SURABAYAPAGI, Surabaya - Kehadiran partai politik baru mewarnai iklim demokrasi di Indonesia. Hanya saja dia mempertanyakan identitas ideologi setiap partai. Terlebih kehadiran partai-partai tersebut berakar dari partai politik yang lama.
Saya menilai pecahan parpol lama memiliki ideologi yang tidak jauh berbeda. Dia mencontohkan Partai Ummat yang berisikan para petinggi Partai Amanat Nasional (PAN). Adapula Partai Gelora yang merupakan pecahan dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Jadi partai baru di Indonesia itu kebanyakan lahir karena baperan gitu, sakit hati tidak dapat jawaban, lempar-lemparan kursi di partai dan seterusnya. Jadi simpel sekali, partai-partai baru di Indonesia ini lahir.
Inilah yang membuat berdirinya parpol baru tak ubahnya parpol lama. Hanya saja hadir dengan kemasan yang berbeda dan baru. Saya yakin konstituen dan anggota parpol bukanlah sepenuhnya komposisi baru.
Kehadiran parpol-parpol baru, menurut saya hanya menjadi wadah. Terutama para anggota, pengurus, hingga konstituen yang kepentingan dan keinginannya tak tertampung di parpol lama. Sementara untuk ideologi cenderung identik dengan parpol yang lama.
Partai Ummat dengan PAN, kemudian Gelora dengan PKS, yang notabene konstituennya notabene dari pemilu ke pemilu trennya segitu-segitu aja.
Disatu sisi, ini menjadi momen parpol baru untuk menggaet konstituen. Tentunya dengan menawarkan sebuah pemikiran yang baru. Terutama agar dapat menampung keresahan para konstituen hingga anggotanya.
Jadi kalau ada partai baru yang ideologinya sama tapi konstituennya tidak nambah nah itu kan berarti pertarungnnya sebenarnya internal di antara mereka sendiri.
Pernyataannya ini bukan sekadar opini belaka. Karena menurut hasil studi kasus tentang iklim demokrasi di Indonesia. Khususnya karakteristik pemilih dan konstituen parpol dalam setiap penyelenggaran Pemilu.
Salah satu hasilnya adalah minat berpindah ideologi. Studi, membuktikan konstituen cenderung bertahan dengan ideologi yang sama. Sementara untuk parpol akan berpindah dengan ideologi yang tak jauh berbeda.
Jarang sekali yang dari pendukung partai nasionalis ke partai agama atau sebaliknya. Biasanya muternya ya pada partai-partai nasionalis. Jadi kalau enggak milih Gerindra ya PDIP atau sebaliknya. Kalau enggak milih PKB ya PPP. Jadi muter di situ aja.
Terkait Pemilu 2024, saya meyakini tak jauh berbeda. Terlebih parpol yang lolos telah ditentukan oleh KPU. Sehingga setidaknya peta konstituen masing – masing parpol telah sedikit terbaca.
Nah polanya sejauh ini seperti itu, tapi kita kan enggak tahu untuk 2024 tapi berdasarkan pola ya kira-kira akan seperti itu.
(Lewat keterangannya di UGM Jogjakarta, Kamis (12 Januari 2023).
Editor : Mariana Setiawati