki tanggung jawab untuk melakukan pendidikan politik kepada masyarakat." Apakah politik itu? Tentu saja ini sebuah ikhtiar bersama untuk berbicara dan berembuk mengenai hal-hal yang menyangkut kemaslahatan rakyat banyak. Ingat, menurut Undang-Undang, peserta Pemilu adalah partai politik.

 Kedua, selain menghancurkan substansi partai, sistem proporsional terbuka juga bertanggung jawab atas munculnya legislator yang tidak punya cukup pengalaman dan pengetahuan politik. Ini membuat kualitas pengambilan keputusan mereka tidak cukup bagus dan ini berdampak terhadap kehidupan masyarakat. Bukankah parlemen merupakan salah satu pilar demokrasi?

Ketiga, sistem proporsional terbuka membuat dekadensi moral pemilih. Politik uang merajalela. Setiap legislator ‘dipaksa’ mengeluarkan biaya besar untuk bisa terpilih. Kalau pun itu bukan untuk membeli suara, paling tidak itu untuk biaya konsolidasi besar-besaran yang idealnya bisa dilakukan kolektif atas nama partai. Gotong royong dalam satu partai tidak akan terjadi, tetapi kanibalismelah yg kerap rerjadi. Risikonya, jika terpilih mereka akan berusaha mengembalikan biaya itu dan di sinilah awal dari munculnya niat korupsi. Bahaya ini. Bahaya jika dibiarkan.

Keempat, sistem proprosional terbuka tak cocok untuk Indonesia yang memiliki banyak pemilih, mencapai 180 juta orang lebih. Ini membuat jangkauan para caleg terlalu luas dalam satu daerah pemilihan untuk merangkul konstituennya. Sistem ini mungkin baik untuk pemilih dengan jumlah sedikit dan dengan model distrik.

Jadi, sudah saatnya untuk mengembalikan demokrasi ke jalurnya dengan sistem proporsional tertutup. Mengembalikan martabat dan marwah partai, tak lagi hanya menjadi “bus kota”.

 (Lewat keterangannya, Minggu (08 Januari 2023)

Berita Terbaru

Penggeledahan Beruntun KPK di Madiun, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Disasar

Penggeledahan Beruntun KPK di Madiun, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Disasar

Kamis, 08 Okt 2026 18:13 WIB

Kamis, 08 Okt 2026 18:13 WIB

SURABAYAPAGI.com, Madiun – Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menggeledah lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Madiun, Kamis (8/10/2026). Kali i…

Pemkab Lumajang Gelontorkan Rp10 Miliar untuk Perbaiki Ruas Jalan Rowokangkung-Kalipepe

Pemkab Lumajang Gelontorkan Rp10 Miliar untuk Perbaiki Ruas Jalan Rowokangkung-Kalipepe

Kamis, 08 Okt 2026 15:30 WIB

Kamis, 08 Okt 2026 15:30 WIB

SURABAYAPAGI.com, Lumajang - Dalam rangka perbaikan ruas jalan Rowokangkung-Kalipepe sepanjang kurang lebih 6 kilometer, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang…

Rampung Dibangun, Operasional 252 KDKMP Ponorogo Masih Tunggu Verifikasi Lapangan

Rampung Dibangun, Operasional 252 KDKMP Ponorogo Masih Tunggu Verifikasi Lapangan

Kamis, 08 Okt 2026 15:15 WIB

Kamis, 08 Okt 2026 15:15 WIB

SURABAYAPAGI.com, Ponorogo - Meski sebanyak 252 dari 307 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Kabupaten Ponorogo, telah rampung dibangun, namun untuk…

Beri Kepastian Hukum, Pemkab Banyuwangi Tetapkan Perda Perlindungan Pekerja Migran

Beri Kepastian Hukum, Pemkab Banyuwangi Tetapkan Perda Perlindungan Pekerja Migran

Kamis, 08 Okt 2026 15:05 WIB

Kamis, 08 Okt 2026 15:05 WIB

SURABAYAPAGI.com, Banyuwangi - Guna menjamin perlindungan hukum, ekonomi, dan sosial bagi pekerja migran serta keluarganya, DPRD dan Pemerintah Kabupaten…

Kekeringan hingga Krisis Air Bersih, Warga di Jombang Rela Ambil Air Irigasi

Kekeringan hingga Krisis Air Bersih, Warga di Jombang Rela Ambil Air Irigasi

Kamis, 08 Okt 2026 14:58 WIB

Kamis, 08 Okt 2026 14:58 WIB

SURABAYAPAGI.com, Jombang - Melihat fenomena kekeringan di musim kemarau mengakibatkan pasokan air menipis bahkan hingga krisis air bersih, salah satunya yang…

Gegara Bakar Sampah Nyaris Picu Kebakaran di Permukiman Sidomulyo Batu

Gegara Bakar Sampah Nyaris Picu Kebakaran di Permukiman Sidomulyo Batu

Kamis, 08 Okt 2026 14:52 WIB

Kamis, 08 Okt 2026 14:52 WIB

SURABAYAPAGI.com, Batu - Lagi, insiden kebakaran hampir melanda kawasan padat permukiman Jalan Cemara Kipas, Desa Sidomulyo, Kecamatan Batu, Kota Batu. Kali…