Analisis Politik

Partai Demokrat, "Digoda" Airlangga dan Cak Imin

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
H. Raditya M. Khadaffi
H. Raditya M. Khadaffi

i

SURABAYAPAGI.COM. Surabaya - Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, usai bertemu dengan Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto, menyambangi Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), di Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat, pada Rabu (3/5/2023).

Ini belum satu minggu, Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono alias SBY menerima kunjungan Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto dan Cak Imin. Kedua pertemuan dilakukan kediaman SBY di kawasan Cikeas, Jawa Barat. Bukan di rumah AHY, Ketua Umum Partai Demokrat. Dan juga bukan di kantor DPP Partai Demokrat. Isyarat apa?

Saya menduga, SBY, AHY dan Partai Demokrat digoda koalisi pendukung Jokowi. Maka itu, akal sehat saya bilang sah-sah saya pernyataan Juru Bicara DPP Partai Demokrat Herzaky Mahendra Putra, yang menyebut 'persamuhan' itu dalam rangka silaturahmi kebangsaan. Hehehe, apa iya?

 

***

 

Saya lebih suka menyebut "digoda" ketimbang disambangi, tentu menggunakan akal sehat. Dan bukan akal pokrol. Why? Saya dan harian Surabaya Pagi yang saya pimpin, bukan partisan. Saya dan media rintisan ayah saya, wartawan senior, H.Tatang Istiawan, benar-benar independen.

Independensi saya ada ketikdaktergantungan pada parpol. Jujur, ketergantungan saya pada pemasang iklan. Jadi secara substantif, saya dan harian Surabaya Pagi memilih netralitas menghadapi tarik menarik di tahun politik saat ini.

Sebagai generasi kedua koran "yang diilhami" semangat pengusaha koran kekuarga tokoh Pers pendiri Surabaya Post, almarhum Bapak A. Azis dan almarhumah Ibu Toety Azis, saya ngugemi surat edaran Dewan Pers.

Dewan Pers berpesan, insan Pers Indonesia tidak terjebak pada keberpihakan yang akan meruntuhkan kebebasan Pers itu sendiri.

Itu makna pers harus independen, tidak memihak. Pers harus menjadi penjaga atau pengawas melalui fungsinya sebagai sosial kontrol.

 

***

 

Saya lebih suka menggunakan istilah "digoda", ada sejumlah pertimbangan. Pertama, baik Airlangga maupun Muhaimin Iskandar, politisi seangkatan SBY. Kedua, jangankan AHY, yang kini sudah "dinaikan" ayahnya memimpin sebuah parpol yang asal usulnya masih debat tebel. Gus Dur, tokoh NU yang Ketua Umum PKB saja bisa dipiting, sehingga jabatannya ditake over Cak Imin. Publik tahu, siapa Cak Imin? Ia murid dan keponakan Gus Dur.

Ketiga, Airlanggga Hartarto, memimpin parpol yang mayoritas elitenya senior semua jago menggoyang. Bisa jadi, Airlangga diutus untuk menjajaki kekuatan Partai Demokrat sekarang masih di SBY atau betul betul didelegasikan ke AHY, secara profesional atau masih disusui. Maklum, partai berlambang mercy ini parpol dinasti.

Keempat, ingin mengkorek kompetensi AHY, dalam berpolitik praktis. Benarkah AHY itu politisi pragmatis kayak ayahnya atau masih politisi pembelajar.

Kelima, menyambangi untuk mengorek siapa yang punya otoritas menentukan koalisi perubahan ini, SBY atau AHY. Mengingat era SBY, banyaknya kader partai binaan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu terjerat kasus korupsi, kok kini getol mau mengubah peta politik kebangsaan Indonesia yang lebih maju.

Keenam, menengok sendiri apakah SBY, benar-benar sudah dalam posisi mandito ratu, seperti yang dinyatakan AHY.

Ketujuh, mengukur pernyataan AHY yang menyebut posisi ayahnya yang telah mandito dan tugas politik sehari-hari ia lakukan dengan generasi yang lebih muda. Sedangkan, aktivitas SBY saat ini lebih banyak untuk melukis. Ini perlu SBY adalah orang jawa, yang punya mondolan di belakang blangkonnya. Mondolan itu sering dianalogikan "menyimpan dendam".

Kedelapan, bisa saja Cak Imin dan Airlangga "merekam dan mengintip" pernyataan politisi muda Demokrat seusia AHY dan Ibas, masih politisi "teks book" atau sudah menjadi politisi bunglon:

Kesembilan, saat masih menjadi salah satu menteri lingkaran satu presiden Megawati, SBY, saya yang mengikuti isu politik nasional, ingat SBY dian alogikan ikuti adagium masyhur politik, “tidak ada teman dan kawan yang abadi dalam politik, yang abadi hanyalah kepentingan”.

Nah, berdasarkan sembilan pon catatan saya, bisa terjadi last minute, SBY "Bos" AHY akan ambil keputusan netral tak ikut pilpres 2024, seperti pilpres 2014. Bila ini terjadi, Anies Baswedan, tak bisa mendaftar ke KPU sebagai capres partai NasDem.

 

***

 

Saya memaknai pertemuan di rumah SBY, ini ada "godaan" dari dua politisi senior ini, karena dulu SBY pernah "bohongi" Megawati. Kini, politisi gaek ini ganti "goda" AHY dengan jargon jargon politik pragmatis, bunglon dan oportunis. Bahasa batak gaulnya, kutipu kau?...hahaha!

Maklum, baik Airlangga maupun Cak Imin, suka mengumbar janji saat berkampanye. Ini fakta yang sudah jadi fenomena umum kebanyakan oknum politikus.

Saya pernah membaca tulisan Profesor Psikologi Kognitif Ullrich Ecker dan Postdoctoral Research Associate Toby Prike di buku "The Conversation berjudul We know politicians lie - but do we care?.

Dalam tulisannya itu, kedua pakar ini menilai berbohong adalah perbuatan sehari-hari. Mengutip dari studi di Massachusetts Institute of Technology (MIT), rata-rata seseorang berbohong sebanyak dua kali dalam satu hari.

Bahkan menurut Ecker dan Prike, orang yang terlalu jujur biasanya menempatkan diri dalam situasi yang canggung. Nah. Ini hasil studi.

Maka dari itu, sebagian besar kebohongan tidak berdampak besar dan berfungsi hanya untuk menghindari kecanggungan, membantu orang membuat kesan yang baik, atau membuat orang lain merasa senang.

Dan pada kasus politikus, peneliti ini menyebut kebohongan digunakan untuk "membangun keyakinan palsu dan mengumpulkan dukungan".

"Informasi palsu dapat memengaruhi pemikiran orang bahkan setelah mereka menyadari bahwa informasi tersebut salah," kata peneliti.

Senada, Robert Feldman, psikolog dari University of Massachusetts, menilai manusia sudah punya kemampuan alami untuk berbohong.

Ia mengklaim manusia dilatih untuk menipu. "Jika kita tidak, jika kita benar-benar selalu jujur setiap waktu itu bukan hal bagus. Akan ada hal yang ditanggung untuk itu," kata dia.

Pertanyaan, siapa diantara Airlangga, Cak Imin, AHY dan SBY, melakukan kebohongan untuk "membangun keyakinan palsu dan mengumpulkan dukungan". Subhanallah. ([email protected])

Berita Terbaru

PSI Siap Mati-matian Ikuti Jokowi

PSI Siap Mati-matian Ikuti Jokowi

Selasa, 03 Feb 2026 19:07 WIB

Selasa, 03 Feb 2026 19:07 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) siap berjuang mati-matian. Menurutnya pernyataan Jokowi itu menjadi dorongan moral dan militansi…

Setelah Lengser dari KSP, Moeldoko Mengeluh

Setelah Lengser dari KSP, Moeldoko Mengeluh

Selasa, 03 Feb 2026 19:06 WIB

Selasa, 03 Feb 2026 19:06 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Setelah tak jabat Kepala Staf Kepresidenan (KSP) dan kini jadi Ketua Umum Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia…

Gus Ipul-Gus Yahya, ke Istana Bareng

Gus Ipul-Gus Yahya, ke Istana Bareng

Selasa, 03 Feb 2026 19:02 WIB

Selasa, 03 Feb 2026 19:02 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto mengundang organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam pada Selasa (3/2) siang. Apa yang akan…

Komnas Anak Ingatkan Konflik Terekspos di Media Berdampak Buruk

Komnas Anak Ingatkan Konflik Terekspos di Media Berdampak Buruk

Selasa, 03 Feb 2026 18:59 WIB

Selasa, 03 Feb 2026 18:59 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Komnas Anak berharap kasus ini tidak berlarut-larut. Sebab, konflik yang terus menerus terekspos di media dikhawatirkan akan…

Kisah Anak-Cucu Almarhum Emilia Contesa : Denada Nangis, Ressa Siap Islah

Kisah Anak-Cucu Almarhum Emilia Contesa : Denada Nangis, Ressa Siap Islah

Selasa, 03 Feb 2026 18:56 WIB

Selasa, 03 Feb 2026 18:56 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Drama perseteruan antara pihak Ressa dan Denada memasuki babak baru yang makin panas. Tak main-main, Dino Rossano Hansa selaku Om…

PT Sekar Pamenang Laporkan PT MSS ke Polres Kediri

PT Sekar Pamenang Laporkan PT MSS ke Polres Kediri

Selasa, 03 Feb 2026 18:06 WIB

Selasa, 03 Feb 2026 18:06 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Kediri - Diduga merusak rumah kunci bangunan Marketing Galeri, PT Sekar Pamenang (SP) melaporkan PT Matahari Sedjakti Sejahtera (MSS),…