Dalam suatu pengajian, ada pejabat di Gresik, bertanya kepada seorang Ustad. "Pak Ustad, bagaimana caranya, agar doa saya bisa dikabulkan Allah?" tanyanya.
"Banyak syaratnya", kata Ustad. Pertama, menjalankan salat wajib tepat waktu. Kedua, Istikamah dalam bersedekah. Ketiga, berbakti kepada kedua orang tua. Keempat, suka nempermudah urusan orang lain. Kelima, senantiasa menjaga hati supaya tidak lalai saat berdoa.
Ustad ini mengatakan Allah SWT menurunkan surah Ghafir ayat 60, bahwa Dia akan mengijabah doa para hambanya:
"Tuhanmu berfirman, "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina."
Walau melalui firman tersebut Allah SWT berjanji akan mengabulkan doa hambanya, dalam banyak kejadian, ada saja perkara yang membuat doa segera terkabul, ada yang tertunda atau bahkan tertolak.
Bakr bin Abdullah Abu Zaid dalam bukunya "Tashhih Ad-Du'a" menyebut beberapa hal yang menghambat diijabahnya doa, di antaranya: Doa yang dipanjatkan lemah dalam dirinya karena mengandung unsur pelanggaran atau melampaui batas.
Hatinya lemah dalam menghadap Allah SWT. Juga terdapat sesuatu yang menahan doa terkabul, seperti melanggar hal yang diharamkan oleh-Nya.
Termasuk berdoa secara tergesa-gesa dan merasa lelah sehingga tidak lagi doa. Juga sebab Dikabulkannya Doa,
Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr lewat Kitab "Fiqih Doa & Dzikir Jilid 1" melampirkan hadits yang menerangkan adab berdoa, termasuk sebab penghalangnya doa hingga sebab dikabulkannya doa. Hadits ini diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah.
Abu Hurairah berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah baik dan tidak menerima kecuali yang baik, sungguh Allah memerintahkan orang-orang beriman seperti apa yang Dia perintahkan kepada para utusan."
Allah SWT juga berfirman, "Wahai sekalian Rasul, makanlah yang baik-baik dan kerjakanlah amal-amal sholeh, sungguh Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al-Mu'minun: 51)' juga ada firman-Nya, 'Wahai orang-orang beriman, makanlah yang baik-baik dari apa yang dianugerahkan kepada kamu, dan bersyukurlah kepada Allah, jika kamu benar- benar hanya kepada-Nya menyembah. (QS Al-Baqarah: 172)'.
Kemudian beliau menyebutkan tentang seorang laki-laki yang lama melakukan safar (perjalanan jauh), rambutnya kusut, dan badannya berdebu, dia menjulurkan kedua tangannya ke langit, "wahai Rabb... wahai Rabb ...." sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dibesarkan dengan haram, maka bagaimana dikabulkan karena hal itu." (HR Muslim dalam Shahih-nya)
Berdasarkan hadits di atas, Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW mengungkap empat sebab dikabulkannya doa, di antaranya:
Perjalanan Jauh (Safar)
Dijelaskan, semakin lama safar maka semakin dekat kepada terkabulnya doa. Mengapa begitu? Saat bepergian jauh, hati dan jiwa orang yang safar menjadi luluh karena mengalami banyak kesulitan dan merasa terasing dari kampung sendiri. Demikian juga orang yang hatinya telah luluh, menjadi faktor utama doanya diijabahiNya.
Dalam salah satu riwayat, Rasulullah SAW pernah bersabda, "Tiga doa yang akan dikabulkan dengan tidak ada keraguan lagi: Doa orang yang terzalimi, doa orang yang bepergian, dan doa orang tua untuk anaknya." (HR Abu Dawud, Ibnu Majah, dan At-Tirmidzi dari Abu Hurairah RA)
Bersikap Tawadhu
Dengan menunjukkan sikap rendah hati (tawadhu), tidak sombong, menghinakan diri dan berserah di hadapan Allah SWT, itulah sebab pengabulan doa. Sebagaimana Ibnu Abbas mengatakan Rasul SAW mengenakan pakaian lusuh, merendah ketika melaksanakan salat Istisqa (memohon hujan). (HR Abu Dawud)
Mengangkat Kedua Tangan. Menjulurkan kedua tangan ke langit termasuk adab dalam berdoa yang dengannya diharapkan doa akan terkabul.
Dari Salman Al-Farisi, Nabi SAW bersabda, "Sungguh Allah Maha Pemalu lagi Maha Pemurah, Dia malu terhadap hamba-Nya yang apabila mengangkat kedua tangan, lalu mengembalikan keduanya dalam keadaan hampa dan kekecewaan." (HR Abu Dawud dan Tirmidzi) Memelas kepada Allah SWT
Memelas disini dengan mengulang penyebutan rububiyah-Nya, seperti 'Ya Rabb'. Diriwayatkan Atha bahwa ia berkata, "Tidaklah seorang hamba mengucapkan 'Ya Rabb... Ya Rabb... Ya Rabb...' sebanyak tiga kali, melainkan Allah SWT melihat kepada-Nya." Lalu hal itu disebutkan kepada Al-Hasan, meka beliau berkata, "Tidakkah kalian membaca Al-Qur'an?" Kemudian beliau membaca firman surah Ali Imran ayat 191-195.
Inilah mengapa banyak doa dalam Al-Qur'an yang diawali dengan nama 'Rabb', lantaran menjadi sebab terbesar yang diharapkan pengabulan doa dengannya.
Keempat sebab dikabulkannya doa dalam hadits nabi tersebut turut dijelaskan dalam Kitab Al-Wafi karya Musthafa Al-Bugha dan Muhyiddin Mistu.
Waktu yang mustajab untuk berdoa berikutnya adalah pada sepertiga malam terakhir. Secara umum di waktu tersebut orang-orang biasanya sedang nyenyak tidur. Bahkan malas untuk bangun di tengah malam. Namun, di waktu itulah sebenarnya menjadi waktu yang mustajab untuk berdoa. Hal ini sebagaimana sabda Nabi saw:
"Rabb kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang akhir pada setiap malamnya. Kemudian berfirman: ‘Orang yang berdoa kepada-Ku akan Ku kabulkan, orang yang meminta sesuatu kepada-Ku akan Kuberikan, orang yang meminta ampunan dari-Ku akan Kuampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Sujud dalam Sholat
Waktu mustajab untuk berdoa yang terakhir adalah saat sujud dalam sholat. Sujud menjadi bentuk kepasrahan seorang hamba kepada Allah SWT. Jadi, saat sedang sujud hendaknya tidak melewatkan untuk banyak berdoa. ([email protected])
Oleh: Hj Lordna Putri
Editor : Moch Ilham