SURABAYAPAGI.com, Afrika - Zangbeto merupakan penjaga voodoo tradisional malam yang kental dengan budaya di Afrika sekaligus yang paling ditakuti di sana. Saking besarnya kepercayaan terhadap Zangbeto, ada Festival Voodoo yang diselenggarakan setiap tahunnya. Festival Voodoo Zangbeto bahkan didukung oleh pemerintah, terlihat dari pejabat senior yang ikut menghadirinya.
Menurut legenda, Zangbeto pertama kali ditemukan oleh pangeran-pangeran dari Adja Tado (Republik Togo) ketika bermigrasi ke arah timur.
Zangbeto dipercaya hadir dalam sebuah boneka berupa tumpukan jerami/rafia, membuatnya dapat bergerak ke sana ke mari dengan klaim tanpa ada orang di dalamnya. Disebut-sebut, masyarakat Afrika khususnya orang Ugo atau Egun, Benin, Togo dan Nigeria, menganggap Zangbeto bisa berperan jauh lebih kuat ketimbang polisi.
"Sebagai polisi tradisional dan pengadilan masyarakat, Zangbeto menangani sejumlah kasus contohnya pencurian," kata Seton Idowu kepada National Post, seorang warga yang mempercayai kekuatan spiritual Zangbeto, Minggu (11/06/2023).
"Semua orang takut dengan Zangbeto dan kamu bisa mendapatkan masalah jika melanggar aturan," lanjutnya.
Menurut Idowu, banyak orang yang melibatkan Zangbeto ketika masalah hukum mereka tidak dapat diselesaikan oleh polisi. Bahkan, sejumlah warga mendorong agar para pejabat bersumpah atas nama dewa-dewa (termasuk Zangebeto). Sebab, warga meyakini hukuman bisa langsung mengenai mereka yang melanggar contohnya lewat sambaran petir instan.
"Mereka pasti bakal berpikir dua kali sebelum mencuri uang rakyat," ujar Idowu.
Kebudayaan adat yang kental tentang Zangbeto di Afrika tersebut hampir sama dengan tradisi 'Bambu Gila' dari Indonesia. Bambu gila merupakan permainan rakyat Maluku yang memerlukan tujuh orang dan satu pawang yang merapalkan mantra. Setelah itu, bambu pun akan bergerak semakin cepat, dipercaya karena kekuatan roh yang mengisinya.
Kini Zangbeto tengah viral di media sosial seperti Twitter dan Instagram, ada banyak video soal pertunjukan Zangbeto yang beredar dan dibagikan para netizen dalam sebuah pertunjukan umum di tengah masyarakat yang berselimut mistis, dsy
Editor : Desy Ayu